Stadion Patriot Level-Up, Warga: Asal Kami Jangan Cuma Jadi Tukang Parkir Saja. Biarkan UMKM Hidup di Sekitarnya
jabar-online.com | Kamis, 16 Juli 2026, 11:39 WIB | NDOET/DR
— KOTA BEKASI | Stadion Patriot Candrabhaga tampaknya tidak mau selamanya hanya menjadi tempat warga Kota Bekasi berteriak, “Wasit, lihat VAR!” lalu pulang dengan suara serak dan parkir yang bikin dompet ikut melakukan pemanasan.
Walikota Bekasi Tri Adhianto sedang menyiapkan warisan pembangunan untuk 20 hingga 30 tahun ke depan. Stadion Patriot Candrabhaga ditargetkan menjadi pusat sport city, sport tourism, konser, festival, pameran, hingga berbagai event internasional. Warga Kota Bekasi pun tidak keberatan. Bahkan sangat mendukung.
— KOTA BEKASI | Stadion Patriot Candrabhaga tampaknya tidak mau selamanya hanya menjadi tempat warga Kota Bekasi berteriak, “Wasit, lihat VAR!” lalu pulang dengan suara serak dan parkir yang bikin dompet ikut melakukan pemanasan.Walikota Bekasi, Tri Adhianto, kini membidik target yang lebih tinggi. Stadion kebanggaan Kota Bekasi itu diproyeksikan mampu bersaing dengan stadion-stadion besar di Indonesia melalui konsep sport tourism dan pengembangan kawasan sport city.
Artinya, Stadion Patriot tidak lagi diharapkan hanya hidup ketika ada pertandingan sepak bola. Di luar jadwal pertandingan, stadion juga ditargetkan bisa menjadi tempat konser, festival, pameran, kegiatan olahraga, event nasional hingga internasional.
Dengan kata lain, stadion jangan sampai hanya ramai ketika sebelas orang mengejar satu bola. Setelah pertandingan selesai, stadion kembali sunyi seperti grup WhatsApp warga ketika ditanya siapa yang mau ikut rapat.
Walikota Bekasi Tri Adhianto mengatakan, sudah saatnya cara pandang terhadap stadion diubah. Stadion, menurutnya, harus dikelola secara profesional agar dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Kami ingin Stadion Patriot menjadi rumah bagi pertandingan olahraga, konser musik internasional, festival, pameran, hingga berbagai event berskala nasional dan internasional. Stadion sebesar ini harus mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, bukan hanya ramai saat pertandingan sepak bola,” ujar Tri Adhianto, Kamis (16/7/2026).
Rencana tersebut tentu saja berpotensi membuat warga Kota Bekasi tersenyum. Sebab, kalau ribuan orang datang ke Kota Bekasi untuk menonton pertandingan atau konser, maka yang ikut menikmati bukan hanya stadion.
Hotel bisa penuh.
Restoran bisa ramai.
UMKM bisa mendapatkan pelanggan.
Transportasi bergerak.
Pedagang kaki lima—tentu dengan penataan yang manusiawi—bisa ikut merasakan perputaran ekonomi.
Dan yang paling penting, warga Bekasi tidak hanya menjadi penonton pembangunan di kotanya sendiri.
Namun, sebagaimana biasanya, warga Kota Bekasi juga memiliki satu permintaan sederhana: boleh stadion dibuat berkelas dunia, tetapi jangan sampai warga lokal hanya kebagian macet, sampah, dan suara konser dari kejauhan.
Warga tentu mendukung Stadion Patriot naik kelas. Bahkan kalau bisa, naik kelasnya jangan tanggung-tanggung. Dari stadion nasional menjadi stadion internasional. Dari tempat pertandingan menjadi pusat ekonomi. Dari aset daerah menjadi mesin penggerak kesejahteraan warga.
Tetapi, warga juga berharap konsep sport city benar-benar menjadi sport city untuk Kota Bekasi, bukan sekadar kota olahraga yang berdiri di Bekasi tetapi manfaat utamanya justru lebih banyak dirasakan pihak lain.
Tri menjelaskan, Pemerintah Kota Bekasi tengah menyiapkan pengelolaan Stadion Patriot secara profesional melalui kerja sama dengan pihak ketiga yang berpengalaman mengelola venue bertaraf internasional.
Tujuannya, kalender kegiatan di Stadion Patriot dapat berlangsung sepanjang tahun.
Jadi, stadion tidak lagi mengenal istilah “musim ramai” dan “musim sepi”. Kalau bulan ini ada pertandingan, bulan depan konser. Setelah itu festival. Kemudian pameran. Lalu kejuaraan olahraga.
Yang penting, jangan sampai kalendernya penuh, tetapi warga yang tinggal di sekitar stadion justru mendapat kalender baru berisi jadwal kemacetan.
Menurut Tri, Stadion Patriot akan menjadi pusat pengembangan kawasan sport city yang terintegrasi dengan berbagai fasilitas olahraga lainnya, termasuk GOR Bang Yan dan venue bertaraf internasional lainnya.
Dengan ekosistem tersebut, Kota Bekasi diharapkan mampu menjadi tuan rumah berbagai kejuaraan olahraga maupun event dunia.
Ketika ribuan orang datang, kata Tri, dampaknya akan terasa ke berbagai sektor.
“Ketika ribuan orang datang menghadiri sebuah event, bukan hanya stadion yang hidup. Hotel terisi, restoran ramai, UMKM mendapat pelanggan, transportasi bergerak, dan ekonomi Kota Bekasi ikut tumbuh. Bagi kami, olahraga bukan hanya soal prestasi, tetapi juga industri yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.
Pernyataan itu tentu terdengar seperti kabar baik bagi warga. Sebab, warga Kota Bekasi pada dasarnya tidak anti terhadap pembangunan.
Warga juga tidak alergi terhadap proyek besar.
Warga bahkan bisa sangat mendukung kebijakan wali kota.
Syaratnya satu: kebijakan tersebut benar-benar berpihak kepada kepentingan warga Kota Bekasi.
Kalau Stadion Patriot menjadi magnet ekonomi, warga tentu mendukung.
Kalau UMKM lokal mendapat ruang berjualan, warga tentu mendukung.
Kalau tenaga kerja lokal mendapat kesempatan, warga tentu mendukung.
Kalau pelaku usaha Bekasi tidak hanya menjadi penonton, warga tentu mendukung.
Kalau pendapatan daerah meningkat dan kembali dalam bentuk pelayanan publik yang lebih baik, warga bahkan bisa ikut menjadi tim pemenangan kebijakan tersebut—meski tentu saja tanpa meminta kaus.
Namun, warga juga punya hak untuk bertanya: siapa yang mendapat manfaat terbesar dari sport city? Apakah warga Kota Bekasi, pelaku usaha lokal, pekerja lokal dan UMKM lokal, atau hanya pihak yang memiliki modal dan akses?
Sebab, pembangunan yang hebat bukan hanya yang terlihat megah dari luar. Yang lebih penting adalah apakah warga di dalamnya ikut merasakan manfaat.
Bagi Tri Adhianto, pengembangan Stadion Patriot dan kawasan sport city merupakan bagian dari visi jangka panjang Kota Bekasi.
Ia menegaskan, legacy seorang kepala daerah tidak semata-mata diukur dari banyaknya proyek yang dibangun, tetapi dari manfaat yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya ingin Bekasi dikenal sebagai kota yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang. Sampah menjadi energi, stadion menjadi penggerak sport tourism, transportasi menjadi magnet investasi, ruang publik menjadi pusat ekonomi kreatif, dan seluruh pembangunan itu bermuara pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Yang kami bangun hari ini adalah fondasi Kota Bekasi untuk 20 hingga 30 tahun ke depan,” tutup Tri.
Kalau benar demikian, warga Kota Bekasi tentu siap mendukung.
Sampah jadi energi, silakan.
Stadion jadi pusat sport tourism, silakan.
Investasi masuk, silakan.
Konser internasional digelar, silakan.
Ekonomi kreatif berkembang, silakan.
Tetapi ada satu kalimat yang mungkin perlu ditempel besar-besar di pintu masuk Stadion Patriot:
“Silakan bangun Kota Bekasi untuk masa depan. Tapi jangan lupa, yang tinggal di masa depan itu juga warga Kota Bekasi.”
Sebab, warga tidak keberatan melihat Stadion Patriot sejajar dengan stadion-stadion besar nasional.
Warga juga tidak keberatan jika Bekasi kelak menjadi tujuan olahraga, hiburan, investasi, bahkan wisata.
Yang warga inginkan sebenarnya sederhana: kalau Kota Bekasi semakin besar, maka kesejahteraan warganya juga harus ikut membesar. Jangan hanya stadionnya yang naik kelas, sementara warganya masih disuruh naik angkot sambil menghindari lubang. [■]

