Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

“Sang Underdog" Bangkit Menantang Peta Kekuatan dalam Pilkades Cikujang

iklan banner AlQuran 30 Juz banner #1 AlQuran 30 Juz

Dari Pelayanan Publik sampai Transparansi Desa, Abah Janjikan Pemerintahan yang Tak Bikin Warga Harus “Tanya Kanan-Kiri”

jabar-online.com | Ahad, 6 Sep 2026, 13:15 WIB NMR/DR


Kalau kursi kepala desa bisa dibagi rata, mungkin urusannya gampang. Masalahnya, kursinya cuma satu, sementara harapan warga Cikujang bisa satu desa penuh. Di tengah persiapan Pilkades Cikujang 2026, Tatang Suhendi alias Abah menyatakan siap maju dengan membawa konsep “Cikujang Istimewa” yang menempatkan pelayanan, pemerataan pembangunan, ekonomi warga dan transparansi pemerintahan sebagai pekerjaan rumah utama.

 — SUBANG | Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Cikujang, Kecamatan Serangpanjang, Kabupaten Subang, tahun 2026 mulai memasuki fase yang menarik perhatian masyarakat. Tatang Suhendi, yang akrab disapa Abah, menyatakan kesiapan maju dalam kontestasi tersebut dengan membawa gagasan “Cikujang Istimewa”.

Namun bagi Abah, Pilkades bukan semata-mata pertarungan mendapatkan jabatan.

Kontestasi demokrasi desa, menurutnya, harus menjadi ruang bagi warga untuk menentukan arah pembangunan, mengawasi penggunaan sumber daya desa, sekaligus memilih pemimpin yang benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Gagasan “Cikujang Istimewa” karena itu tidak ingin berhenti sebagai slogan kampanye. Abah menawarkan perubahan yang menurutnya harus dimulai dari hal paling mendasar: pelayanan publik yang mudah dan adil, pembangunan yang merata, penguatan ekonomi warga, transparansi pemerintahan serta keterlibatan masyarakat dalam menentukan prioritas pembangunan desa.

Kesiapan Abah mengikuti Pilkades Cikujang telah dikomunikasikan dengan panitia Pilkades yang dipimpin Asep Soparin.


Proses administrasi dan komunikasi dengan unsur penyelenggara tersebut menjadi bagian dari langkah Abah untuk mengikuti seluruh tahapan pemilihan secara tertib dan sesuai ketentuan yang berlaku.

Bukan Sekadar Ganti Kepala Desa

Abah menilai ukuran keberhasilan seorang kepala desa tidak seharusnya hanya dilihat dari banyaknya pembangunan fisik. Yang lebih penting adalah apakah pembangunan tersebut benar-benar menjawab kebutuhan warga dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

Karena itu, isu seperti kualitas pelayanan desa, pemerataan pembangunan antarwilayah, pemberdayaan ekonomi masyarakat, kesempatan bagi generasi muda, penguatan kegiatan sosial-keagamaan hingga keterbukaan informasi pemerintahan menjadi bagian penting dari gagasan yang dibawanya.

“Saya maju bukan sekadar untuk menjadi kepala desa. Saya ingin hadir untuk mengabdi, mendengar masyarakat, memperbaiki yang perlu diperbaiki, dan melanjutkan hal-hal baik yang sudah ada. Cikujang harus menjadi desa yang istimewa karena masyarakatnya sejahtera, pemerintahannya amanah, dan pembangunan dirasakan bersama,” ujar Abah.

Pernyataan tersebut sekaligus menempatkan warga sebagai pihak yang harus menjadi ukuran utama keberhasilan pemerintahan desa.

Sebab, pembangunan desa pada akhirnya bukan hanya soal berapa banyak program yang dibuat, melainkan siapa yang menerima manfaat, apakah pembangunannya merata, bagaimana proses penetapan prioritasnya, dan sejauh mana masyarakat dapat mengetahui serta mengawasi pelaksanaannya.

Transparansi Anggaran dan Pemerataan Jadi Ujian

Jika kelak mendapat mandat masyarakat, gagasan “Cikujang Istimewa” tentu akan menghadapi tantangan yang lebih konkret. Salah satunya adalah bagaimana memastikan tata kelola pemerintahan desa berjalan transparan dan partisipatif.

Bagi masyarakat, transparansi bukan sekadar memasang papan informasi. Warga membutuhkan akses terhadap informasi mengenai program, prioritas pembangunan, penggunaan anggaran desa serta hasil pelaksanaan kegiatan secara mudah dipahami.

Begitu pula dengan pembangunan. Pemerintah desa dituntut memastikan setiap wilayah dan kelompok masyarakat mendapatkan perhatian secara proporsional, sehingga pembangunan tidak menimbulkan kesan hanya menguntungkan kelompok atau kawasan tertentu.

Dalam konteks itulah, gagasan Abah nantinya perlu diuji bukan hanya melalui janji politik, tetapi melalui program yang terukur, terbuka dan dapat diawasi masyarakat.

Ekonomi Warga dan Generasi Muda

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah bagaimana desa dapat menciptakan ruang ekonomi yang lebih produktif bagi masyarakat.

Abah memasukkan penguatan ekonomi warga dan perhatian terhadap generasi muda sebagai salah satu prinsip “Cikujang Istimewa”. Gagasan tersebut penting karena pembangunan desa tidak akan cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur.

Potensi usaha masyarakat, UMKM, kelompok pemuda, kegiatan sosial dan berbagai sumber daya lokal perlu didorong agar mampu menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas.

Generasi muda juga tidak cukup hanya ditempatkan sebagai objek kegiatan seremonial. Mereka perlu diberi ruang untuk terlibat dalam perencanaan, kegiatan sosial, ekonomi kreatif, teknologi maupun berbagai program produktif desa.

Pilkades Jangan Jadi Ajang Memecah Warga

Di tengah kontestasi politik desa, Abah juga menekankan pentingnya menjaga persaudaraan masyarakat Cikujang.

Menurutnya, perbedaan pilihan merupakan bagian normal dari demokrasi. Yang tidak boleh terjadi adalah persaingan politik berubah menjadi konflik sosial berkepanjangan setelah pemilihan selesai.

“Dalam demokrasi boleh berbeda pilihan, tetapi jangan sampai berbeda pilihan membuat kita bermusuhan. Siapa pun yang terpilih nantinya, yang harus menang adalah masyarakat Desa Cikujang,” tegasnya.

Pernyataan itu menjadi pesan penting bahwa Pilkades seharusnya tidak berhenti pada persoalan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Sebab setelah proses pemungutan suara selesai, seluruh warga tetap akan hidup dalam desa yang sama, menggunakan fasilitas publik yang sama dan bergantung pada kualitas pemerintahan desa yang sama.

“Cikujang Istimewa” Harus Bisa Diukur

Dengan demikian, tantangan terbesar gagasan “Cikujang Istimewa” justru berada setelah Pilkades.

Jika mendapat kepercayaan masyarakat, warga tentu akan menunggu bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan konkret: apa program prioritasnya, berapa anggarannya, siapa penerima manfaatnya, bagaimana pelaksanaannya dan bagaimana masyarakat dapat mengawasinya.


Di titik itulah janji perubahan akan berhadapan dengan realitas pemerintahan desa.

Tatang Suhendi alias Abah menyatakan siap mengikuti seluruh proses Pilkades Cikujang dan menawarkan “Cikujang Istimewa” sebagai arah perubahan dengan penekanan pada pemerintahan yang amanah, bersih, agamis, harmonis dan berpihak kepada kepentingan masyarakat.

Pada akhirnya, keputusan tetap berada di tangan masyarakat Cikujang. Dan bagi warga, ukuran paling penting bukan sekadar siapa yang paling menarik dalam kampanye, melainkan siapa yang memiliki gagasan paling jelas, komitmen paling dapat diuji, serta kesiapan paling kuat untuk mempertanggungjawabkan setiap kebijakan kepada masyarakat.

“Mari kita ciptakan perubahan dan perbaikan untuk Desa Cikujang Istimewa.” [■]

Reporter: NMR - REDAKSI - Editor: DikRizal/JabarOL
banner kontak BekasiOL banner GEKRAFS Kota Bekasi banner#01Kemitraan WaralabaPers bannerbawah#02 bannerbawah#03 bannerbawah#04

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
jabar-online.com