Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Ustadz Sohibul Wafa: Kompas Masjid Sudah Lurus, Kompas Keadilan Kapan?

iklan banner AlQuran 30 Juz banner #1 AlQuran 30 Juz

Rashdul Ijtima' Lebih Mendesak daripada Rashdul Kiblat? Begini Tanggapan Komisi Litbang MUI Kota Bekasi dari Tanah Suci

jabar-online.com | Kamis, 16 Juli 2026, 21:55 WIBNMR/DR

Fenomena Rashdul Ka'bah kembali menjadi perhatian nasional. Namun bagi Kepala Komisi Litbang MUI Kota Bekasi, Dr. Sohibul Wafa, ada "kompas" lain yang justru sedang melenceng. Dalam wawancara eksklusif dari Arab Saudi, Kamis malam (16/7/2026), ia menyampaikan kritik sosial dengan gaya santai, satir, namun sarat pesan: jangan sampai arah shalat sudah tepat, tetapi arah keadilan masih tersesat.

 — KOTA BEKASI | Momentum fenomena Rashdul Ka'bah yang kembali disosialisasikan pemerintah melalui Kantor Urusan Agama (KUA) di berbagai daerah mendapat tanggapan menarik dari Kepala Komisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) MUI Kota Bekasi, Kandidat Doktor Sohibul Wafa.

Dalam wawancara khusus melalui aplikasi WhatsApp dari Arab Saudi pada Kamis (16/7/2026) malam, tokoh yang juga tengah menempuh studi doktoral tersebut mengajak masyarakat melihat persoalan bangsa dari sudut pandang yang lebih luas.

Menurut Sohibul Wafa, edukasi mengenai arah kiblat tentu memiliki nilai dan manfaat dalam syariat Islam. Namun, ia menilai gaung tahunan mengenai Rashdul Ka'bah kerap memperoleh perhatian yang jauh lebih besar dibandingkan persoalan sosial yang justru dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Dalam pandangan saya, selain Rashdul Kiblat ada yang jauh lebih penting untuk kita renungkan, yakni Rashdul Ijtima' atau arah sosial. Jangan sampai kita sangat sibuk memastikan arah shaf salat, tetapi lupa meluruskan arah keadilan sosial di tengah masyarakat," ujarnya.

Dengan gaya penyampaian yang diselingi satire, Sohibul Wafa mengatakan seolah-olah setiap tahun masyarakat diingatkan kembali mengenai arah kiblat, padahal para ulama sejak dahulu telah memiliki metodologi dalam menentukan arah tersebut.

Menurutnya, perhatian publik juga perlu diarahkan kepada "kiblat" kehidupan bermasyarakat, yakni keadilan, kepedulian, dan keberpihakan terhadap rakyat kecil.


Ia mencontohkan masih adanya ketimpangan dalam penegakan hukum yang kerap menjadi perbincangan publik.

Menurutnya, masyarakat sering melihat pelaku kejahatan kecil menerima hukuman berat, sementara kasus-kasus besar yang melibatkan nilai kerugian sangat besar justru memunculkan berbagai polemik dalam proses penegakannya.

"Persepsi semacam itu melahirkan rasa ketidakadilan di masyarakat. Yang kecil dihukum cepat, sementara perkara besar sering dianggap berlarut-larut. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak agar kepercayaan publik terhadap hukum tetap terjaga," katanya.

Sebagai Ketua Komisi Litbang MUI Kota Bekasi, Sohibul Wafa menegaskan bahwa keadilan merupakan nilai fundamental dalam ajaran Islam sekaligus selaras dengan sila kelima Pancasila, yakni Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Karena itu, menurutnya, pemerintah, baik pemerintah pusat maupun Pemerintah Kota Bekasi, perlu terus memperkuat kebijakan yang berpihak kepada masyarakat kecil, mempersempit kesenjangan sosial, serta memastikan pelayanan publik berjalan secara adil.

Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan fisik, tetapi juga dari hadirnya rasa keadilan di tengah masyarakat.

"Kalau rakyat kecil merasa terus tertinggal, sementara ketimpangan semakin lebar, maka yang terancam bukan hanya ekonomi, tetapi juga keberkahan kehidupan berbangsa," tuturnya.

Dalam wawancara tersebut, Sohibul Wafa turut menyampaikan pesan moral yang bernuansa religius.

Menurutnya, ketepatan arah kiblat memang penting dalam ibadah, tetapi kepedulian terhadap sesama tidak boleh diabaikan.

"Jangan sampai kita begitu teliti mengoreksi arah shalat, tetapi tidak peduli ketika tetangga mengalami kesulitan hidup. Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah kepada Allah dan tanggung jawab sosial kepada sesama manusia," ujarnya.

Ia bahkan mengusulkan agar semangat Rashdul Ijtima' diwujudkan secara nyata hingga ke tingkat RT dan RW melalui pendataan warga yang benar-benar membutuhkan bantuan agar penyaluran program sosial pemerintah maupun masyarakat menjadi lebih tepat sasaran.

"Bila perlu, setiap lingkungan memiliki data yang valid mengenai warga miskin, lansia, yatim, penyandang disabilitas, hingga keluarga rentan. Dengan begitu, kepedulian sosial tidak berhenti menjadi slogan, tetapi menjadi gerakan bersama," katanya.

Di akhir interviu, Sohibul Wafa berharap semangat meluruskan arah kehidupan sosial dapat menjadi gerakan kolektif seluruh elemen bangsa.

Menurutnya, bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang benar arah kiblatnya, tetapi juga bangsa yang mampu menjaga keadilan, kemanusiaan, dan kepedulian terhadap sesama.

"Kalau arah sosial kita lurus, insyaallah arah pembangunan bangsa juga akan lurus. Itulah Rashdul Ijtima' yang menurut saya layak menjadi perhatian bersama," pungkasnya dari Arab Saudi. [■]

Reporter: NMR - REDAKSI - Editor: DikRizal/DREW-Corp
bannerIBOSExpo2026 banner#01Kemitraan WaralabaPers bannerbawah#02 bannerbawah#03 bannerbawah#04

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
DREWcorp property of JABAR-ONLINE.COM