Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

KADIN Kota Bekasi Merapat ke Bank BJB: Kolaborasi Tak Berhenti di Meja Rapat

iklan banner AlQuran 30 Juz banner #1 AlQuran 30 Juz

Ketua KADIN Duduk Semeja dengan Kacab Bank BJB Kota Bekasi Bicarakan Bagaimana Dunia Usaha Bisa Bergerak Lebih Cepat

jabar-online.com | Rabu, 12 Agt 2026, 11:24 WIBNMR/DR

Qadar Ruslan Siregar mendorong KADIN tampil sebagai mitra sejajar pemerintah. Sigit Lesmana membuka ruang kolaborasi perbankan. Kalau dua mesin ini benar-benar disambungkan, pengusaha Bekasi punya alasan untuk tidak cuma duduk manis.

 — KOTA BEKASI | Bekasi tidak kekurangan forum. Yang sering kurang adalah gerak lanjut setelah forum bubar.

Karena itu, pertemuan KADIN Kota Bekasi dengan Bank BJB Cabang Kota Bekasi menjadi menarik: dua institusi yang berbeda mandat itu sedang mencoba pertemukan kebutuhan dunia usaha dengan kekuatan pembiayaan. Pertemuan kedua pimpinan ini di kantor cabang Bank BJB, Jl. Ir. H. Juanda, Kayuringin, Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Rabu, 12/Agustus/2026.

Ada satu hal yang segera terasa dari pertemuan itu: KADIN Kota Bekasi di bawah kepemimpinan Qadar Ruslan Siregar—atau yang lebih akrab dipanggil Bang QRS—tidak ingin terlalu lama tinggal di wilayah seremoni.


Sejak terpilih secara aklamasi sebagai Ketua KADIN Kota Bekasi periode 2026–2031, QRS membawa pesan yang relatif sederhana, tetapi justru karena itu penting: KADIN harus menjadi rumah besar pengusaha dan bekerja nyata untuk mempertemukan kepentingan dunia usaha dengan pembangunan daerah.

Maka ketika jajaran KADIN duduk bersama Bank BJB Cabang Kota Bekasi yang dipimpin Kepala Cabang Bank BJB yang baru Sigit Lesmana, pembicaraannya menjadi lebih dari sekadar silaturahmi kelembagaan.

Di titik itulah kolaborasi memperoleh makna yang lebih konkret.

Dunia usaha membutuhkan akses pembiayaan, kepastian layanan, jaringan dan peluang. Perbankan membutuhkan pelaku usaha yang sehat, produktif, memiliki prospek, sekaligus mampu menggerakkan ekonomi daerah. Pemerintah membutuhkan keduanya agar pertumbuhan ekonomi tidak berhenti sebagai angka dalam laporan.


KADIN berada di tengah-tengah persilangan kepentingan itu.

Perannya bukan menggantikan pemerintah. Bukan pula menjadi bank. KADIN justru dapat memainkan posisi sebagai jembatan—mengidentifikasi persoalan pengusaha, menyusun kebutuhan dunia usaha, lalu mempertemukannya dengan lembaga yang mempunyai instrumen dan kapasitas untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Itulah yang membuat langkah QRS patut diperhatikan.

Kepemimpinan organisasi bisnis sering dinilai dari panjangnya daftar program. Padahal ukuran yang lebih jujur adalah seberapa cepat organisasi mengubah masalah anggotanya menjadi agenda kerja.

Dalam beberapa bulan awal kepemimpinannya, QRS sudah membawa KADIN pada agenda konsolidasi dan penguatan organisasi, sembari menegaskan pentingnya keberpihakan terhadap pelaku usaha lokal.

Pertemuan dengan Bank BJB menjadi bagian dari logika yang sama: pengusaha jangan hanya diajak berbicara tentang pertumbuhan; mereka harus diberi jalan untuk tumbuh.

Di sisi lain, posisi Bank BJB juga bukan sekadar sebagai lembaga yang menunggu nasabah datang membawa proposal.

Pernyataan dan rekam jejak Sigit Lesmana dalam mendorong kolaborasi perbankan dengan pemerintah menunjukkan satu pola: perbankan daerah dapat berfungsi lebih luas ketika instrumen keuangan dipertemukan dengan kebutuhan pembangunan.

Dalam berbagai forum sebelumnya, Sigit menekankan pentingnya kolaborasi antara perbankan, pemerintah dan masyarakat untuk membuat layanan menjadi lebih efektif serta memberi dampak langsung.

Di Bekasi, pola itu menemukan ruang yang berbeda.

KADIN membawa dunia usaha.

BJB membawa kapasitas finansial.

Pemerintah menjadi mitra strategis pembangunan.


Jika ketiganya mampu duduk dalam satu meja dengan agenda yang sama, maka yang sedang dibangun bukan sekadar kerja sama antarlembaga. Yang sedang dibangun adalah ekosistem ekonomi.

Dan ekonomi tidak tumbuh dari pidato.

Ia tumbuh dari modal yang sampai kepada orang yang tepat. Dari usaha kecil yang naik kelas. Dari pengusaha lokal yang mendapat kesempatan. Dari transaksi yang terus berputar. Dari lapangan kerja yang tercipta. Dari keberanian membuka usaha yang kemudian tidak mati karena kehabisan napas pada persoalan pembiayaan.

Di sinilah KADIN diuji.

Menjadi mitra sejajar pemerintah bukan berarti menjadi pelengkap pemerintah. KADIN harus mampu menyampaikan apa yang dibutuhkan dunia usaha, termasuk ketika kebutuhan itu tidak nyaman didengar.

Sebaliknya, menjadi mitra bank juga tidak berarti sekadar membawa daftar nama calon debitur. KADIN harus ikut memastikan bahwa pelaku usaha yang didorong memperoleh pembiayaan memang memiliki kapasitas, tata kelola, pasar dan rencana usaha yang masuk akal.

Dengan begitu, pembiayaan bukan sekadar uang yang berpindah rekening.

Ia menjadi energi ekonomi.

Ada perbedaan besar antara menyalurkan kredit dan membangun ekosistem pembiayaan.

Yang pertama berbicara tentang transaksi.

Yang kedua berbicara tentang masa depan.

Karena itu, pertemuan QRS dan Sigit Lesmana semestinya tidak berhenti pada foto bersama, pernyataan optimisme, atau berita sehari di media.

Ujian sesungguhnya justru dimulai setelah pintu ruang rapat ditutup.

Berapa banyak pengusaha yang kemudian memperoleh akses?

Berapa banyak usaha yang naik kelas?

Berapa banyak persoalan yang berhasil dipetakan dan dicarikan jalan keluar?

Berapa banyak peluang ekonomi Kota Bekasi yang akhirnya tidak lari ke luar daerah?

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada tepuk tangan dalam sebuah pertemuan.

QRS tampaknya memahami bahwa KADIN tidak bisa terus bekerja dengan kecepatan kalender rapat. Dunia usaha bergerak setiap hari. Pasar tidak menunggu. Modal tidak menunggu. Persaingan juga tidak menunggu.

Karena itu, KADIN harus bergerak dengan ritme yang sama.

Cepat membaca.

Cepat mempertemukan.

Cepat mencarikan solusi.

Dan, yang paling penting, cepat mengukur hasil.

Di sinilah kolaborasi dengan Bank BJB menemukan relevansinya.

Sebab pada akhirnya, hubungan KADIN dan BJB bukanlah tentang siapa yang lebih penting.

Bukan pula tentang siapa yang menjadi mitra siapa.

Keduanya mempunyai kepentingan yang sama: membuat roda ekonomi bergerak lebih cepat dan lebih sehat.

Bekasi membutuhkan itu.

Kota dengan denyut perdagangan dan jasa yang besar tidak boleh hanya menjadi tempat orang bekerja dan membelanjakan uang. Bekasi harus mampu menjadi tempat lahirnya pengusaha, tumbuhnya perusahaan, berkembangnya UMKM, menguatnya rantai pasok, dan berputarnya modal di dalam kota.


Jika KADIN mampu menjadi penghubungnya, sementara BJB mampu menjadi salah satu penggerak pembiayaannya, maka kolaborasi itu memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar agenda kelembagaan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah organisasi bukan seberapa sering namanya disebut.

Melainkan seberapa banyak orang yang merasakan manfaat dari keberadaannya.

Dan mungkin di situlah pesan paling penting dari pertemuan KADIN Kota Bekasi dan Bank BJB: kolaborasi yang baik bukan yang paling ramai diberitakan ketika dimulai, melainkan yang diam-diam menghasilkan perubahan setelah semua kamera dimatikan. [■]

Reporter: NMR - REDAKSI - Editor: DikRizal/JabarOL
banner kontak BekasiOL banner GEKRAFS Kota Bekasi banner#01Kemitraan WaralabaPers bannerbawah#02 bannerbawah#03 bannerbawah#04

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
jabar-online.com