Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

SULING Sanggar PERKASA: Ketika Anak-Anak Menemukan Arti Mimpi di Seni Teater

iklan banner AlQuran 30 Juz banner #1 AlQuran 30 Juz

Anak-Anak Naik Panggung, Orang Dewasa Malah Bisa Kena Tampar! “SULING” Sanggar PERKASA Bicara Soal Mimpi

jabar-online.com | Kamis, 10 Sep 2026, 11:56 WIBNMR/RED/DR

Biasanya orang dewasa yang merasa paling tahu soal kehidupan anak. Kali ini, giliran anak-anak yang naik panggung dan “mengajari” orang dewasa tentang arti keberanian. Melalui pementasan teater “SULING”, Sanggar PERKASA menghadirkan kisah Lisa, seorang anak penyandang disabilitas yang tetap berusaha menjalani hidup dengan tabah. Cerita ini tidak datang membawa ceramah panjang, melainkan dialog, ekspresi, dan permainan panggung yang justru bisa membuat penonton bertanya kepada dirinya sendiri: jangan-jangan selama ini yang terlalu banyak memberi batas justru bukan keadaan, tetapi cara kita memandangnya?

 — JAKARTA | Panggung teater bukan sekadar tempat anak-anak berdiri, mengucapkan dialog, lalu mendapat tepuk tangan. Di tangan , panggung justru menjadi ruang untuk belajar tentang kehidupan, keberanian, empati, sekaligus cara sederhana untuk mengatakan: setiap anak berhak bahagia, berkarya, dan menggapai mimpi.

Pesan itulah yang coba dihadirkan melalui pementasan teater “SULING”, sebuah pertunjukan yang mengangkat kisah Lisa, seorang anak penyandang disabilitas yang menjalani kehidupan dengan segala keterbatasan, kesedihan, kasih sayang keluarga, perjuangan, dan harapan.

“SULING” adalah karya tulisan Sutjahjono yang kemudian diadaptasi oleh sutradara, jadi sebuah drama teatrikal yang bisa dibawakan oleh anak-anak.

Pertunjukan tersebut digelar 9 September 2026 pukul 13.00 WIB hingga selesai di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat.


Dari materi visual pementasan, “SULING” tampil dengan kekuatan ensemble anak-anak yang menjadi pemeran dalam pertunjukan. Poster pementasan juga mencantumkan “SULING” sebagai karya Sanggar PERKASA, dengan sutradara Detri Kayla, serta jajaran pemain anak yang terlibat dalam produksi tersebut.

Suling yang Bukan Sekadar Alat Musik

Judul “SULING” mungkin terdengar sederhana. Namun dalam cerita ini, suling memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Ia hadir sebagai simbol harapan, ketulusan, dan kekuatan hati. Sebuah benda sederhana yang menjadi bagian dari perjalanan Lisa dalam menghadapi kehidupan.

Pertanyaan yang kemudian dibawa ke atas panggung pun bukan cuma soal bagaimana Lisa memainkan atau berhadapan dengan suling.

Lebih jauh, penonton diajak melihat bagaimana seorang anak menghadapi keadaan yang tidak selalu mudah.

Mampukah Lisa menerima kenyataan?

Mampukah ia tetap tersenyum ketika keadaan tidak sesuai harapan?

Dan yang paling penting: mampukah manusia melihat kemampuan seseorang sebelum melihat keterbatasannya?

Di sinilah kekuatan “SULING” sebagai pertunjukan anak-anak terasa menarik. Ceritanya tidak berhenti pada persoalan disabilitas, tetapi mengajak penonton melihat bahwa setiap anak mempunyai ruang untuk tumbuh, berekspresi, dan bermimpi.

Ketika Anak-Anak Belajar Serius, Orang Dewasa Jangan Kalah

Pementasan teater seperti “SULING” juga memperlihatkan bahwa dunia seni anak bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang.

Di balik beberapa menit anak tampil di panggung, ada proses latihan, menghafal dialog, belajar ekspresi, memahami karakter, bekerja sama dengan pemain lain, mengikuti arahan sutradara, hingga belajar mengatasi rasa gugup.

Dan bagian terakhir ini biasanya cukup menantang.

Sebab orang dewasa saja kadang masih grogi ketika diminta bicara di depan lima orang. Anak-anak Sanggar PERKASA justru berani naik ke panggung dan tampil di depan penonton.

Ini bukan lagi soal siapa paling hafal dialog. Ini soal siapa yang berani mencoba.

Karena di dunia seni, lupa satu dialog masih bisa diselamatkan dengan improvisasi. Yang sulit justru kalau dari awal sudah takut mencoba.

Sanggar PERKASA dan Ruang Tumbuh Anak

Di balik kegiatan tersebut terdapat sosok Bunda Tantri Pertiwi, Founder, Owner sekaligus Coach Sanggar PERKASA.

Melalui Sanggar PERKASA, seni ditempatkan sebagai salah satu sarana untuk membangun keberanian, kreativitas, rasa percaya diri, sekaligus kepedulian sosial anak-anak.

Tema yang diusung pun sangat sederhana tetapi penting:

“Setiap Anak Berhak Bahagia, Berkarya, dan Menggapai Mimpi.”

Kalimat tersebut menjadi semacam pengingat bahwa prestasi anak tidak selalu harus dihitung dari piala dan sertifikat.

Kadang prestasi terbesar adalah ketika seorang anak yang semula malu-malu akhirnya berani naik panggung.

Atau ketika anak yang biasanya hanya menjadi penonton, akhirnya menjadi pemain.

Atau ketika seorang anak belajar bahwa teman dengan kondisi berbeda tetap mempunyai hak yang sama untuk didengar, dihargai, dan diberi kesempatan.

“SULING”, Lebih dari Sekadar Pertunjukan

Karena itu, “SULING” layak dilihat bukan hanya sebagai agenda pertunjukan teater, tetapi juga sebagai bagian dari proses pendidikan karakter melalui seni.

Penonton tidak hanya diajak mengikuti perjalanan Lisa, tetapi juga diajak merasakan bagaimana sebuah keluarga, lingkungan, dan teman-teman dapat menjadi sumber kekuatan bagi seorang anak.

Sementara bagi para pemain cilik, panggung menjadi tempat untuk belajar bahwa seni bukan hanya tentang tampil bagus.

Seni juga tentang merasakan.

Merasakan karakter yang dimainkan, memahami orang lain, bekerja dalam kelompok, dan berani menyampaikan cerita kepada publik.

Kalau anak-anak sudah berani belajar memahami kehidupan lewat teater, barangkali orang dewasa tinggal belajar satu hal sederhana: jangan terlalu cepat menilai seseorang hanya dari keterbatasannya.

Mari Apresiasi Karya Anak

Pementasan “SULING” pada akhirnya bukan hanya mengajak penonton untuk membeli tiket dan duduk menikmati pertunjukan.

Lebih dari itu, setiap tiket menjadi bentuk apresiasi terhadap proses kreatif dan keberanian anak-anak Sanggar PERKASA.

Sebab tepuk tangan penonton mungkin hanya berlangsung beberapa detik.

Namun bagi seorang anak yang baru saja menaklukkan rasa takutnya di atas panggung, tepuk tangan itu bisa menjadi kenangan yang dibawa bertahun-tahun.

Dan siapa tahu, dari panggung kecil hari ini, lahir aktor, sutradara, seniman, atau bahkan pemimpin besar di masa depan.

SULING mengingatkan kita: keterbatasan mungkin menjadi bagian dari kehidupan, tetapi tidak pernah seharusnya menjadi batas bagi sebuah mimpi.

Untuk informasi Sanggar PERKASA dan kegiatan seni anak-anak, masyarakat dapat menghubungi Bunda Tantri Pertiwi di +62 859-3449-2097 atau mengikuti akun Instagram @bunda_gatriya01 dan @sanggar_perkasa.

SULING — sebuah kisah tentang harapan, keberanian, dan mimpi yang tetap berbunyi, bahkan ketika kehidupan tidak selalu berjalan sesuai nada yang kita inginkan. 🎭🎶 [■]

Reporter: NMR - REDAKSI - Editor: DikRizal/JabarOL
banner kontak BekasiOL banner GEKRAFS Kota Bekasi banner#01Kemitraan WaralabaPers bannerbawah#02 bannerbawah#03 bannerbawah#04

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
jabar-online.com