Di Era Deepfake, Wajah & Suara Bisa Dibuat Meyakinkan. MUI Kota Bekasi Mendorong Ulama Siber Agar Jempol Umat Tak Lebih Cepat Daripada Tabayyun
Dulu mencari ulama harus datang ke majelis. Kini, cukup membuka ponsel. Masalahnya, yang muncul di layar belum tentu ulama sungguhan. Bisa saja hasil kecerdasan buatan. Wajah ada, suara ada, bahkan ceramahnya terdengar meyakinkan—tetapi ketika dicari alamatnya, orangnya bisa jadi tidak pernah ada. Fenomena inilah yang membuat MUI Kota Bekasi mendorong penguatan literasi digital dan menggagas Ulama Siber untuk menghadapi hoaks, disinformasi, propaganda, dan konten AI.
— KOTA BEKASI | Di zaman ketika satu sentuhan jari dapat mengirim informasi ke ribuan layar dalam hitungan detik, kebenaran justeru sering datang paling akhir.Kondisi itu bukan sekadar persoalan teknologi. Ia telah menjadi persoalan sosial, budaya, bahkan keagamaan.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi membaca gejala tersebut sebagai tantangan serius. Bukan hanya karena derasnya arus hoaks dan disinformasi, tetapi juga karena munculnya babak baru: kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mampu menghadirkan suara, wajah, dan figur digital yang menyerupai manusia nyata.
Pesan itu mengemuka dalam Seminar dan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Sikap Umat Islam dalam Menghadapi Ancaman Disinformasi dan Propaganda Melalui Media Sosial” serta gagasan “Ulama Siber: Jangan Sampai Umat Tertipu Ulama AI”, yang digelar MUI Kota Bekasi di Aula KH Noor Ali, Islamic Center Bekasi, Kamis (24/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua MUI Kota Bekasi Drs. KH. Saifuddin Siroj beserta jajaran pengurus, Ketua Sahabat MUI, Ustadz H. Ismail Ibrahim; Ketua GENAP Kota Bekasi, Ustadz H. Syaif; Ketua GARIS, Ustadz Verry Koestanto; pemateri seminar Ustadz Ridwan Habib; Ketua Komisioner Litbang MUI Kota Bekasi, Ustadz Dr. H. Shohibul Wafa TA, SH.I, M.Pd, pengurus ICMI, Ustadz Epen Supendi, Ustadz Faisal NA Moeliza; Pengurus Persada 212, Ust. Wahyudin, serta pimpinan dan perwakilan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dan peserta seminar FGD (Focus Group Discussion).
Tema yang diangkat sesungguhnya bukan hanya soal agama. Ia menyentuh persoalan yang kini dihadapi hampir setiap keluarga: bagaimana membedakan informasi yang benar dengan informasi yang tampak benar.
Di media sosial, sebuah narasi tidak perlu lengkap untuk dipercaya. Kadang cukup berupa potongan video, cuplikan pidato, atau sebaris judul yang dilepaskan dari konteksnya. Dalam situasi seperti itu, emosi sering bergerak lebih cepat daripada akal sehat.
Ketua MUI Kota Bekasi Drs. KH. Saifuddin Siroj mengingatkan pentingnya menyambungkan pemikiran dan keilmuan antar elemen umat melalui apa yang ia sebut sebagai silatul fikri dan silatul ilmi.
“Bagaimana kita menyikapi berita, bagaimana kita mengantisipasi dan meng-counter hal-hal yang sekiranya bisa mendistorsi ukhuwah dan kekuatan umat Islam, utamanya yang ada di Kota Bekasi,” ujar KH. Saifuddin.
Pernyataan itu terasa relevan di tengah kehidupan perkotaan yang semakin dipenuhi lalu lintas informasi, tetapi tidak selalu disertai kemampuan memilahnya. Kota-kota besar, termasuk Bekasi, tidak hanya menghadapi persoalan fisik seperti kemacetan, banjir, atau kepadatan penduduk. Ada persoalan lain yang bergerak diam-diam: banjir informasi yang tidak semuanya benar.
Masyarakat hidup di tengah ironi. Teknologi semakin canggih, akses informasi semakin luas, tetapi kemampuan memverifikasi sering tertinggal. Fenomena “baca judul lalu menyimpulkan” atau “lihat potongan video lalu menghakimi” menjadi kebiasaan baru yang perlahan membentuk ruang publik yang gaduh.
KH. Saifuddin mengingatkan bahwa banyaknya organisasi Islam di Kota Bekasi semestinya menjadi kekuatan sosial, bukan sumber fragmentasi.
“Begitu banyak ormas Islam di Kota Bekasi. Tetapi kalau visi kita berbeda-beda, bermacam-macam, tidak satu visi, tidak dapat diharapkan oleh kita membangun satu daerah,” katanya.
Di sinilah MUI mencoba mengambil posisi: bukan sekadar sebagai lembaga pemberi fatwa, tetapi juga sebagai ruang dialog, klarifikasi, dan penjaga nalar publik.
Ketua Litbang MUI Kota Bekasi Dr. H. Shohibul Wafa, SH.I.,MPd. melihat persoalan tersebut dari sisi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat: kebiasaan menerima dan menyebarkan informasi.
“Alhamdulillah, kita sudah menyelesaikan acara yang berkaitan dengan seminar disinformasi untuk melawan propaganda media sosial, artinya untuk melawan propaganda-propaganda yang berbau hoaks,” ujar Shohibul Wafa.
Bagi Shohibul, kata kunci menghadapi era digital adalah tabayyun.
“MUI mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk membudayakan budaya klarifikasi, atau dalam istilah bahasa Arabnya, tabayun. Nah, dengan ini kita mudah-mudahan bisa mendapatkan informasi yang benar,” katanya.
Persoalannya, budaya digital modern justru bergerak ke arah yang berlawanan. Kecepatan menjadi ukuran utama. Orang berlomba menjadi yang pertama membagikan informasi, bukan yang paling tepat memeriksa kebenarannya.
Akibatnya, ruang digital kerap dipenuhi kesimpulan instan. Sebuah pernyataan tokoh publik dipotong beberapa detik, diberi judul tertentu, lalu menyebar sebagai kebenaran baru. Padahal konteksnya mungkin berbeda.
“Ini sangat, sangat, sangat besar sekali pengaruhnya, apalagi anak-anak muda ya, kalangan Gen Z. Baru mendengar berita begini dianggap udah mewakili,” katanya.
Di titik ini, masalah literasi digital tidak lagi sebatas kemampuan mengoperasikan gawai atau menggunakan aplikasi. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membaca konteks, memeriksa sumber, membedakan fakta dengan opini, serta mengenali manipulasi.
Tantangan itu menjadi lebih rumit ketika AI hadir
Kini teknologi mampu menciptakan suara, wajah, dan video yang tampak nyata. Sosok yang terlihat berbicara di layar belum tentu pernah mengucapkan kata-kata itu. Figur yang tampak masyhur belum tentu benar-benar ada.
Karena itu, MUI Kota Bekasi menggagas pembentukan Ulama Siber.
“Majelis Ulama pun mendorong untuk dibentuknya sebuah organisasi ulama yang melek teknologi, sehingga ada usulan untuk membentuk Ulama Cyber,” imbuhnya.
Shohibul mengingatkan bahwa teknologi yang sama dapat dipakai untuk pendidikan maupun manipulasi.
“Jangan sampai kita tertipu dengan ulama-ulama AI yang masyhur tapi orangnya enggak ada. Dibuat seolah-olah mukanya ada, kupingnya ada, tapi begitu kita cari alamatnya kan enggak ada,” katanya.
Dalam kesempatan lain, ia menegaskan:
“Jangan sampai kita tertipu dengan ulama-ulama AI yang masyhur, tetapi orangnya enggak ada,” ujarnya.
Gagasan Ulama Siber dan halaqah digital yang tengah dirumuskan MUI Kota Bekasi sesungguhnya mencerminkan satu kesadaran penting: tantangan keagamaan di masa depan tidak hanya berada di mimbar, majelis taklim, atau ruang kelas, tetapi juga di layar telepon genggam.
Sebab, pada akhirnya, persoalan terbesar di era digital bukanlah kurangnya informasi, melainkan melimpahnya informasi yang belum tentu benar.
Dan di tengah banjir data, propaganda, potongan narasi, serta teknologi AI yang semakin sulit dibedakan dari kenyataan, tabayyun bukan lagi sekadar anjuran moral. Ia telah menjadi kebutuhan sosial.
Karena di zaman ketika kebohongan dapat berlari dalam hitungan detik, akal sehat membutuhkan ruang untuk berjalan lebih dahulu. [■]


