Tak Perlu Jadi Jogja Palsu: Plagiat Bangun Estetika Kota Bekasi dari Kota Lain, Bangun Identitasnya Sendiri
jabar-online.com | Senin, 22 Juni 2026, 13:37 WIB | SofyanSyuhada
— BEKASI | Wacana pembangunan pasar tradisional bernuansa etnik di Kota Bekasi dengan mengadopsi konsep pasar ikonik seperti Malioboro Yogyakarta atau Pasar Klewer Solo memunculkan catatan kritis dari budayawan dan seniman Kota Bekasi, Sofyan Syuhada.
Di saat sebagian orang bermimpi menghadirkan "Malioboro Bekasi", budayawan Kota Bekasi Sofyan Syuhada justru menggeleng kepala. Lulusan ITB yang mendalami estetika lingkungan itu mengingatkan, jangan sampai Bekasi sibuk berdandan ala kota lain, tapi lupa bercermin pada wajahnya sendiri. "Kalau cuma ikut-ikutan, nanti jadinya bukan Malioboro, tapi Jogja KW yang kehilangan jati diri," sindirnya.
— BEKASI | Wacana pembangunan pasar tradisional bernuansa etnik di Kota Bekasi dengan mengadopsi konsep pasar ikonik seperti Malioboro Yogyakarta atau Pasar Klewer Solo memunculkan catatan kritis dari budayawan dan seniman Kota Bekasi, Sofyan Syuhada.Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang mendalami estetika lingkungan (environmental art) itu mengingatkan bahwa Kota Bekasi tidak perlu melakukan "plagiarisme visual" terhadap daerah lain, karena memiliki modal budaya, sejarah, dan karakter sosialnya sendiri yang khas.
Menurut Sofyan, penataan ruang publik seharusnya tidak hanya dilihat dari aspek ekonomi dan penertiban semata.
Apabila pendekatan yang digunakan terlalu represif dan transaksional, ruang-ruang tersebut akan kehilangan fungsi sosialnya sebagai tempat pembentukan identitas, ruang interaksi warga, dan sarana pemberdayaan masyarakat.
"Identitas kota tidak lahir dari gambar yang ditempelkan dari luar, melainkan dari praktik kehidupan sehari-hari yang terus diulang, disepakati, dan diberi makna oleh masyarakat yang hidup di dalamnya," ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa pasar tradisional sejatinya tumbuh secara organik dan berevolusi secara alamiah. Pasar yang bertahan lama umumnya memiliki akar sejarah yang kuat, dimulai dari aktivitas sederhana, berkembang menjadi lorong kehidupan yang hidup, dan akhirnya menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat.
Karena itu, upaya menghapus pola lama demi menghadirkan wajah baru secara instan, tanpa merawat jejak sejarah dan ekosistem sosial yang telah terbentuk, menurutnya justru berpotensi gagal secara sosiologis maupun estetis.
Sofyan juga mengkritisi kecenderungan meniru konsep pedestrianisasi Malioboro Yogyakarta.
Baginya, Malioboro dapat hidup dan memiliki daya tarik karena ditopang oleh sejarah panjang, budaya keraton, serta filosofi ruang yang telah diwariskan lintas generasi.
Sementara itu, karakter Kota Bekasi sangat berbeda. Sebagai kota satelit industri dengan tingkat heterogenitas dan mobilitas yang tinggi, serta ritme kehidupan masyarakat yang banyak ditentukan oleh pola kerja bergilir (shift), Bekasi memiliki struktur sosial yang khas.
"Memaksakan romantisme kota lain ke dalam karakter Bekasi hanya akan menghasilkan panggung visual tanpa aktor. Bekasi berisiko kehilangan wajahnya sendiri dan berubah menjadi sekadar Jogja tiruan yang tidak memiliki akar budaya yang kuat," katanya.
Dalam pandangannya, keberadaan pedagang kaki lima dan kuliner gerobakan tidak dapat semata-mata diposisikan sebagai pengganggu tata kota. Mereka justru merupakan bagian dari "pembuluh darah" yang menjaga metabolisme ekonomi masyarakat.
Karena itu, apabila penataan harus dilakukan, proses relokasi perlu didasarkan pada kajian yang matang, dialog yang memanusiakan, serta penyediaan tempat pengganti yang layak dan memiliki nilai ekonomi yang setara.
"Pedagang membutuhkan kepastian usaha, jaminan tempat, serta perlindungan dari penggusuran sepihak. Ketahanan ekonomi warga harus menjadi perhatian utama dalam setiap kebijakan penataan," ujarnya.
Menurut Sofyan, desain kota seharusnya lahir dari riset etnografi yang mendalam terhadap kehidupan masyarakat Bekasi.
Aktor, benda, suara, dan kebiasaan sehari-hari warga harus direkam dan diterjemahkan menjadi simbol visual yang benar-benar merepresentasikan ke-Bekasi-an.
Ia menawarkan konsep estetika berbasis simbol "Lebah Gantung" dan "Kembang Kelapa".
Bentuk lebah gantung dipilih karena memiliki struktur ringan, modular, dan vertikal, sehingga sesuai dengan keterbatasan ruang kota modern.
Simbol tradisional tersebut dapat ditransformasikan melalui material kontemporer dengan warna-warna cerah yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
"Dengan begitu, Bekasi tidak perlu berbangga pada hasil peniruan yang tidak otentik. Kota ini mempunyai kekuatan untuk membangun identitas visualnya sendiri," tegasnya.
Dalam struktur tata ruang yang ideal, pusat kuliner menurutnya harus ditempatkan sebagai fungsi utama berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat. Penataan tidak perlu memaksakan komoditas atau konsep yang tidak tumbuh secara alami di lingkungan tersebut.
Sofyan juga mengusulkan agar unsur-unsur sejarah dan tradisi Bekasi diangkat sebagai identitas ruang yang bersifat hibrida, sehingga berbagai unsur budaya dapat berdialog dengan hiruk-pikuk pasar secara harmonis dan menjadikannya sebagai ruang interaksi sosial yang hangat.
Ia menilai bahwa Bekasi yang hidup selama 24 jam memiliki karakter berbeda dengan kota-kota lain.
Karena itu, unsur pencahayaan tradisional seperti penggunaan "oncor" atau obor statis yang aman dapat dihadirkan sebagai elemen estetika malam hari.
Menurutnya, temperatur warna api yang hangat mampu melunakkan dominasi beton dan besi serta menciptakan suasana ruang komunal yang lebih manusiawi melalui permainan cahaya dan bayangan yang dramatis.
Secara keseluruhan, Sofyan menawarkan empat lapisan utama dalam membangun estetika Kota Bekasi, yakni lapisan fungsi, lapisan simbol yang direpresentasikan melalui bentuk "Lebah Gantung", lapisan ritme yang mencerminkan heterogenitas masyarakat urban, serta lapisan atmosfer budaya yang menghadirkan nuansa masa lalu melalui elemen pencahayaan tradisional.
Melalui kerangka berpikir tersebut, ia mengingatkan Pemerintah Kota Bekasi agar tidak terjebak dalam romantisasi masa lalu maupun peniruan identitas daerah lain.
"Bagi saya, Bekasi cukup menjadi dirinya sendiri. Estetika kota harus lahir dari kejujuran terhadap sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakatnya sendiri." tegas Sofyan.
"Di bawah kanopi urban yang terus tumbuh, Bekasi justru akan menemukan kekuatannya pada keberanian untuk tampil orisinal, bukan menjadi salinan dari kota lain," tutupnya. [■]
Tags
Budayawan
Dinas Pariwisata Budaya
Kota Bekasi
Pariwisata
Pemkot Bekasi
Seniman
Sofyan Syuhada
Wisata
