iklan banner
iklan header
iklan header banner
Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Wawali Harris Bobihoe Halal Bi Halal Bersama Gubernur Jabar KDM

iklan banner AlQuran 30 Juz

Halal Bihalal di Gedung Sate: Dari Maaf-Maafan s/d “Deadline Pembangunan" Heboh, Ini Kata Wawali Harris


Suasana hangat halal bihalal di Gedung Sate mempertemukan para kepala daerah se-Jawa Barat, termasuk Abdul Harris Bobihoe dan Gubernur Dedi Mulyadi. Di tengah senyum dan saling memaafkan, terselip harapan klasik warga: setelah kompak di momen Lebaran, apakah urusan di lapangan juga ikut dibereskan?

 — KOTA BANDUNG | Ada yang berbeda dari halaman Gedung Sate, Senin (30/3/2026). Selain suasana Lebaran yang masih terasa di udara—lengkap dengan senyum, baju lebaran maupun khas tradisional, dan mungkin sedikit sisa opor di perut—para kepala daerah se-Jawa Barat berkumpul dalam satu agenda sakral: halal bihalal.

Di antara mereka, tampak Wakil Walikota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe, yang hadir dengan misi mulia: bersalaman, bermaafan, dan—kalau bisa—sekalian sinkronisasi program yang biasanya baru kepikiran setelah rapat ketiga.

Acara ini juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi alias KDM, yang menjadi pusat gravitasi jabat tangan hari itu.

Satu per satu kepala daerah maju, menyalami, sambil menyampaikan “mohon maaf lahir batin”—sebuah kalimat sakti yang secara budaya bisa mereset banyak hal, kecuali mungkin laporan progres pembangunan yang belum selesai.

Dalam suasana penuh kehangatan itu, Harris Bobihoe menyampaikan bahwa halal bihalal bukan sekadar seremoni tahunan, tapi momentum untuk memperkuat kekompakan antar kepala daerah.

Sebuah pernyataan yang terdengar sederhana, tapi diam-diam punya beban berat: kompak itu mudah di foto, tapi yang agak menantang itu adanya di implementasi.

Kompak dalam menyelesaikan persoalan yang ada, bersinergi antar daerah serta menghasilkan solusi,” ujar Harris, dengan nada optimistis yang—kalau dijadikan proyek—semoga tidak masuk kategori multiyears.

Ia juga menambahkan bahwa percepatan pembangunan membutuhkan hal-hal yang lebih nyata. Pernyataan ini terdengar seperti pengingat halus bahwa masyarakat mungkin sudah cukup kenyang dengan konsep, dan mulai lapar pada realisasi.

Menariknya lagi, Harris menyinggung soal inovasi. Katanya, inovasi tidak hanya lahir dari ruang kerja, tapi juga dari turun langsung ke lapangan.

Sebuah ide segar yang secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa mungkin, selama ini, beberapa inovasi memang terlalu nyaman di ruangan ber-AC.

Inovasi lahir ketika kita melihat fenomena lingkungan,” ujarnya. Dan warga pun mungkin berharap, fenomena seperti jalan rusak, banjir musiman, atau proyek mangkrak bisa segera naik kelas—dari sekadar fenomena menjadi prioritas.

Di balik hangatnya halal bihalal ini, ada harapan yang ikut bersalaman: semoga setelah kata “maaf” diucapkan, kata “tuntas” bisa segera menyusul.

Karena bagi warga, kekompakan bukan hanya soal foto bersama di Gedung Satetapi tentang bagaimana masalah di daerah bisa benar-benar selesai, bukan sekadar silaturahmi yang berulang tiap tahun.

Dan seperti biasa, Lebaran mengajarkan kita satu hal: memaafkan itu penting. Tapi memperbaiki, itu yang lebih ditunggu. [■]

Reporter: Hery - Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama