Halal Bihalal di Gedung Sate: Dari Maaf-Maafan s/d “Deadline Pembangunan" —Heboh, Ini Kata Wawali Harris
Suasana hangat halal bihalal di Gedung Sate mempertemukan para kepala daerah se-Jawa Barat, termasuk Abdul Harris Bobihoe dan Gubernur Dedi Mulyadi. Di tengah senyum dan saling memaafkan, terselip harapan klasik warga: setelah kompak di momen Lebaran, apakah urusan di lapangan juga ikut dibereskan?
Di antara mereka, tampak Wakil Walikota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe, yang hadir dengan misi mulia: bersalaman, bermaafan, dan—kalau bisa—sekalian sinkronisasi program yang biasanya baru kepikiran setelah rapat ketiga.
Acara ini juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi alias KDM, yang menjadi pusat gravitasi jabat tangan hari itu.
Satu per satu kepala daerah maju, menyalami, sambil menyampaikan “mohon maaf lahir batin”—sebuah kalimat sakti yang secara budaya bisa mereset banyak hal, kecuali mungkin laporan progres pembangunan yang belum selesai.
Dalam suasana penuh kehangatan itu, Harris Bobihoe menyampaikan bahwa halal bihalal bukan sekadar seremoni tahunan, tapi momentum untuk memperkuat kekompakan antar kepala daerah.
Sebuah pernyataan yang terdengar sederhana, tapi diam-diam punya beban berat: kompak itu mudah di foto, tapi yang agak menantang itu adanya di implementasi.
“Kompak dalam menyelesaikan persoalan yang ada, bersinergi antar daerah serta menghasilkan solusi,” ujar Harris, dengan nada optimistis yang—kalau dijadikan proyek—semoga tidak masuk kategori multiyears.
Ia juga menambahkan bahwa percepatan pembangunan membutuhkan hal-hal yang lebih nyata. Pernyataan ini terdengar seperti pengingat halus bahwa masyarakat mungkin sudah cukup kenyang dengan konsep, dan mulai lapar pada realisasi.
Menariknya lagi, Harris menyinggung soal inovasi. Katanya, inovasi tidak hanya lahir dari ruang kerja, tapi juga dari turun langsung ke lapangan.
Sebuah ide segar yang secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa mungkin, selama ini, beberapa inovasi memang terlalu nyaman di ruangan ber-AC.
“Inovasi lahir ketika kita melihat fenomena lingkungan,” ujarnya. Dan warga pun mungkin berharap, fenomena seperti jalan rusak, banjir musiman, atau proyek mangkrak bisa segera naik kelas—dari sekadar fenomena menjadi prioritas.
Di balik hangatnya halal bihalal ini, ada harapan yang ikut bersalaman: semoga setelah kata “maaf” diucapkan, kata “tuntas” bisa segera menyusul.
Karena bagi warga, kekompakan bukan hanya soal foto bersama di Gedung Sate—tapi tentang bagaimana masalah di daerah bisa benar-benar selesai, bukan sekadar silaturahmi yang berulang tiap tahun.
Dan seperti biasa, Lebaran mengajarkan kita satu hal: memaafkan itu penting. Tapi memperbaiki, itu yang lebih ditunggu. [■]
Tags
Gubernur
Gubernur Jabar
Gubernur KDM
Halal Bi Halal
Harris Bobihoe
Idul Fitri
Lebaran
Wakil Walikota
Wakil Walikota Bekasi
