Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Kampus UMI (eks UNISMA) Gelar Dialog Toleransi Lintas Keyakinan Se-Dunia

iklan banner AlQuran 30 Juz

International Youth Interfaith Dialogue di UMI, Ketika Pemuda Lintas Agama Perkuat Toleransi Se-Dunia

jabar-online.com | Ahad, 2 Mei 2026, 19:05 WIB | Her / DikRizal

Wakil Ketua ICMI Orwil Prov Jabar, H. Jawadul Akbar Holid, "Moderasi beragama di Indonesia yaitu cara beragama yang jalan tengah, tidak ekstrem ke kanan, tidak liberal ke kiri. Tujuannya biar beda agama dan beda pemahaman bisa hidup bareng tanpa ribut, jelas Jawadul Akbar lagi, Konsep ini resmi dipromosikan Kemenag sejak 2019 dan jadi salah satu program prioritas nasional."

KOTA BEKASI | Semangat memperkuat toleransi dan persatuan di tengah keberagaman ditunjukkan melalui kegiatan International Youth Interfaith Dialogue yang diinisiasi Pemuda ICMI Kota Bekasi digelar di UMI eks UNISMA atau Universitas Muhammadiyah Indonesia Kota Bekasi pada Sabtu (2/5/2026).

Forum ini menghadirkan para tokoh muda lintas agama untuk berdialog secara terbuka mengenai isu kebangsaan, kemanusiaan, serta peran generasi muda dalam merawat kerukunan.

Dipandu oleh moderator Andi Ibrahim Ali, diskusi berlangsung dinamis dengan menghadirkan pembicara seperti Danyal Ahmad dan Abubakar Sheh Tarasa.

Selain itu, turut hadir perwakilan dari berbagai agama di Indonesia, yakni Muhsinin Mabrur (Islam), Mike Verawati (Katolik), Thony Ronaldo (Kristen), Ganies Esa Manura (Hindu), Rinto Supriadi, S.Pd (Buddha), serta Aldi Destian Satya (Konghucu).

Kehadiran mereka memberikan perspektif yang beragam sekaligus memperkaya pemahaman peserta terhadap pentingnya saling menghormati perbedaan.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Walikota Bekasi, Tri Adhianto, yang memberikan dukungan terhadap terselenggaranya dialog lintas agama sebagai upaya memperkuat nilai toleransi dan persatuan di tengah masyarakat.

Kehadiran pemerintah daerah ini menjadi bentuk sinergi antara pemuda dan pemangku kebijakan dalam menjaga harmoni sosial.


Dialog para narasumber berlangsung secara dinamis dengan menggunakan dua bahasa, yakni Inggris dan Indonesia, sehingga menjangkau audiens yang lebih luas sekaligus mencerminkan semangat keterbukaan dalam forum internasional.

Pembahasan yang disampaikan pun tidak lepas dari realita dan relevansi kehidupan masyarakat saat ini, khususnya dalam konteks hidup berdampingan di tengah perbedaan suku, agama, dan latar belakang budaya.

Melalui pendekatan tersebut, dialog ini mampu menghadirkan perspektif yang kontekstual sekaligus solutif dalam merawat keharmonisan di tengah keberagaman.

Bangsa Indonesia sejatinya memiliki kekayaan kultur dan peradaban yang telah lama menjadi fondasi dalam memahami perbedaan, termasuk dalam kehidupan beragama.

Nilai-nilai seperti tenggang rasa, gotong royong, dan saling menghormati telah mengakar dalam kehidupan masyarakat sebagai kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.

Namun demikian, dalam dinamika sosial belakangan ini, penguatan kembali nilai-nilai tersebut menjadi upaya yang kembali digaungkan secara lebih massif, seiring dengan tantangan zaman yang menuntut kesadaran kolektif untuk terus menjaga harmoni di tengah keberagaman.

Di tempat berbeda dan hari yang sama, Wakil Ketua ICMI Orwil Provinsi Jawa Barat, H. Jawadul Akbar Holid menyatakan hal serupa terkait kegiatan Dwi bahasa berskala internasional ini.

"Moderasi beragama di Indonesia yaitu cara beragama yang jalan tengah, tidak ekstrem ke kanan, tidak liberal ke kiri," ungkap Haji Jawadul Akbar kepada JabarOL via WhatsApp-nya, Ahad (3/5/2026).

Tujuannya biar beda agama dan beda pemahaman bisa hidup bareng tanpa ribut, jelas Jawadul Akbar lagi, Konsep ini resmi dipromosikan Kemenag sejak 2019 dan jadi salah satu program prioritas nasional.

"Singkatnya  beragama yang serius, tapi tidak memaksa orang lain ikut cara kita, apalagi dengan kekerasan." pungkas Haji JAH.

Sebagai penutup, kegiatan ini diakhiri dengan doa bersama lintas agama yang dipanjatkan secara khidmat oleh seluruh peserta dan narasumber.

Momen tersebut menjadi simbol kuat persatuan di tengah keberagaman, dengan harapan agar kehidupan masyarakat yang majemuk dapat terus berjalan harmonis, damai dan berkelanjutan.

Meskipun diwarnai oleh berbagai beraneka ragam perbedaan yang ada, kita sudah paham Bhinneka Tunggal Ika. [■]

Reporter: Hery / Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama