Menkomdigi Meutya Hafid Jadi Keynote Speaker ICEC 2026, PSU Bekasi Perkuat Jejaring Global PAUD
jabar-online.com | Sabtu, 20 Juni 2026, 11:30 WIB | Bach/DR
— KOTA BEKASI | Transformasi digital yang kian masif telah mengubah cara anak-anak tumbuh, belajar, dan berinteraksi. Kehadiran layar, algoritma, internet, hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence) menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru dalam pendidikan anak usia dini.
“Yang membuat saya terharu bukan hanya jumlah peserta yang hadir, tetapi dari mana mereka hadir. Guru-guru PAUD dari berbagai pelosok Indonesia tetap mengikuti forum internasional ini dengan semangat luar biasa. Itu membuat kami yakin bahwa PAUD Indonesia sedang bergerak maju, dan ini baru permulaan,” pungkasnya. [■]
Siapa sangka Bekasi menjadi titik temu para pakar internasional yang membahas satu persoalan yang kini bikin banyak orang tua mengelus dada: anak-anak makin akrab dengan gadget sebelum mengenal dunia nyata. Melalui ICEC 2026, Universitas Panca Sakti Bekasi mengumpulkan para ahli dari tiga negara untuk mencari formula agar transformasi digital tidak menggerus karakter generasi masa depan.
— KOTA BEKASI | Transformasi digital yang kian masif telah mengubah cara anak-anak tumbuh, belajar, dan berinteraksi. Kehadiran layar, algoritma, internet, hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence) menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru dalam pendidikan anak usia dini.Persoalan tersebut menjadi perhatian utama dalam The 8th International Conference on Early Childhood Education (ICEC) 2026 yang sukses diselenggarakan Universitas Panca Sakti (PSU) Bekasi, Sabtu (20/6/2026).
Mengusung tema “Digital Transformation in Early Childhood Education to Realize Inclusive, Safe, and of Good Character Generation”, konferensi internasional tersebut digelar secara hybrid dengan pusat kegiatan di kampus Universitas Panca Sakti Bekasi serta diikuti peserta secara daring melalui platform Zoom dari berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan ini menjadi semakin istimewa dengan kehadiran Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Hj. Meutya Viada Hafid, B.Eng., M.IP., yang tampil sebagai keynote speaker.
Dalam paparannya, Menteri Komdigi menegaskan bahwa perlindungan anak di ruang digital bukan hanya menjadi persoalan nasional, melainkan telah menjadi tantangan global yang memerlukan kerja sama berbagai pihak.
Menurut Meutya, platform digital tidak mengenal batas negara sehingga upaya melindungi anak dari berbagai risiko di ruang siber membutuhkan kolaborasi lintas negara, lintas sektor, serta lintas disiplin ilmu.
“Teknologi membuka peluang besar untuk belajar dan berkreasi, tetapi juga membawa risiko berupa paparan konten berbahaya, eksploitasi digital, perundungan siber, hingga kecanduan platform. Karena itu Indonesia mengambil langkah melalui PP TUNAS dengan prinsip sederhana, yaitu tunggu anak siap. Anak tidak dilarang mengenal teknologi, tetapi akses digital harus diberikan sesuai usia, tingkat kematangan, dan risiko yang dihadapi,” ujar Meutya.
Konferensi internasional tersebut menghadirkan akademisi dan praktisi dari Indonesia, Malaysia, hingga Amerika Serikat.
Forum ini mempertemukan para peneliti, pengambil kebijakan, praktisi pendidikan, serta pemerhati pendidikan anak usia dini untuk membahas bagaimana perkembangan teknologi dapat diadaptasi tanpa menghilangkan nilai kemanusiaan, budaya, serta pembentukan karakter.
Empat pembicara utama lintas negara turut memberikan perspektifnya masing-masing. Matthew Anderson, M.Sc., Executive Director Mosaic Action USA, mengulas pentingnya inklusivitas digital dalam pendidikan anak usia dini.
Sementara Dr. Payal Shah dari Indiana University Bloomington, Amerika Serikat, memaparkan hasil-hasil riset terkini mengenai pendidikan anak usia dini.
Dari Malaysia, Prof. Datin Dr. Mariani Md Nor dari ARNEC membahas pengembangan anak usia dini dalam konteks kawasan Asia.
Adapun Dr. Ajat, S.H., M.Pd. dari Universitas Panca Sakti Bekasi menyampaikan implementasi media pembelajaran digital pada pendidikan anak usia dini di Indonesia.
Ketua Panitia ICEC 2026, Dr. Ajat, S.H., M.Pd., mengatakan bahwa konferensi ini tidak semata menjadi forum akademik, tetapi juga dirancang sebagai ruang kolaborasi global untuk memperkuat masa depan pendidikan anak usia dini.
“Kami ingin ICEC ke-8 menjadi momentum untuk memperkuat jejaring global PAUD. Transformasi digital harus ditempatkan sebagai sarana untuk menciptakan layanan pendidikan anak usia dini yang lebih aman, inklusif, bermakna, dan menggembirakan,” ujarnya.
Menurut Ajat, antusiasme peserta dari berbagai daerah menjadi bukti besarnya semangat para pendidik PAUD Indonesia untuk terus belajar dan berkembang, meski sebagian besar masih menghadapi keterbatasan sarana dan fasilitas.
“Yang membuat saya terharu bukan hanya jumlah peserta yang hadir, tetapi dari mana mereka hadir. Guru-guru PAUD dari berbagai pelosok Indonesia tetap mengikuti forum internasional ini dengan semangat luar biasa. Itu membuat kami yakin bahwa PAUD Indonesia sedang bergerak maju, dan ini baru permulaan,” pungkasnya. [■]
Tags
Internasional
Kemendikdasmen
PAUD
Pendidikan
Pendidikan Anak
Pendidikan Anak Usia Dini
PSU
Seminar
Seminar Pendidikan
Taman Bermain
Universitas
Universitas Panca Sakti




