Pasca Penundaan Pleno TKKT VII, Warga Ingin Agar Katar Lebih Sering Hadir Bekerja Nyata, Bukan Cuma Seremoni
jabar-online.com | Ahad, 21 Juni 2026, 04:05 WIB | Buluq/Machia
— KOTA BEKASI | Dinamika Temu Karya Karang Taruna (TKKT) VII Kota Bekasi 2026 tak hanya menjadi perhatian para pengurus organisasi, tetapi juga masyarakat yang selama ini bersentuhan langsung dengan aktivitas Karang Taruna di lingkungan RT, RW, kelurahan hingga kecamatan.
Siapa Ketua Katar Kota Bekasi mungkin tak semua warga tahu. Tapi siapa yang sibuk pasang umbul-umbul, gelar lomba HUT RI, bantu korban banjir, hingga turun saat ada warga berduka, masyarakat justru lebih mengenalnya. Karena itu, di tengah dinamika Temu Karya Karang Taruna VII Kota Bekasi yang angkat isu transparansi dan konsolidasi organisasi, muncul harapan agar Karang Taruna tidak terjebak pada popularitas pengurus semata, melainkan kembali perkuat perannya sebagai garda terdepan kegiatan sosial dan kepemudaan di lingkungan masyarakat.
— KOTA BEKASI | Dinamika Temu Karya Karang Taruna (TKKT) VII Kota Bekasi 2026 tak hanya menjadi perhatian para pengurus organisasi, tetapi juga masyarakat yang selama ini bersentuhan langsung dengan aktivitas Karang Taruna di lingkungan RT, RW, kelurahan hingga kecamatan.Sejumlah fakta yang mengemuka dalam forum tersebut, mulai dari penundaan pelaksanaan, pembahasan laporan pertanggungjawaban (LPJ), hingga tuntutan keterbukaan dan transparansi organisasi, menjadi bagian dari proses demokrasi yang dinilai wajar dalam tubuh organisasi kepemudaan.
Persoalan tersebut justru menunjukkan adanya keinginan bersama agar Karang Taruna Kota Bekasi semakin sehat dan akuntabel dalam menjalankan roda organisasi.
Namun, bagi sebagian warga, yang lebih penting dari dinamika internal kepengurusan adalah bagaimana organisasi itu hadir dan bekerja nyata di tengah masyarakat.
Di tingkat RT dan RW, Karang Taruna selama ini identik dengan berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Mulai dari perayaan Hari Kemerdekaan RI, kerja bakti lingkungan, pengamanan malam takbiran, kegiatan Ramadan, donor darah, hingga penanganan banjir dan bantuan bagi warga yang tertimpa musibah.
"Kalau 17 Agustusan, anak-anak Karang Taruna yang paling sibuk. Dari cari sponsor, bikin lomba sampai beres-beres. Kalau enggak ada mereka, suasana kampung sepi," kata Yanto (53), warga Kelurahan Durenjaya, Kecamatan Bekasi Timur.
Hal senada disampaikan Nuraini (47), warga Rawalumbu. Menurutnya, Karang Taruna merupakan organisasi yang paling mudah digerakkan ketika ada kegiatan sosial di lingkungan.
"Kalau ada warga meninggal, kebakaran, atau kerja bakti, mereka yang paling cepat turun. Cuma kadang habis acara selesai, kegiatannya seperti hilang lagi," ujarnya.
Pengamatan warga menunjukkan bahwa kualitas Karang Taruna di Kota Bekasi tidak merata. Ada wilayah yang aktif dan produktif dengan berbagai program pemberdayaan UMKM, olahraga dan kepemudaan.
Namun tidak sedikit pula yang hanya hidup saat momentum tertentu, seperti peringatan HUT RI atau menjelang pemilihan kepengurusan.
Di tingkat kelurahan dan kecamatan, sebagian masyarakat menilai koordinasi antar pengurus masih perlu diperkuat.
Bahkan tidak sedikit warga yang mengaku lebih mengenal pengurus Karang Taruna tingkat RT dibandingkan pengurus tingkat kota.
"Kami tahu Karang Taruna lingkungan karena sering ketemu. Tapi siapa Ketua Karang Taruna Kota Bekasi, programnya apa, banyak warga yang tidak tahu," ujar Rudi, warga Mustikajaya.
Karena itu, pesan Walikota Bekasi Tri Adhianto dalam pembukaan TKKT VII agar Karang Taruna menjadi organisasi yang solid dan tidak bertumpu pada popularitas figur tertentu dinilai sejalan dengan harapan masyarakat.
Bagi warga, ukuran keberhasilan Karang Taruna bukanlah seberapa ramai dinamika politik organisasinya, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.
Mereka berharap kepengurusan baru hasil Temu Karya VII Katar 2026 nantinya bisa menjawab sejumlah persoalan yang selama ini menjadi perhatian, mulai dari penguatan komunikasi organisasi, transparansi program dan keuangan, hingga pemerataan pembinaan Karang Taruna di tingkat kelurahan dan RW.
"Yang penting jangan cuma ramai pas pemilihan ketua. Setelah itu hilang. Masyarakat tahunya Karang Taruna itu yang ada saat warga butuh," kata Dian Herdi dari Kecamatan Jatiasih.
Harapan serupa juga muncul agar Karang Taruna Kota Bekasi tidak sekadar menjadi organisasi seremonial, melainkan mampu menjadi rumah besar bagi generasi muda dalam bidang sosial, olahraga, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan masyarakat.
Sebab di mata warga, keberadaan Karang Taruna sesungguhnya bukan diukur dari seberapa besar nama para pengurusnya, melainkan dari seberapa sering organisasi itu hadir dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat di lingkungan tempat mereka tinggal. [■]



