Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Pekan Budaya Bekasi dan “Perang Sunyi” Menjaga Identitas Kota

iklan banner AlQuran 30 Juz banner #1 AlQuran 30 Juz

Wayang, Festival Budaya, dan Harapan Pelaku Seni atas Lahirnya Dewan Kesenian Kebudayaan Kota Bekasi

jabar-online.com | Ahad, 17 Mei 2026, 13:35 WIBHer/Why/DR

Di tengah citra Bekasi yang lebih sering viral karena macet, suhu panas, dan meme “planet lain”, geliat budaya justru mulai mencuri perhatian. Lewat Pekan Budaya Bekasi, seni wayang kembali dihidupkan sebagai pendidikan karakter Gen-Z. Para pelaku seni pun mulai berharap pemerintah benar-benar serius membangun Dewan Kesenian dan Kebudayaan, bukan sekadar “festival musiman habis panggung dibongkar seniman kembali ngopi utang”.

 — KOTA BEKASI | Di tengah hiruk-pikuk Kota Bekasi yang selama ini lebih sering dikenal lewat kemacetan, kawasan industri, dan meme “planet lain”, denyut kebudayaan ternyata masih terus hidup.

Bahkan, denyut itu kini mulai terdengar lebih keras melalui rangkaian Pekan Budaya Bekasi yang kembali mengangkat seni tradisi sebagai bagian dari pendidikan karakter generasi muda.


Hadir dalam acara ini, Komunitas Pelestari Seni Budaya (KPSB) Bekasi, yang diketuai oleh Baba Rudi Yamin, juga Komunitas BELANTARA Sastra: Seni Budaya dan Kreasi yang diketuai oleh Umar Tadjuddin.


Salah satu yang paling menyita perhatian adalah upaya revitalisasi seni wayang yang digagas melalui pendekatan edukatif oleh atau yang akrab disapa Ki Dalang Wawan Ajen.

Bagi sebagian warga Bekasi, festival budaya semacam ini bukan lagi sekadar agenda seremoni tahunan yang ramai spanduk lalu hilang setelah panggung dibongkar.


Ada harapan baru bahwa seni budaya akhirnya mulai diposisikan sebagai bagian penting pembangunan kota.

Di tengah derasnya arus digital dan budaya populer global, wayang justru hadir sebagai “obat penenang” sosial.


Anak-anak yang sehari-hari akrab dengan layar ponsel, mulai diperkenalkan kembali pada tokoh Cepot, Semar, dan kisah-kisah moral yang selama ini nyaris kalah saing dengan konten joget 15 detik.

Anak-anak jangan hanya diberi tahu tentang budaya, tetapi harus diberi ruang untuk menyentuh, memainkan, dan merasakan langsung,” ujar Wawan Ajen dalam sesi pelestarian budaya pada Pekan Budaya Bekasi.kepada awak media.

Pendekatan itu dilakukan melalui pembinaan intensif di Sanggar Wayang Ajen.


Anak-anak tidak hanya belajar memainkan wayang, tetapi juga diajak memahami nilai keberanian, sopan santun, hingga kemampuan berbicara di depan publik.

Menariknya, cara pandang lama soal wayang yang dulu dianggap “sakral dan jangan disentuh” mulai dibalik. Kini, generasi muda justru didorong untuk dekat dengan budaya agar tumbuh rasa memiliki.

Budaya akan hidup kalau dekat dengan generasi muda,” kata Wawan Ajen.


Pernyataan itu terasa relevan dengan situasi sosial perkotaan saat ini. Bekasi sebagai kota penyangga ibu kota mengalami pertumbuhan sangat cepat, tetapi dalam banyak kesempatan justru menghadapi tantangan pudarnya identitas lokal.

Di sinilah festival budaya menjadi penting. Bukan sekadar hiburan, melainkan ruang mempertahankan ingatan kolektif warga.

Pengamat sosial yang juga dikenal dengan nama nyentrik Sidik Warkop (Wartawan Komedian Ompong Ngetop) melihat fenomena ini sebagai momentum penting bagi arah kebudayaan Kota Bekasi.


Menurut dia, selama bertahun-tahun para pelaku seni budaya di Bekasi sering berada pada posisi “hidup segan tampil tak diundang”.

Kalau ada festival, seniman dipanggil. Kalau acara selesai, ya balik lagi nyari nasi uduk sendiri,” ujar Sidik sambil tertawa.

Namun di balik kelakar khasnya, Sidik menilai mulai muncul kesadaran baru bahwa sektor budaya berkaitan langsung dengan pariwisata dan ekonomi kreatif.


Sekarang pemerintah mulai sadar, ternyata budaya itu bukan cuma urusan gamelan sama kebaya. Ini bisa jadi ekonomi. Orang datang nonton festival, pedagang laku, UMKM hidup, konten kreator juga panen views,” katanya.

Pandangan itu tidak berlebihan. Dalam berbagai kota besar, festival budaya memang berkembang menjadi penggerak ekonomi lokal.

Hotel, kuliner, transportasi, hingga industri kreatif ikut bergerak ketika agenda budaya dikemas serius dan berkelanjutan.


Karena itu, munculnya wacana penguatan kelembagaan kebudayaan melalui pembentukan Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bekasi (DK3B) dinilai menjadi angin segar bagi pelaku seni.

Banyak komunitas budaya berharap keberadaan lembaga tersebut nantinya tidak hanya menjadi simbol administratif atau sekadar tempat rapat penuh proposal.

Para seniman berharap ada keberpihakan nyata melalui regulasi daerah, dukungan anggaran, ruang kreatif, hingga perlindungan ekosistem budaya lokal.


Sidik Warkop bahkan menyebut para pelaku seni di Bekasi selama ini seperti “pejuang budaya sistem survival”.

Kadang latihan pakai uang sendiri, panggung numpang, sound system pinjam, pulang pentas masih mikir bensin,” katanya.

Karena itu, menurut dia, ketika pemerintah mulai membuka jalan lewat PERDA dan penguatan Dewan Kesenian Kebudayaan, masyarakat tentu berharap langkah itu tidak berhenti di baliho ucapan selamat.

Jangan sampai nanti Dewan Kesenian Kebudayaan cuma ramai pas pelantikan. Habis itu senimannya tetap tampil pakai kabel colokan tiga disambung lakban,” ujarnya berseloroh.


Di sisi lain, langkah yang dilakukan Wawan Ajen melalui sistem mentoring dan adaptasi wayang ke bahasa Inggris menunjukkan bahwa seni tradisi sebenarnya mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan ruhnya.

Wayang tidak lagi dipandang sebagai seni kuno yang sulit dipahami generasi muda, melainkan media pendidikan karakter sekaligus diplomasi budaya.

Pendekatan penta helix yang melibatkan pemerintah, akademisi, media, komunitas budaya, dan masyarakat juga dianggap menjadi kunci agar pelestarian budaya tidak berjalan sendiri-sendiri.


Bagi warga Bekasi baik kota maupun kabupaten, harapan terbesar dari festival budaya semacam ini sesungguhnya sederhana: budaya lokal jangan hanya hidup di panggung acara seremonial, tetapi benar-benar menjadi identitas kota.

Sebab di tengah kota yang terus tumbuh menjadi kawasan urban modern, masyarakat tetap membutuhkan akar budaya agar Bekasi tidak sekadar dikenal sebagai kota transit industri, melainkan kota yang punya karakter dan jiwa.

Dan mungkin benar seperti celetukan Sidik Warkop, Kalau budaya hidup, kota jadi punya rasa. Kalau budaya mati, kota cuma tinggal ruko sama lampu merah.” [■]

Reporter: Hery / Wahyu / NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
bannerIBOSExpo2026 banner#01Kemitraan WaralabaPers bannerbawah#02 bannerbawah#03 bannerbawah#04

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
DREWcorp property of JABAR-ONLINE.COM