Isra Mi’raj PWI Bekasi: Ulama Bicara Akhlak, Aparat Ingatkan Etika Berita
Dari Peringatan Isra' Mi'raj PWI Bekasi Raya ke Ruang Redaksi, Pesan Moral &! Kehati-hatian Informasi Jadi Sorotan
Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang digelar PWI Bekasi Raya, Jumat (30/1/2026), tak hanya diisi tausiyah dan santunan, tetapi juga memunculkan pesan tegas soal akhlak, etika pemberitaan, dan pentingnya menjaga kesejukan informasi di tengah masyarakat.
Bukan sekadar seremoni keagamaan, kegiatan ini juga dirangkai dengan santunan anak yatim piatu serta pesan-pesan reflektif tentang akhlak, etika informasi, dan harmoni sosial di Kota Bekasi.
Ulama, Pers, dan Aparat Bertemu di Isra Mi’raj PWI Bekasi: Dari Spiritualitas hingga Etika Pemberitaan
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi, KH Syaifuddin Siroj, yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj sarat nilai kehidupan yang relevan dengan konteks sosial hari ini.
“Di peristiwa Isra Mi’raj terkandung nilai guidance of life yang menekankan makna spiritualitas dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar KH Syaifuddin dalam wawancara singkatnya.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut mengajarkan pentingnya menjaga dan merawat kehidupan melalui penguatan akhlak, tanggung jawab sosial, serta kepedulian terhadap sesama.
Dalam konteks kekinian, ia menilai insan pers memiliki peran strategis sebagai penjaga nalar publik melalui pemberitaan yang edukatif, menyejukkan, dan berorientasi pada pembangunan peradaban yang harmonis dan beradab.


Senada dengan itu, Kepala Sub Komando Garnisun Tetap (Subkogartap) 0507 Kota Bekasi, Mayor CPM Noeryadin, turut mengapresiasi peran PWI Bekasi Raya dalam menyelenggarakan kegiatan keagamaan yang inklusif dan bermakna sosial.
Ia menyampaikan terima kasih atas undangan yang diberikan serta mengapresiasi keterlibatan aktif wartawan dalam menyukseskan acara tersebut.
Mayor CPM Noeryadin secara khusus mengajak insan pers untuk terus memperkuat sinergi dengan aparat keamanan, sekaligus mengedepankan etika konfirmasi dalam setiap pemberitaan, terutama yang berkaitan dengan isu-isu sensitif di tengah masyarakat.
“Marilah kita bersama-sama saling menghormati satu sama lain dan tidak ada pelanggaran,” ujarnya saat ditanya mengenai makna inti peringatan Isra Mi’raj.
Ia mengingatkan bahwa kehati-hatian dalam menyajikan informasi sangat penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun gesekan antar lembaga.
Mayor CPM Noeryadin juga menekankan prinsip “ngewongke” atau memanusiakan antar lembaga—baik antara kepolisian, TNI termasuk Subkogartap—sebagai fondasi menjaga hubungan kerja yang harmonis dan saling menghormati.
Tak hanya kepada insan pers, ia juga mengajak masyarakat Kota Bekasi untuk terus menjaga toleransi antar umat manusia dan antar umat beragama.
Menurutnya, seluruh agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang menjadi pondasi penting dalam mencegah kriminalitas dan tawuran.
“Semua agama mengajarkan kebaikan. Mari kita saling merangkul, bergandengan, dan saling menghormati. Jika akhlak dan iman dikedepankan, insyaallah Kota Bekasi akan jauh dari pelanggaran yang merugikan orang lain,” tegasnya.
Lebih lanjut, Noeryadin menegaskan komitmen Subkogartap Kota Bekasi untuk mendukung seluruh kegiatan keagamaan di wilayah tersebut, baik peringatan hari besar Islam maupun perayaan keagamaan lainnya seperti Natal dan Galungan, sebagai bagian dari upaya menjaga kohesi sosial.
Diketahui, Mayor CPM Noeryadin merupakan perwira TNI lulusan abituren Panorama 16 tahun 2008, dengan latar belakang akademik di bidang Sosial Politik dan Hukum, serta menyatakan kesiapan untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral (S3).
Menutup rangkaian pesan reflektif nya, ia mengingatkan kembali esensi spiritual dari peringatan Isra Mi’raj. “Doa adalah senjata yang mutakhir,” pungkasnya. [■]


