Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Piring Anak Bangsa Jangan Diuji Coba: MBG Harus Layak, Aman, dan Serius!

iklan banner AlQuran 30 Juz

Menjaga Masa Depan Anak Bangsa jelang Indonesia Emas dari Dapur SPPG yang Bertanggung Jawab & Profesional

jabar-online.com | Sabtu, 21 Feb 2026 - 16:21 WIB | Hery / DR

Anak-anak sekolah adalah konsumen paling jujur: kalau makanannya kurang, mereka tahu; kalau rasanya aneh, mereka merasakan. Program MBG di Kota Depok seharusnya menjadi jawaban atas kebutuhan gizi nasional, bukan justru memunculkan kekhawatiran baru. Karena masa depan Indonesia 2045 tidak boleh ditentukan oleh dapur yang lalai.

KOTA DEPOK | Di tengah sorotan publik terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), langkah peningkatan kompetensi para pelaku dapur di Kota Depok menjadi momentum penting untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat—terutama anak-anak sebagai penerima manfaat utama program tersebut.

Sebagaimana diketahui, Jawa Barat melalui sejumlah pemberitaan media kerap disorot sebagai provinsi dengan insiden kejadian luar biasa (KLB) terbanyak seperti dugaan keracunan makanan, porsi yang dinilai minim, hingga kualitas hidangan yang dipertanyakan kesesuaiannya dengan standar gizi nasional.


Kondisi ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menyentuh langsung hak dasar anak bangsa atas asupan yang sehat, aman, dan layak serta standard kualifikasi para petugas di Dapur SPPG mulai dari Chef, Asisten Cook, Cook Helper hingga profesi di lini terdepan, yakni para petugas penjamah makanan, yang bertugas mempersiapkan sajian dan membagikan makanan ke para siswa penerima manfaat MBG.

Di Kota Depok, pelatihan dan sertifikasi Cook Helper serta Chef de Partie yang digelar Pasatama Institute di Hotel Savero pada Sabtu (21/2) menjadi salah satu ikhtiar konkret untuk memperbaiki fondasi kualitas layanan dapur dalam program MBG.

Kegiatan ini diikuti para pelaku dapur SPPG yang terlibat dalam distribusi makanan bagi peserta program.


Direktur Utama Pasatama Institute, Coach Arsyam Dwi, menegaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya berfokus pada keterampilan memasak, tetapi juga pada manajemen katering, proses keamanan pangan (food safety process), serta tata kelola dapur profesional sesuai standar Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Penekanan pada aspek food handler atau penjamah makanan menjadi titik krusial, karena di sanalah kualitas higienitas dan keamanan pangan sangat ditentukan.

Bagi anak-anak sebagai konsumen akhir program MBG, dapur bukan sekadar ruang produksi makanan.

Ia adalah titik awal dari kualitas tumbuh kembang, konsentrasi belajar, hingga daya tahan tubuh.

Ketika standar higienitas longgar atau pengawasan lemah, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi program, melainkan kesehatan generasi masa depan.

Pelatihan ini mencakup standar kerja dapur profesional, manajemen produksi, higienitas, hingga teknik pengolahan sesuai skema kompetensi Cook Helper dan Chef de Partie.

Peserta juga menjalani uji kompetensi oleh asesor tersertifikasi untuk memastikan kemampuan mereka benar-benar memenuhi standar industri.

Langkah ini patut diapresiasi sebagai bagian dari upaya preventif, bukan reaktif. Sebab dalam konteks program publik berskala besar seperti MBG, kualitas tidak boleh menunggu insiden terjadi terlebih dahulu.

Standar harus ditegakkan sejak hulu: dari pengadaan bahan, proses produksi, distribusi, hingga pengawasan konsumsi.

Ke depan, Pasatama Institute menyatakan pelatihan serupa akan diperluas ke berbagai kota besar sesuai kebutuhan SPPG.

Namun, peningkatan kapasitas SDM dapur harus berjalan beriringan dengan pengawasan yang konsisten, transparansi pelaporan, serta evaluasi berkala terhadap standar porsi dan nilai gizi.

Bagi masyarakat, khususnya para orang tua di kota Depok dan provinsi Jawa Barat, harapannya sederhana: anak-anak menerima makanan yang benar-benar bergizi, cukup, dan aman dikonsumsi. Bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif program.

Program MBG pada dasarnya adalah investasi negara terhadap kualitas generasi penerus dengan alasan

Maka, setiap sendok nasi yang tersaji di piring anak-anak Indonesia haruslah mencerminkan keseriusan, tanggung jawab, dan integritas seluruh pihak yang terlibat.

Di sanalah kualitas program akan diuji—bukan dalam seremoni, melainkan dalam kesehatan dan senyum anak bangsa setiap hari. [■]

Reporter: Hery  - Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

Chief Editor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama