Dari Sekretariat PWI Bekasi Raya ke Rumah Zakat, Obrolannya Mulai dari Silaturahmi, Ujungnya Bisa Jadi Program Sosial
Ada pertemuan yang selesai setelah kopi habis. Ada juga pertemuan yang justru baru dimulai setelah semua peserta pulang. Audiensi DKM Al Qolam PWI Bekasi Raya dengan Rumah Zakat Bekasi Raya tampaknya masuk kategori kedua. Bukan karena ada drama, apalagi “perang dingin”, melainkan karena kata sinergi yang muncul harus diuji dengan satu pertanyaan sederhana: habis silaturahmi, program konkretnya apa? Nah, di sinilah ceritanya mulai menarik.
— KOTA BEKASI | Kalau dua lembaga bertemu, ada yang namanya rapat. Kalau dua keluarga bertemu, namanya silaturahmi. Nah, kalau DKM Al Qolam PWI Bekasi Raya bertemu Rumah Zakat Bekasi Raya, ini menarik.Sebab, yang dibawa bukan cuma senyum, salam dan kopi.
Ada program sosial, kegiatan keagamaan, jejaring kolaborasi, sampai urusan bagaimana “gerakan kebaikan” bisa menjangkau masyarakat lebih luas.
Dengan kata lain: ini bukan sekadar “main ke rumah tetangga”. Ada pembicaraan soal bagaimana kebaikan bisa dibuat lebih terorganisir.
Pertemuan berlangsung di Sekretariat Rumah Zakat, Jalan Pahlawan, Duren Jaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jumat (11/9/2026).
Yang hadir dari DKM Al Qolam antara lain Ketua DKM Muhammad Dirham bersama Sekretaris Jimi Kuncoro, didampingi Ketua PWI Bekasi Raya Ade Muksin, S.H.
Kalau bahasa Bekasinya:
“Datengnya silaturahmi, tapi jangan-jangan pulangnya bawa PR.”
Dan PR-nya bukan bikin makalah.
Melainkan bagaimana sinergi itu benar-benar berubah menjadi kegiatan yang terasa manfaatnya.
Masjid Jangan Cuma Ramai Saat Azan
Dalam audiensi tersebut, Muhammad Dirham memaparkan sejumlah program dan rencana kegiatan DKM Al Qolam, baik bidang keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.
Pesannya cukup jelas: DKM ingin membangun jejaring.
Sebab, di zaman sekarang, mengurus kegiatan sosial tidak cukup hanya dengan semangat.
Semangat penting.
Tapi kalau programnya membutuhkan tenaga, jaringan, komunikasi, publikasi, donatur, relawan dan pengelolaan yang rapi, tentu ceritanya beda.
Niat baik perlu “mesin” supaya bisa jalan.
Dirham mengatakan DKM Al Qolam ingin membangun sinergitas dengan Rumah Zakat agar manfaat berbagai program sosial dan keagamaan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Nah, kalimat “lebih luas” ini yang patut dicermati.
Artinya, orientasinya bukan hanya aktivitas internal DKM.
Ada keinginan agar kegiatan itu punya dampak sosial yang lebih besar.
Kalau boleh dibikin ala infotainment:
“DKM Al Qolam mulai membuka pintu kolaborasi. Bukan cari jodoh, tapi cari partner berbuat baik.”
Ade Muksin: Jangan Berhenti di Foto Bersama
Ketua PWI Bekasi Raya Ade Muksin memberikan dukungan terhadap komunikasi yang dibangun antara DKM Al Qolam dan Rumah Zakat.
Namun ada satu pesan penting dari Ade: silaturahmi jangan berhenti sebatas seremoni.
Ini bagian yang justru paling menarik.
Karena di negeri ini, acara silaturahmi kadang nasibnya tragis.
Datang.
Ngobrol.
Foto.
Upload.
Caption: “Membangun sinergitas dan kolaborasi.”
Besoknya?
Sepi.
Nah, Ade tampaknya ingin menghindari model seperti itu.
Ia berharap pertemuan tersebut menghasilkan program konkret dan berkelanjutan, khususnya bidang sosial, keagamaan dan kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.
Jadi, ukuran keberhasilannya bukan seberapa bagus foto audiensinya.
Melainkan:
“Setelah ketemu, terus ngapain?”
Itulah pertanyaan pentingnya.
Masjid sebagai Pusat Kebaikan, Bukan Sekadar Tempat Ibadah
Ade juga menyoroti fungsi masjid atau mushola yang menurutnya memiliki ruang pengabdian jauh lebih luas.
Tempat ibadah, tentu.
Tetapi juga bisa menjadi pusat kegiatan sosial, pendidikan dan kepedulian terhadap sesama.
Di titik inilah keberadaan DKM Al Qolam menjadi menarik.
Karena jika gagasan tersebut benar-benar diterjemahkan menjadi program, maka masjid bukan hanya menjadi tempat orang datang ketika waktunya shalat.
Tetapi bisa menjadi tempat masyarakat menemukan kegiatan pendidikan, santunan, pemberdayaan, kepedulian sosial hingga berbagai bentuk bantuan kemanusiaan.
Masjid tidak cuma punya pengeras suara. Punya juga peluang memperbesar suara kepedulian.
Dan kalau jejaringnya makin luas, suara itu tentu bisa terdengar lebih jauh.
Rumah Zakat Buka Pintu Kolaborasi
Dari pihak Rumah Zakat, Branch Manager Rumah Zakat Bekasi Ahmad Sadam Bustomi menyambut baik kehadiran Pengurus DKM Al Qolam PWI Bekasi Raya.
Rumah Zakat menyatakan kesiapan membangun sinergi dalam berbagai kegiatan yang memungkinkan untuk dikolaborasikan.
Sadam juga berharap kolaborasi tersebut menjadi awal semakin luasnya syiar dan informasi mengenai berbagai program kebaikan kepada masyarakat.
Nah, di sini terlihat satu kata yang berulang dalam pertemuan tersebut:
“Kolaborasi.”
Kata yang sekarang memang sering muncul di mana-mana.
Dinas kolaborasi.
Komunitas kolaborasi.
Organisasi kolaborasi.
UMKM kolaborasi.
Sampai kalau dua orang jualan gorengan bareng pun kadang disebut kolaborasi.
Tapi kolaborasi yang dimaksud DKM Al Qolam dan Rumah Zakat tentu bukan sekadar istilah keren untuk backdrop acara.
Yang lebih penting adalah apa bentuk kerja samanya nanti.
Ada Infak.id, Kebaikan Masuk Era Digital
Dalam audiensi itu, Rumah Zakat juga memperkenalkan Infak.id, sebuah platform yang dapat digunakan untuk mendukung pengelolaan dan gerakan kebaikan berbasis digital.
Ini juga bukan bagian yang bisa dianggap sambil lalu.
Sebab perilaku masyarakat sudah berubah.
Dulu kalau mau bersedekah, orang mungkin menyiapkan uang tunai.
Sekarang?
HP ada di tangan.
Dompet digital ada.
QR ada.
Internet ada.
Tinggal pertanyaannya:
“Kebaikannya mau diarahkan ke mana?”
Digitalisasi filantropi pada akhirnya bukan sekadar soal teknologi.
Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi membantu memperluas akses, mempermudah partisipasi dan membuat gerakan sosial lebih terorganisir.
Jadi, kalau dulu masjid identik dengan kotak amal di depan mimbar, zaman sekarang kotak amalnya bisa punya “saudara digital”.
Kotaknya tetap ada, QR-nya ikut nongkrong.
Maksud Pertemuan Ini Sebenarnya Apa?
Kalau membaca keseluruhan pertemuan, setidaknya ada beberapa pesan yang bisa ditangkap.
Pertama, DKM Al Qolam tampaknya ingin memperluas jejaringnya.
Program sosial dan keagamaan membutuhkan partner. Rumah Zakat memiliki pengalaman dan jaringan dalam kegiatan sosial. Titik temunya ada di sini.
Kedua, ada upaya mengubah kegiatan DKM dari sekadar aktivitas internal menjadi gerakan yang berdampak lebih luas.
Ini penting.
Sebab keberadaan organisasi keagamaan idealnya tidak berhenti pada administrasi kepengurusan dan agenda rutin.
Ketiga, ada peluang integrasi antara kegiatan keagamaan, sosial dan teknologi digital.
Pengenalan Infak.id menjadi sinyal bahwa gerakan kebaikan juga perlu mengikuti perubahan perilaku masyarakat.
Keempat, dan ini yang paling penting:
Semua gagasan tersebut baru menjadi berarti apabila ada tindak lanjut.
Sebab kata “sinergi” itu gampang diucapkan.
Yang susah adalah membuat jadwal kegiatan, menentukan sasaran penerima manfaat, mencari sumber daya, menjalankan program, melakukan evaluasi dan memastikan bantuan benar-benar sampai kepada yang membutuhkan.
Jangan Sampai “Sinergi” Cuma Jadi Kata Sakti
Karena itu, publik tentu wajar kalau kemudian menunggu bentuk konkret dari pertemuan tersebut.
Misalnya, program sosial apa yang akan dijalankan?
Siapa kelompok masyarakat yang menjadi sasaran?
Bagaimana mekanisme penggalangan dan penyaluran bantuan?
Apakah akan ada program pendidikan?
Santunan?
Pemberdayaan ekonomi?
Bantuan bagi dhuafa?
Kegiatan kemanusiaan?
Atau program lain yang melibatkan jaringan PWI Bekasi Raya dan masyarakat?
Nah, di situlah episode berikutnya menarik untuk ditunggu.
Karena audiensi Jumat ini boleh disebut sebagai bab pembuka.
Belum ending.
Belum klimaks.
Baru trailer.
Kalau kemudian lahir program konkret, barulah publik bisa mengatakan:
“Oh, ternyata bukan cuma silaturahmi.”
Dari PWI, Masjid dan Rumah Zakat: Kalau Bersatu, Yang Dicari Harus Manfaat
Pertemuan DKM Al Qolam PWI Bekasi Raya dengan Rumah Zakat Bekasi Raya pada akhirnya memperlihatkan satu kebutuhan yang makin relevan: kebaikan membutuhkan kolaborasi.
Masjid punya basis komunitas.
Organisasi kewartawanan punya jaringan komunikasi dan informasi.
Lembaga filantropi memiliki pengalaman dalam pengelolaan program sosial.
Kalau ketiganya bisa dipertemukan dengan tata kelola yang baik, tentu ada potensi manfaat yang lebih besar.
Tetapi tetap ada catatan:
Jangan sampai energi habis di rapat, sementara manfaatnya belum sampai ke masyarakat.
Karena masyarakat tidak terlalu membutuhkan istilah-istilah keren.
Masyarakat membutuhkan sesuatu yang sederhana:
dibantu ketika membutuhkan, diberdayakan ketika punya potensi, dididik ketika membutuhkan pengetahuan, dan diperhatikan ketika sedang berada dalam kesulitan.
Jadi, kalau pertemuan Jumat ini adalah awal sebuah sinergi, publik tinggal menunggu kelanjutannya.
Sebab dalam urusan kebaikan, yang paling penting bukan siapa yang paling banyak bicara.
Tapi siapa yang paling banyak menghadirkan manfaat.
Dan seperti kata orang Bekasi:
“Udah silaturahmi, jangan cuma pulang bawa foto. Bawa juga program, Bos!” [■]





