Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Belajar Ilmu Fisika Quantum: Analogi Sederhana Bagi Awam, Episode #2

iklan banner AlQuran 30 Juz banner #1 AlQuran 30 Juz

Perbedaan Fisika Klasik & Fisika Quantum? Para Fisikawan Harus Bereksperimen yang Hasilnya Terasa “Tidak Masuk Akal”?

jabar-online.com | Rabu, 9 Sep 2026, 06:25 WIB | NMR/DR

Selama ini kita diajari bahwa benda adalah benda dan gelombang adalah gelombang. Lalu fisika kuantum datang membawa kabar yang bikin akal sehat minta duduk sebentar. Elektron dapat memperlihatkan interferensi, sistem kuantum dapat berada dalam superposisi, dan partikel memiliki peluang menembus penghalang energi. Yang bikin tambah gokil: para fisikawan bukan cuma ngomong teori, tetapi membangun eksperimen untuk menguji prediksi tersebut.

KOTA BEKASI | Fisika Quantum (kuantum) sering terdengar seperti cerita fiksi ilmiah: partikel dapat berperilaku seperti gelombang, energi hadir dalam tingkat-tingkat tertentu, sebuah sistem dapat berada dalam superposisi, dua partikel dapat memiliki korelasi yang sangat kuat meski berjauhan, bahkan partikel mempunyai peluang untuk menembus penghalang yang secara klasik tidak mungkin dilewati.

Tetapi fisika kuantum bukan sekadar kumpulan cerita aneh.

Yang menarik justru karena banyak prediksi teori tersebut telah diuji melalui eksperimen nyata. Dari percobaan elektron yang menghasilkan pola gelombang, atom yang terbelah menjadi dua berkas, hingga eksperimen foton terbelit yang menguji gagasan Albert Einstein dan John Bell, sejarah fisika kuantum memperlihatkan bagaimana teori matematika diterjemahkan menjadi eksperimen laboratorium.

Jadi, bagaimana cara memahaminya?

Mari kita mulai dari sesuatu yang paling sederhana.
 
1. FISIKA KLASIK: DUNIA YANG TERASA PASTI

Dalam kehidupan sehari-hari kita berhadapan dengan benda berukuran besar: bola, mobil, pesawat, batu, air dan sebagainya.

Jika sebuah bola dilempar, kita dapat menghitung lintasannya menggunakan hukum Newton apabila mengetahui posisi awal, kecepatan, arah dan gaya yang bekerja.

Secara sederhana:

Bola dilempar → bergerak → mengikuti lintasan → jatuh.

Semakin baik data yang kita miliki, semakin akurat prediksi kita.

Inilah salah satu ciri utama fisika klasik.

Namun ketika kita masuk ke dunia atom, elektron dan foton, cara berpikir tersebut mulai mengalami masalah.

Elektron tidak dapat selalu diperlakukan seperti bola kecil yang mengorbit inti atom seperti planet mengorbit Matahari.

Pada skala ini, alam digambarkan dengan keadaan kuantum dan probabilitas.

Bukan berarti “semuanya tidak beraturan”.

Justru sebaliknya.

Fisika kuantum mempunyai aturan matematika yang sangat ketat. Yang berbeda adalah apa yang diprediksi oleh aturan tersebut.
 
2. APA ARTINYA “QUANTUM”?

Kata Quantum (Kuantum) berkaitan dengan gagasan bahwa besaran tertentu dalam sistem mikroskopis dapat muncul dalam nilai-nilai diskret atau terkuantisasi, bukan selalu berubah secara mulus seperti yang kita bayangkan dalam fisika klasik.
 
Analogi tangga

Bayangkan sebuah tangga.

Anda dapat berdiri di anak tangga pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.

Tetapi dalam model sederhana tertentu, Anda tidak bisa memilih sembarang posisi energi di antara dua tingkat tersebut.

Itulah gambaran sederhana tentang tingkat energi terkuantisasi.

Fenomena ini bukan sekadar analogi.

Pada 1922, Otto Stern dan Walther Gerlach melakukan eksperimen menggunakan berkas atom perak yang dilewatkan melalui medan magnet tidak seragam. Jika gambaran klasik sederhana berlaku, distribusinya diharapkan menyebar secara kontinu.

Namun berkas tersebut justru terpisah menjadi dua kelompok utama.

Hasil tersebut menjadi salah satu demonstrasi penting bahwa momentum sudut/spin pada sistem mikroskopis memiliki sifat kuantum yang terkuantisasi.

Dengan kata lain:

Teori mengatakan ada keadaan kuantum tertentu → fisikawan membuat alat → atom ditembakkan → hasil detektor menunjukkan pemisahan diskret.

Di sinilah kita melihat bagaimana teori kuantum bertemu dengan eksperimen.
 
3. DUALITAS GELOMBANG-PARTIKEL: ELEKTRON BISA MEMBUAT POLA GELOMBANG

Ini salah satu bagian paling terkenal dari fisika kuantum.

Kita biasanya membedakan:

Bola → partikel.

Gelombang air → gelombang.

Tetapi objek kuantum seperti elektron dapat menunjukkan karakter yang dalam eksperimen tampak seperti partikel sekaligus memiliki sifat gelombang.

Bagaimana mengetahuinya?

Salah satu cara paling terkenal adalah eksperimen dua celah (double-slit experiment).

Bayangkan sebuah papan mempunyai dua celah sempit.

Di belakangnya terdapat layar.

Jika kita menembakkan benda kecil seperti peluru melalui dua celah, kita biasanya mengharapkan dua kumpulan titik di layar.

Tetapi jika yang digunakan adalah gelombang, kedua gelombang dapat bertemu dan menghasilkan:

puncak + puncak → penguatan

puncak + lembah → pelemahan

Hasil akhirnya berupa pola terang-gelap yang disebut interferensi.

Hal mengejutkannya:

Elektron pun dapat menghasilkan pola interferensi.

Eksperimen DavissonGermer pada 1920-an memberikan bukti penting mengenai sifat gelombang elektron. Elektron ditembakkan menuju kristal nikel dan elektron yang dipantulkan menunjukkan maksimum pada sudut tertentu sebagaimana diperkirakan untuk difraksi gelombang.

Kemudian eksperimen dua-celah elektron yang lebih modern memperlihatkan sesuatu yang bahkan lebih menarik.

Elektron dapat ditembakkan satu demi satu.

Detektor mencatat:

“klik.”

Satu elektron.

Kemudian:

“klik.”

Elektron berikutnya.

Awalnya layar hanya terlihat seperti kumpulan titik acak.

Tetapi setelah ribuan atau jutaan peristiwa dikumpulkan, muncul pola interferensi.

Jadi, masing-masing deteksi memang terjadi sebagai kejadian lokal seperti partikel, tetapi distribusi keseluruhannya mengikuti prediksi gelombang kuantum.

Inilah salah satu alasan mengapa fisika kuantum begitu berbeda dari intuisi sehari-hari.
 
4. JADI, APA ELEKTRON ITU GELOMBANG ATAU PARTIKEL?

Jawaban yang lebih tepat bukan sekadar:

“Elektron kadang menjadi bola, kadang menjadi gelombang.”

Dalam mekanika kuantum, elektron digambarkan menggunakan keadaan kuantum atau fungsi gelombang.

Ketika kita melakukan pengukuran tertentu, hasil yang diperoleh memiliki karakter seperti partikel.

Namun ketika sistem dibiarkan berkembang dan beberapa kemungkinan jalur berkontribusi terhadap hasil eksperimen, kita dapat melihat interferensi yang merupakan ciri gelombang.

Karena itu, analogi “silinder yang terlihat berbeda dari sudut berbeda” memang membantu sebagai pengantar, tetapi kenyataan kuantum lebih dalam daripada sekadar perubahan sudut pandang.
 
5. PRINSIP KETIDAKPASTIAN HEISENBERG

Sekarang kita masuk ke konsep yang sering disalahpahami.

Werner Heisenberg menunjukkan bahwa posisi dan momentum sebuah sistem kuantum tidak dapat sekaligus memiliki ketidakpastian yang arbitrer kecil.

Secara sederhana:

semakin sempit keadaan posisi → semakin besar ketidakpastian momentumnya.

Hubungan sederhananya ditulis:

Δx × Δp ≥ ħ/2

Di sini:
Δx = ketidakpastian posisi,
Δp = ketidakpastian momentum,
ħ = konstanta Planck tereduksi.

Ini bukan sekadar masalah alat ukur yang jelek.

Ketidakpastian tersebut merupakan bagian fundamental dari struktur teori kuantum.

Nobel Prize menjelaskan bahwa jika elektron dilokalisasi dalam ukuran sekitar diameter atom, ketidakpastian kecepatannya dapat menjadi sangat besar dibandingkan benda sehari-hari.
 
Analogi sederhana

Bayangkan sebuah mobil yang bergerak sangat cepat dalam ruangan gelap.

Jika kamera mengambil gambar dengan waktu pencahayaan sangat singkat, posisi mobil terlihat lebih jelas tetapi informasi mengenai lintasan geraknya lebih terbatas.

Jika kamera menggunakan pencahayaan yang lebih lama, jejak gerak lebih jelas tetapi lokasi tepat mobil menjadi kabur.

Analogi ini membantu membayangkan hubungan antara lokasi dan gerakan.

Namun secara kuantum, prinsipnya bukan sekadar karena kamera mengganggu objek.
 
6. SUPERPOSISI: APAKAH PARTIKEL BENAR-BENAR BERADA DI DUA TEMPAT?

Inilah bagian yang sering dibuat terlalu dramatis.

Dalam mekanika kuantum, suatu sistem dapat berada dalam superposisi beberapa keadaan yang mungkin.

Misalnya, sebuah sistem kuantum dapat ditulis secara sederhana sebagai:

|ψ⟩ = a|0⟩ + b|1⟩

Artinya keadaan kuantum merupakan kombinasi dari dua kemungkinan keadaan.

Ketika dilakukan pengukuran tertentu, hasil yang diperoleh adalah salah satu hasil yang mungkin, dengan probabilitas yang ditentukan oleh keadaan kuantum tersebut.
Bagaimana membuktikannya?

Kita tidak perlu menggunakan kucing sungguhan.

Erwin Schrödinger sendiri memperkenalkan “kucing Schrödinger” sebagai eksperimen pikiran, bukan eksperimen laboratorium dengan kucing sungguhan.

Namun kemudian fisikawan benar-benar berhasil membuat sistem kuantum yang menyerupai “kucing Schrödinger”.

Pada 1996, kelompok David Wineland di NIST menciptakan keadaan Schrödinger-cat-like menggunakan satu ion berilium yang ditangkap dan didinginkan dengan laser.

Ion tersebut dipersiapkan dalam superposisi dua keadaan gerak yang terpisah secara spasial.

Para peneliti kemudian mendeteksi interferensi kuantum dari kedua bagian keadaan tersebut.

Jadi:

Schrödinger → mengajukan eksperimen pikiran.

Fisikawan kemudian → membuat analog sistem kuantumnya di laboratorium.

Bahkan pada 2005, kelompok NIST melaporkan pembuatan cat states hingga enam qubit atom.
 
7. APAKAH “MELIHAT” MEMBUAT SUPERPOSISI HANCUR?

Kalimat populer sering berbunyi:

“Partikel berada dalam banyak keadaan sampai manusia melihatnya.”

Ini perlu diperbaiki.

Dalam fisika, “pengukuran” tidak berarti harus ada mata manusia yang melihat.

Interaksi dengan alat ukur atau lingkungan dapat menyebabkan informasi mengenai keadaan kuantum menjadi tersedia dan menghilangkan interferensi yang sebelumnya dapat diamati.

Proses ini berkaitan dengan dekoherensi.

Karena itu, bukan kesadaran manusia yang secara ajaib membuat alam memilih hasil.

Eksperimen NIST tentang keadaan “kucing” atom menunjukkan betapa rapuhnya superposisi: interaksi dengan lingkungan dapat merusak keadaan tersebut.
 
8. KETERIKATAN KUANTUM: EINSTEIN DAN “AKSI MISTERIUS DARI JARAK JAUH”

Sekarang kita sampai pada salah satu fenomena paling terkenal.

Quantum entanglement atau keterikatan kuantum terjadi ketika keadaan beberapa sistem kuantum tidak dapat dijelaskan secara independen satu sama lain.

Misalnya, dua foton dibuat dalam keadaan terbelit.

Kemudian:

foton A → dikirim ke kiri

foton B → dikirim ke kanan

Ketika sifat tertentu dari A dan B diukur, hasil pengukuran menunjukkan korelasi yang tidak dapat dijelaskan oleh model lokal sederhana yang menganggap hasilnya sudah ditentukan oleh “instruksi tersembunyi” sejak awal.

Albert Einstein, Boris Podolsky dan Nathan Rosen membahas persoalan ini dalam argumen EPR pada 1935.

Kemudian John Bell pada 1964 menemukan cara untuk mengubah persoalan filosofis tersebut menjadi tes eksperimen.

Bell menunjukkan bahwa teori dengan variabel tersembunyi lokal harus memenuhi batas tertentu, yang dikenal sebagai Bell inequality.

Mekanika kuantum memprediksi bahwa batas tersebut dapat dilanggar.

Dan eksperimen memang menemukan pelanggaran tersebut.
 
9. DARI BELL KE CLAUSER, ASPECT DAN ZEILINGER

Di sinilah teori benar-benar berubah menjadi eksperimen.

Pada 1972, John Clauser bersama Stuart Freedman melakukan eksperimen dengan pasangan foton terentang.

Mereka mengukur polarisasi foton menggunakan filter pada dua sisi eksperimen.

Hasilnya menunjukkan pelanggaran terhadap Bell inequality dan sesuai dengan prediksi mekanika kuantum.

Kemudian Alain Aspect pada 1982 melakukan eksperimen yang memperbaiki kelemahan penting dari percobaan sebelumnya.

Ia menggunakan pengaturan yang dapat diubah dengan sangat cepat setelah pasangan foton meninggalkan sumber.

Dalam eksperimen tersebut, perubahan pengaturan dilakukan pada skala nanodetik sehingga informasi mengenai pengaturan alat tidak dapat dengan mudah dianggap telah “disiapkan sebelumnya” oleh sumber foton.

Anton Zeilinger kemudian mengembangkan berbagai eksperimen keterikatan dan pengujian Bell, termasuk eksperimen dengan pengaturan pengukuran yang dipilih secara acak.

Ketiga ilmuwan tersebut memperoleh Nobel Fisika 2022 atas eksperimen dengan foton terentang, pembuktian pelanggaran Bell inequality dan kontribusinya terhadap ilmu informasi kuantum.
 
10. TAPI APAKAH ENTANGLEMENT BERARTI KITA BISA MENGIRIM PESAN LEBIH CEPAT DARIPADA CAHAYA?

Tidak sesederhana itu.

Inilah salah satu bagian yang sering dibesar-besarkan dalam tulisan populer.

Keterikatan kuantum menghasilkan korelasi yang sangat kuat antara hasil pengukuran.

Tetapi korelasi tersebut tidak dapat digunakan begitu saja untuk mengirim pesan yang dapat dikendalikan secara instan melampaui kecepatan cahaya.

Jadi analogi:

“Jakarta mengukur partikel A → Paris langsung menerima pesan.”

tidak tepat jika dipahami sebagai sistem komunikasi superluminal.

Yang benar:

dua sistem memiliki korelasi kuantum yang tidak dapat dijelaskan oleh teori variabel tersembunyi lokal sederhana.

Itulah yang diuji dalam eksperimen Bell.
 
11. TEROWONGAN KUANTUM: MENEMBUS “TEMBOK” ENERGI

Sekarang kita masuk ke quantum tunneling.

Dalam fisika klasik, bayangkan sebuah bola hendak melewati bukit.

Jika energi bola tidak cukup untuk mencapai puncak bukit, bola akan kembali.

Dalam mekanika kuantum, partikel digambarkan oleh fungsi gelombang.

Jika terdapat penghalang energi dengan ketebalan tertentu, fungsi gelombang tidak selalu langsung menjadi nol di dalam penghalang.

Masih terdapat peluang menemukan partikel di sisi lain.

Itulah quantum tunneling.

Bukan berarti elektron berubah menjadi hantu yang benar-benar menghancurkan dinding.

Secara matematis, keadaan kuantumnya mempunyai amplitudo yang menembus daerah penghalang sehingga terdapat probabilitas untuk terdeteksi di sisi lain.
 
12. EKSPERIMEN NYATA: MIKROSKOP YANG “MELIHAT” ATOM

Pada 1981, Gerd Binnig dan Heinrich Rohrer mengembangkan Scanning Tunneling Microscope (STM).

Cara kerjanya sangat menarik.

Ujung logam yang sangat tajam didekatkan ke permukaan material dengan jarak amat kecil.

Secara klasik, elektron tidak seharusnya dapat mengalir melalui ruang kosong tersebut.

Namun secara kuantum, elektron dapat melakukan tunneling.

Arus tunneling sangat sensitif terhadap jarak antara ujung alat dan permukaan.

Dengan mengukur perubahan arus tersebut sambil menggerakkan ujung alat, peneliti dapat membuat peta permukaan pada skala atom.

Inilah contoh luar biasa:

teori tunneling → dirancang menjadi alat → arus tunneling diukur → struktur permukaan atom dapat dipetakan.

Binnig dan Rohrer kemudian menerima Nobel Fisika 1986 untuk desain STM.

Jadi quantum tunneling bukan sekadar teori aneh.

Ia menjadi bagian dari teknologi yang benar-benar digunakan dalam ilmu material dan nanoteknologi.
 
13. TUNNELING JUGA BERPERAN DALAM CAHAYA MATAHARI

Ada fakta yang bahkan lebih dekat dengan kehidupan kita.

Matahari menghasilkan energinya melalui reaksi fusi nuklir.

Di pusat Matahari, proton saling berhadapan dan mengalami tolakan listrik.

Secara klasik, kondisi di pusat Matahari tampak tidak cukup untuk membuat semua proton melewati penghalang Coulomb secara sederhana.

Mekanika kuantum memberikan kemungkinan tunneling sehingga sebagian proton dapat menembus penghalang tersebut.

Dalam siklus proton-proton, dua proton pada akhirnya dapat menghasilkan deuteron melalui proses yang melibatkan interaksi lemah, dengan pelepasan positron dan neutrino.

Proses tersebut merupakan bagian dari mekanisme yang membuat Matahari bersinar.

Dengan demikian, cahaya Matahari yang kita lihat setiap pagi juga berkaitan dengan hukum-hukum kuantum.
 
14. ENERGI KUANTUM DAN EFEK FOTOLISTRIK EINSTEIN

Salah satu tonggak awal fisika kuantum datang dari persoalan cahaya.

Albert Einstein pada 1905 mengusulkan bahwa cahaya dapat dipahami sebagai paket energi atau kuanta cahaya, yang kemudian dikenal sebagai foton.

Energi sebuah foton secara sederhana:

E = hf

dengan:
E = energi foton,
h = konstanta Planck,
f = frekuensi cahaya.

Apa akibatnya?

Jika cahaya mengenai logam, elektron dapat terlepas hanya jika energi foton nya cukup.

Menambah intensitas cahaya berarti menambah jumlah foton, tetapi jika setiap foton tidak memiliki energi yang cukup, elektron tetap tidak akan keluar.

Ini berbeda dari intuisi klasik yang menganggap menambah intensitas seharusnya selalu menyelesaikan masalah.

Eksperimen Robert Millikan kemudian menguji hukum kuantitatif efek fotolistrik Einstein dan hasilnya sangat mendukung persamaan tersebut.

Nobel Prize mencatat bahwa hukum efek fotolistrik Einstein telah diuji secara kuantitatif oleh Millikan dan memberikan hasil yang sangat baik.

Jadi lagi-lagi alurnya sama:

Masalah eksperimen → teori baru → persamaan → pengukuran → hasil sesuai prediksi.
 
15. DARI TEORI MENJADI TEKNOLOGI

Jika fisika kuantum hanya menghasilkan teka-teki filosofis, mungkin ia tidak akan menjadi salah satu cabang ilmu paling penting dalam teknologi modern.

Tetapi efek kuantum ternyata menjadi dasar banyak teknologi.

Contohnya:
Laser

Prinsip tingkat energi atom dan emisi terstimulasi memungkinkan pembuatan laser.
 
Transistor dan semikonduktor

Perilaku elektron dalam material dan struktur pita energi menjadi dasar teknologi semikonduktor.
 
LED

Cahaya dari LED berkaitan dengan transisi elektron dan struktur energi material semikonduktor.
 
Mikroskop elektron

Sifat gelombang elektron memungkinkan elektron digunakan untuk memperoleh resolusi yang jauh lebih tinggi dibandingkan cahaya tampak pada kondisi tertentu.
 
Scanning Tunneling Microscope

Memanfaatkan quantum tunneling untuk memetakan permukaan pada skala atom.
 
Teknologi kuantum modern

Superposisi dan entanglement kini digunakan sebagai dasar penelitian komputer kuantum, jaringan kuantum, pengukuran presisi dan komunikasi kuantum.

Nobel Prize mencatat bahwa eksperimen keterikatan foton telah membuka jalan bagi teknologi informasi kuantum.
 
16. LALU, APA BEDANYA FISIKA KLASIK DAN KUANTUM?

Secara sederhana dapat digambarkan seperti ini:

Fisika klasik Fisika kuantum

Cocok untuk benda makroskopis dalam banyak kondisi sehari-hari Diperlukan untuk sistem mikroskopis seperti atom dan partikel
 
Posisi dan kecepatan dapat dipandang sebagai besaran yang dapat ditentukan secara bersamaan

Ada batas fundamental pada ketidakpastian pasangan besaran tertentu

Energi sering dipandang kontinu

Banyak sistem memiliki tingkat energi diskret
 
Gelombang dan partikel biasanya dibedakan 

Sistem kuantum dapat menunjukkan karakter gelombang dan partikel


Prediksi sering berupa lintasan tertentu 

Prediksi fundamental sering berbentuk probabilitas hasil pengukuran

Efek tunneling tidak muncul dalam mekanika klasik Tunneling merupakan efek kuantum
 
Tidak memiliki entanglement sebagai konsep dasar

Entanglement merupakan bagian penting mekanika kuantum

Namun ada satu hal penting:

Fisika klasik tidak “salah”.

Fisika klasik merupakan pendekatan yang sangat baik pada kondisi tertentu.

Jika kita menghitung gerak mobil, proyektil atau orbit satelit dalam kondisi tertentu, mekanika Newton masih sangat berguna.

Fisika kuantum menjadi semakin penting ketika ukuran, energi atau kondisi sistem memasuki wilayah di mana efek kuantum tidak dapat diabaikan.
 
17. BENANG MERAH DARI SEMUA EKSPERIMEN

Jika seluruh sejarah tersebut diringkas, kita menemukan pola yang sangat menarik.
 
Tahap 1 — Fisikawan menemukan masalah

Fenomena tertentu tidak dapat dijelaskan secara memuaskan dengan teori lama.
 
Tahap 2 — Muncul teori

Planck, Einstein, de Broglie, Heisenberg, Schrödinger, Dirac dan fisikawan lainnya mengembangkan kerangka matematika baru.
 
Tahap 3 — Teori menghasilkan prediksi

Bukan hanya mengatakan:

“Alam semesta aneh.”

Tetapi mengatakan:

“Jika teori ini benar, detektor harus mendapatkan hasil tertentu.”
 
Tahap 4 — Eksperimen dilakukan

Davisson dan Germer melihat difraksi elektron.

Stern dan Gerlach melihat pemisahan berkas atom.

Millikan menguji hubungan kuantitatif efek fotolistrik.

Wineland dan rekan-rekannya membuat superposisi ion.

Clauser, Aspect dan Zeilinger menguji Bell inequality menggunakan foton terentang.

Binnig dan Rohrer memanfaatkan tunneling untuk membuat mikroskop atomik.
 
Tahap 5 — Teknologi muncul

Setelah efek tersebut dipahami dan dapat dikendalikan, lahirlah berbagai teknologi.

Inilah salah satu pelajaran terbesar dari sejarah fisika: teori yang pada awalnya tampak sangat abstrak dapat berubah menjadi teknologi nyata ketika prediksinya dapat diuji dan dikendalikan.
 
18. JADI, APAKAH DUNIA KUANTUM BENAR-BENAR “TIDAK MASUK AKAL”?

Bagi intuisi manusia sehari-hari, memang terasa demikian.

Kita tidak terbiasa melihat elektron menghasilkan interferensi.

Kita tidak terbiasa dengan superposisi.

Kita tidak melihat benda sehari-hari melakukan tunneling.

Kita juga tidak memiliki pengalaman langsung dengan entanglement.

Tetapi “aneh” tidak sama dengan “tidak teratur”.

Justru mekanika kuantum merupakan salah satu teori fisika yang paling berhasil dalam sejarah ilmu pengetahuan karena prediksinya dapat dihitung dan diuji dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi.

Yang berubah bukanlah hukum alam menjadi sembarangan.

Yang berubah adalah cara kita harus menggambarkan alam pada skala mikroskopis.
 
KESIMPULAN: DARI “TIDAK MASUK AKAL” MENJADI HASIL LABORATORIUM

Fisika kuantum mengajarkan bahwa alam pada skala atom tidak selalu mengikuti intuisi yang kita bangun dari pengalaman sehari-hari.

Energi dapat terkuantisasi.

Elektron dapat menunjukkan interferensi.

Posisi dan momentum mempunyai batas ketidakpastian fundamental.

Sistem dapat berada dalam superposisi.

Partikel dapat terjerat secara kuantum.

Partikel dapat melakukan tunneling melalui penghalang energi.

Namun semua itu bukan sekadar cerita untuk membuat fisika terdengar misterius.

Ada eksperimen yang mengujinya.

Davisson dan Germer menunjukkan sifat gelombang elektron.

Stern dan Gerlach menunjukkan kuantisasi momentum sudut/spin.

Millikan menguji hukum kuantitatif efek fotolistrik Einstein.

Wineland dan kolega menciptakan superposisi “Schrödinger-cat-like” pada ion.

Clauser, Aspect dan Zeilinger menguji keterikatan kuantum melalui Bell inequality.

Binnig dan Rohrer memanfaatkan tunneling untuk membuat mikroskop yang dapat memetakan permukaan pada skala atom.

Dengan demikian, perjalanan fisika kuantum dapat dipahami melalui satu rangkaian sederhana:

TEORI → PREDIKSI → EKSPERIMEN → PENGUKURAN → VERIFIKASI → TEKNOLOGI.

Dan mungkin inilah bagian paling menarik dari fisika kuantum.

Alam semesta tidak harus mengikuti apa yang menurut kita “masuk akal”.

Tugas ilmu pengetahuan bukan memaksa alam agar sesuai dengan intuisi manusia.

Tugas ilmu pengetahuan adalah membuat teori yang dapat diuji, melakukan eksperimen dengan teliti, lalu menerima apa yang ditunjukkan oleh hasil pengukuran.

Karena pada akhirnya, sebuah teori fisika bukan menjadi kuat karena terdengar indah.

Ia menjadi kuat karena alam memberikan hasil eksperimen yang sesuai dengan prediksinya. [■]

Reporter: NMR - REDAKSI - Editor: DikRizal/JabarOL
banner kontak BekasiOL banner GEKRAFS Kota Bekasi banner#01Kemitraan WaralabaPers bannerbawah#02 bannerbawah#03 bannerbawah#04

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
jabar-online.com