Dari Bekasi, Wayang Ajen Buktikan Tradisi Tak Harus Kaku: Wayang, Tari, Humor dan Kreativitas Berpadu di PNBK Jilid III
Ada yang berbeda dari malam minggu di Kota Bekasi, Sabtu (29/8/2026). Alih-alih sibuk menggulir layar ponsel, warga justru dibuat betah menatap panggung. Wayang Ajen tampil di Plaza Patriot Candrabhaga dalam rangkaian pembuka PNBK Jilid III, membuktikan bahwa seni tradisional masih sanggup “mengalahkan” godaan algoritma—asal dikemas dengan kreativitas dan tidak terasa seperti pelajaran sejarah.
— KOTA BEKASI | Malam minggu di Kota Bekasi biasanya identik dengan jalan-jalan, kulineran, ngopi, atau sekadar mencari tempat untuk berkumpul bersama keluarga dan teman.Namun, Sabtu (29/8/2026) malam, ada pilihan lain yang tak kalah menarik: menikmati wayang sambil merasakan bagaimana tradisi bisa tampil kekinian tanpa kehilangan akar budayanya.
Suasana itu terasa di Plaza Patriot Candrabhaga, Kota Bekasi, ketika Wayang Ajen, sanggar seni asal Kota Bekasi, tampil dalam rangkaian pembuka Pesona Nusantara Bekasi Keren (PNBK) Jilid III.
Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang digelar sehari sebelum acara utama PNBK Jilid III. Kehadiran Wayang Ajen bukan sekadar pertunjukan wayang dalam pengertian konvensional.
Seni tradisi dikemas menjadi pertunjukan yang memadukan wayang, tari, musik, gerak, cerita, dan unsur teatrikal, sehingga lebih mudah dinikmati lintas generasi.
Kalau wayang biasanya identik dengan suasana serius dan penuh filosofi, Wayang Ajen menunjukkan bahwa seni tradisional juga bisa mengajak penonton bersantai, tertawa, sekaligus menikmati pesan budaya. Singkatnya, budaya tidak harus selalu tampil dengan wajah “rapat dinas”.
Penampilan tersebut mendapat sambutan hangat masyarakat yang memadati kawasan Plaza Patriot Candrabhaga. Apalagi pertunjukan digelar pada malam minggu, ketika ruang publik tersebut memang menjadi salah satu titik berkumpul warga Kota Bekasi.
Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan yang terus berkembang, panggung seperti ini menjadi pengingat bahwa Bekasi tidak hanya mempunyai gedung, jalan, pusat perdagangan dan kawasan permukiman, tetapi juga memiliki kekayaan seni budaya yang terus tumbuh.
Wayang Ajen: Tradisi yang Tidak Mau Ketinggalan Zaman
Wayang Ajen menjadi salah satu contoh bagaimana seni tradisional dapat dikembangkan dengan pendekatan kreatif.
Kata “Ajen” sendiri memiliki makna yang berkaitan dengan nilai, harga, atau sesuatu yang berharga. Semangat tersebut tercermin dari upaya para pelakunya menjadikan seni tradisi bukan sebagai benda museum, melainkan sebagai kesenian yang tetap hidup dan mampu berinteraksi dengan perkembangan zaman.
Keunikan Wayang Ajen terletak pada kemampuannya menggabungkan berbagai unsur seni pertunjukan. Wayang tidak berdiri sendirian, tetapi dapat berkelindan dengan tari, musik, gerak, visual serta dramaturgi pertunjukan.
Karena itu, seni tradisi yang ditampilkan tidak terasa seperti sekadar “mengulang masa lalu”. Sebaliknya, masa lalu justru diajak berdialog dengan masa kini.
Kiprah Wayang Ajen bahkan telah menembus panggung internasional melalui berbagai penampilan seni wayang dan tari. Hal tersebut menjadi bukti bahwa kesenian yang tumbuh dari daerah tetap memiliki peluang untuk diterima masyarakat yang lebih luas ketika dikemas dengan kreativitas tanpa kehilangan identitasnya.
Bagi Kota Bekasi, keberadaan kelompok seni seperti Wayang Ajen juga memiliki arti penting. Sebab, identitas budaya sebuah kota tidak selalu lahir dari bangunan bersejarah atau peninggalan masa lalu. Identitas budaya juga dapat dibentuk oleh kreativitas masyarakat yang hidup pada hari ini.
Bekasi: Kota Metropolitan dengan Selera Budaya yang Berwarna
Kota Bekasi memang berkembang sebagai kawasan metropolitan yang dihuni masyarakat dengan latar belakang budaya yang beragam. Posisi geografisnya yang menjadi bagian penting dari kawasan Jabodetabek membuat interaksi budaya berlangsung sangat dinamis.
Dalam konteks tersebut, seni budaya Bekasi mempunyai karakter yang menarik. Tradisi lokal Betawi dan Sunda bertemu dengan berbagai ekspresi budaya masyarakat pendatang dari beragam daerah. Hasilnya adalah ekosistem kebudayaan yang relatif cair, terbuka dan terus mengalami perkembangan.
Karena itu, seni budaya Kota Bekasi tidak selalu harus dicari dalam bentuk yang sangat “jadul”. Justru kreativitas seniman lokal dalam mengolah tradisi menjadi pertunjukan baru merupakan bagian dari wajah budaya Bekasi hari ini.
Wayang Ajen menjadi salah satu contohnya.
Ia menunjukkan bahwa seni tradisional dapat tetap memiliki daya tarik di tengah generasi yang sehari-harinya lebih akrab dengan media sosial, konten digital, musik modern dan budaya populer.
Dengan kata lain, wayang tidak harus kalah bersaing dengan algoritma.
Tri Adhianto: Plaza Patriot Harus Jadi Panggung Bersama
Walikota Bekasi Tri Adhianto hadir langsung dalam kegiatan tersebut untuk menyambut para pelaku seni sekaligus membuka penampilan Wayang Ajen.
Tri memberikan apresiasi kepada para seniman yang secara konsisten menjaga dan mengembangkan seni tradisional. Menurutnya, kreativitas para pelaku seni menjadi modal penting dalam memperkenalkan nama Kota Bekasi melalui jalur kebudayaan.
“Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Wayang Ajen yang terus membawa nama Kota Bekasi melalui seni dan budaya. Penampilan seperti ini membuktikan bahwa kita memiliki talenta dan kekayaan budaya yang harus terus dijaga serta diperkenalkan kepada masyarakat luas,” ujar Tri.
Menurut Tri, kegiatan seni budaya bukan hanya hiburan. Di balik sebuah pertunjukan terdapat proses pendidikan, regenerasi dan pembentukan karakter masyarakat.
Terlebih bagi generasi muda, ruang kesenian dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal kebudayaan daerah dengan cara yang lebih menyenangkan.
“Kami ingin Plaza Patriot menjadi ruang yang bisa dinikmati semua masyarakat, termasuk menjadi panggung bagi seniman lokal untuk menunjukkan kreativitasnya. Mudah-mudahan semakin banyak anak muda yang tertarik mempelajari dan mengembangkan seni budaya yang kita miliki,” katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya ruang publik sebagai tempat bertemunya masyarakat dan kebudayaan.
Plaza Patriot bukan hanya tempat orang datang untuk mencari jajanan atau sekadar menghabiskan malam minggu. Ruang publik juga dapat menjadi panggung kebudayaan, tempat seniman lokal bertemu penonton dan generasi muda bertemu dengan warisan budaya mereka sendiri.
Budaya Jangan Cuma Dipajang, Harus Dipentaskan
Antusiasme warga yang hadir menunjukkan bahwa seni tradisional masih mempunyai pasar di tengah kehidupan kota modern. Tantangannya adalah bagaimana kesenian tersebut dikemas sehingga mampu berbicara dengan bahasa zaman tanpa kehilangan substansi budayanya.
Di titik inilah PNBK memiliki peran strategis.
Melalui PNBK Jilid III, berbagai ekspresi budaya diberi ruang untuk tampil, berkembang dan dikenal lebih luas. Bagi seniman lokal, panggung semacam ini bukan hanya tempat tampil, tetapi juga ruang untuk membangun apresiasi, regenerasi dan kebanggaan terhadap identitas daerah.
Sebab, budaya akan sulit bertahan jika hanya disimpan dalam buku, arsip atau lemari kaca.
Budaya harus dimainkan, dinyanyikan, ditarikan, diceritakan dan sesekali—kalau perlu—dibikin warga lupa pulang karena pertunjukannya terlalu menarik.
Pertunjukan Wayang Ajen pada malam pembuka PNBK Jilid III menjadi contoh bahwa seni tradisional dan kehidupan kota modern bukan dua dunia yang harus dipertentangkan.
Keduanya justru bisa berjalan bersama.
Dari panggung Plaza Patriot Candrabhaga, Wayang Ajen membawa pesan sederhana tetapi penting: Bekasi bukan hanya kota yang terus membangun gedung dan infrastruktur, tetapi juga kota yang sedang membangun identitas melalui kreativitas dan kebudayaan masyarakatnya.
Dan jika seni tradisional mampu berangkat dari Bekasi hingga panggung internasional, maka jelas bahwa budaya lokal tidak sedang ketinggalan zaman. Ia hanya sedang menunggu panggung yang tepat untuk kembali mencuri perhatian. [■]
Tags
Dewan Kesenian dan Kebudayaan
Disparbud
Disparbud Kota Bekasi
Pentas Seni
Pesona Nasional Bekasi Keren
PNBK
Seni Budaya






