HUT RI ke-81 di Jadetabek: Eks Napiter Tak Lagi Bersembunyi, Kini Ikut Upacara dan Ada yang Jadi Petugas Pengibar Bendera
jabar-online.com | Senin, 17 Agustus 2026, 13:28 WIB | NMR/DR
— KOTA DEPOK | Peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 menjadi lebih dari sekadar seremoni tahunan bagi puluhan mantan narapidana terorisme (eks napiter). Di sejumlah titik di kawasan Jakarta dan sekitarnya, mereka berdiri dalam satu barisan bersama aparatur negara dan masyarakat, menghadap Merah Putih yang dikibarkan di tengah suasana khidmat.
Plot twist-nya bukan di film, melainkan di lapangan upacara. Mereka yang pernah terseret perkara terorisme kini justru berdiri tegak menghormat Merah Putih bersama Densus 88 Antiteror Polri. Dalam peringatan HUT RI ke-81 di sejumlah wilayah Jadetabek, puluhan eks napiter ikut berbaris, mengikuti upacara, bahkan sebagian dipercaya menjadi petugas pengibar bendera. Dari “orang yang harus diawasi” menjadi warga yang ikut mengibarkan Merah Putih—sebuah adegan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi menyimpan pesan rekonsiliasi yang tidak sederhana.
— KOTA DEPOK | Peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 menjadi lebih dari sekadar seremoni tahunan bagi puluhan mantan narapidana terorisme (eks napiter). Di sejumlah titik di kawasan Jakarta dan sekitarnya, mereka berdiri dalam satu barisan bersama aparatur negara dan masyarakat, menghadap Merah Putih yang dikibarkan di tengah suasana khidmat.Upacara itu digelar Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) DKI Jakarta Densus 88 Antiteror Polri bersama sejumlah pemangku kepentingan di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang Selatan, Kota Tangerang, dan Kabupaten Bekasi.
Bagi Densus 88, keterlibatan eks napiter dalam upacara kemerdekaan bukan sekadar pelengkap seremoni. Ia menjadi bagian dari proses yang jauh lebih panjang: reintegrasi sosial setelah seseorang keluar dari lingkaran ideologi kekerasan dan kembali menjalani kehidupan sebagai warga negara.
Satgaswil DKI Jakarta DENSUS 88 AT POLRI Gelar Upacara HUT RI ke-81 bersama eks Napiter dan Pemda Provinsi DKI Jakarta (foto: IchiEcha)
Di situlah makna pengibaran Merah Putih memperoleh dimensi lain. Nasionalisme tidak hanya dibicarakan, tetapi dipraktikkan dalam ruang publik yang sama—berdiri bersama, menghormati bendera yang sama, dan menegaskan kembali ikatan kewarganegaraan.
Kepala Satgaswil DKI Jakarta mengatakan kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu kunci dalam menjaga kesinambungan proses pembinaan sekaligus merawat stabilitas keamanan.
“Pengibaran bendera Merah Putih bersama para eks napiter bukan sekadar ritual tahunan, melainkan simbol nyata keberhasilan pembinaan, rekonsiliasi, dan penerimaan kembali di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia mengapresiasi dukungan berbagai pemangku kepentingan di wilayah DKI Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi yang dinilai terus membangun pendekatan pembinaan secara manusiawi dan berkelanjutan.
Pendekatan tersebut penting karena proses kembali ke masyarakat tidak selesai ketika seorang napiter meninggalkan lembaga pemasyarakatan. Setelah itu masih ada persoalan penerimaan sosial, pekerjaan, relasi dengan lingkungan, hingga bagaimana membangun kembali kepercayaan.
Karena itu, keterlibatan pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan komunitas menjadi bagian penting dalam membentuk ruang sosial yang memungkinkan proses reintegrasi berlangsung tanpa stigma berlebihan.
Dalam upacara yang berlangsung di sejumlah lokasi, eks napiter tidak ditempatkan semata-mata sebagai objek pembinaan. Mereka menjadi bagian dari kegiatan. Beberapa bahkan dipercaya menjalankan tugas dalam rangkaian upacara, termasuk menjadi petugas pengibar bendera.
Satgaswil Kota Depok DENSUS 88 AT POLRI Gelar Upacara HUT RI ke-81 bersama eks Napiter dan Pemkot Depok, Walikota Supian Suri dan Wawali Chandra, Senin 17 Agustus 2026 (foto: IchiEcha)
Pemandangan tersebut menghadirkan simbol yang cukup kuat: seseorang yang pernah berada di luar arus utama kehidupan kebangsaan kini berdiri di tengah barisan yang sama, memberikan penghormatan kepada Sang Saka.
Seorang perwakilan eks napiter mengaku bersyukur dapat mengikuti upacara HUT RI ke-81.
“Ini adalah momen kembalinya kami ke pangkuan Ibu Pertiwi secara utuh. Dukungan dari Satgaswil DKI Jakarta dan pemerintah daerah membuat kami merasa diterima kembali sebagai warga negara yang siap berkontribusi positif bagi bangsa,” tuturnya.
Pernyataan itu sekaligus menunjukkan bahwa deradikalisasi memiliki dimensi yang lebih luas daripada perubahan pandangan ideologis. Ada proses membangun kembali identitas kewarganegaraan dan rasa memiliki terhadap masyarakat tempat seseorang hidup.
Bagi aparat, pendekatan semacam ini juga menjadi investasi sosial. Deradikalisasi berbasis komunitas menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai pihak yang harus dilindungi dari ancaman radikalisme, tetapi juga sebagai bagian dari mekanisme pencegahan agar seseorang yang telah meninggalkan jaringan kekerasan tidak kembali terjerumus.
Upacara HUT RI ke-81 di kawasan Jadetabek itu pada akhirnya menjadi semacam panggung kecil bagi proses tersebut. Tidak ada sekat khusus ketika Merah Putih berkibar. Yang tersisa adalah barisan warga negara dengan latar belakang berbeda, berdiri dalam satu upacara.
Satgaswil DKI Jakarta Densus 88 bersama para stakeholder pun menegaskan komitmen untuk melanjutkan pembinaan, memperkuat deradikalisasi berbasis komunitas, dan membangun lingkungan sosial yang kondusif.
Sebab, dalam perang melawan terorisme, mencegah seseorang kembali kepada ideologi kekerasan bukan hanya perkara penindakan. Ada pekerjaan yang lebih sunyi setelahnya: memastikan mereka memiliki alasan untuk tetap berada di tengah masyarakat.
Dan pada pagi peringatan kemerdekaan itu, alasannya ditunjukkan melalui sebuah simbol yang sederhana—Merah Putih berkibar, sementara mereka berdiri di bawahnya. [■]
Tags
Anti Terorisme
ATHG
Densus 88
Densus 88 Anti Teroris
Eks Napiter
FKDM
FKDM Kota Bekasi
HUT RI ke-81
Kepolisian
Kota Depok
Pemkot Depok
Terorisme


