Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Dapur SPPG Citeureup Viral: Jejak Kelalaian dibalik MBG “Bau Ketek”

iklan banner AlQuran 30 Juz

Ini Saran Direktur Pasatama Institute Arsyam Dwi Guna Mencegah Kejadian Sama Berulang di Kemudian Hari

jabar-online.com | Rabu, 8 April 2026, 08:05 WIBHer/Why/DR

Video pengembalian paket makan oleh siswa SMPN 1 Dayeuhkolot bukan sekadar konten viral. Di balik tawa getir publik atas istilah “bau ketek”, tersimpan persoalan yang jauh lebih serius: dugaan lemahnya standar food handling dalam program makan bergizi gratis yang melayani 2.874 penerima manfaat. Saat keluhan disebut bukan pertama kali, kasus ini tak lagi terlihat sebagai insiden sesaat, melainkan alarm sistemik.

 — KOTA BEKASI | Menurut Ketua Assesor Kompetensi dan Sertifikat yangnjiga Direktur Utama Pasatama Institute, bahwa kejadian ini memang menjadi pengingat keras bahwa dalam skala produksi ribuan porsi, aspek keamanan pangan tidak bisa ditawar.


Istilah "bau ketek" atau aroma tidak sedap pada makanan biasanya merupakan indikator kuat adanya kontaminasi bakteri akibat suhu penyimpanan yang tidak tepat atau prosedur sanitasi yang terabaikan.
Berikut adalah beberapa poin solusi strategis agar insiden serupa tidak terulang kembali:

1. Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) Ketat
Masalah aroma biasanya berakar pada:
  • Time-Temperature Abuse: (penyalahgunaan suhu dan waktu).
  • Rantai Dingin & Panas: Pastikan makanan panas tetap berada di atas suhu 60°C dan makanan dingin di bawah 5°C selama distribusi. 

Jeda Waktu: Batasi waktu antara selesai masak hingga dikonsumsi maksimal 4 jam. Jika lebih dari itu, risiko pertumbuhan bakteri meningkat drastis.

2. Sertifikasi dan Pelatihan Food Handler
Operator di dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) wajib memiliki kompetensi yang terukur:

Pelatihan Higiene Sanitasi: Setiap personel wajib memahami konsep kontaminasi silang (misal: memisahkan talenan daging mentah dan sayur).

Sertifikasi BNSP: Mendorong seluruh kru dapur memiliki sertifikasi profesi sebagai penjamin bahwa mereka bekerja sesuai standar nasional.


3. Audit dan Pengawasan Eksternal Berkala
Sistem pengawasan mandiri seringkali memiliki titik buta.

Quality Control (QC) Harian: Menunjuk petugas khusus yang mencicipi dan memeriksa aroma/tekstur setiap batch sebelum dikirim.

Uji Lab Sampel: Melakukan uji swab pada alat masak dan personil secara berkala untuk memastikan tidak ada bakteri merugikan seperti E. coli atau Salmonella.

4. Optimalisasi Sarana Distribusi
Seringkali masalah bukan di dapur, melainkan di perjalanan.

Penggunaan Wadah Food Grade: Pastikan wadah tertutup rapat dan tidak bereaksi kimia dengan panas makanan.

Transportasi Terstandar: Menggunakan boks isolasi (insulated box) untuk menjaga suhu makanan tetap stabil selama pengiriman ke sekolah-sekolah.

5. Sistem Umpan Balik (Feedback Loop) Cepat
Membangun kanal komunikasi langsung antara pihak sekolah dan pengelola dapur.

Jika ditemukan aroma atau tampilan yang tidak sesuai, distribusi harus segera dihentikan sebelum dikonsumsi oleh siswa, sehingga mitigasi bisa dilakukan dalam hitungan menit.

Catatan Penting: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah langkah mulia untuk generasi masa depan.

Kunci keberhasilannya bukan hanya pada kelezatan, tapi pada keamanan pangan (Food Safety) yang konsisten di setiap porsinya.

Sertifikasi Implementasi HACCP Dapur dan ISO 22000:2018 adalah Langkah Konkret yg Harus di Terapkan di Semua Satuan SPPG di Seluruh Indonesia. [■]

Reporter: NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama