iklan banner
iklan header
iklan header banner
Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Chef Affan: Kepala Dapur Harus Bersertifikat, Bukan Sekadar Bisa Masak

iklan banner AlQuran 30 Juz

Standar MBG Kota Depok Naik Level ! Chef Affan Gembleng Peserta SPPG Lewat Sertifikasi Ketat


Pelatihan dan sertifikasi kepala dapur SPPG ini sangat penting, karena ibarat mengendarai sebuah kendaraan harus mempunyai surat izin mengemudi yang sah, demikian pula para Chef, Koki Pembantu hingga Food Handler, harus punya Sertifikasi dari BNSP.

— DEPOK | Sosok chef senior Muhammad Affan atau yang akrab disapa Babe Uban tampil sebagai mentor utama dalam Pelatihan dan Sertifikasi Cook Helper dan Chef de Partie SPPG Kota Depok yang digelar oleh Pasatama Institute di lAntai 2, Jasmine Room, Hotel Savero Depok, Sabtu (21/2/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Chef Affan membagikan pengalaman panjangnya di dunia kuliner profesional, mulai dari dasar teknik dapur hingga standar kerja di industri hospitality.


Ia menekankan bahwa seorang cook helper maupun chef de partie harus memiliki disiplin tinggi, konsistensi rasa, serta kemampuan kerja tim yang solid.

Selama pelatihan, Chef Affan memberikan pembekalan komprehensif terkait standar kerja dapur profesional, mulai dari higienitas dan keamanan pangan, manajemen produksi, hingga teknik pengolahan makanan sesuai standar BGN dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Materi disampaikan secara aplikatif melalui simulasi dapur dan studi kasus agar peserta siap terjun langsung ke dunia kerja.

Pelatihan dan sertifikasi kepala dapur SPPG ini sangat penting, karena ibarat mengendarai sebuah kendaraan harus mempunyai surat atau sertifikasi izin,” ujar Chef Affan, menegaskan pentingnya legalitas dan kompetensi tenaga dapur profesional.

Foto peserta Pelatihan di Hotel Savero, Depok pada Sabtu 21/2/2026

Ia juga menjelaskan poin apa apa saja yang menjadi indikator kelulusan peserta dalam program sertifikasi tersebut.

“Peserta dinyatakan berkompeten jika sudah lulus dalam tiga hal;
Pertama memahami sanitasi dan higienitas,
Kedua mampu menerapkan dan mengaplikasikannya di lapangan, dan
Ketiga bisa mengkoordinir tim dalam proses produksi makanan bergizi ini sampai pada sasarannya,” imbuhnya.

Pelatihan ini dirancang tidak hanya berbasis teori, tetapi juga praktek langsung, termasuk teknik pengolahan bahan, plating, hingga simulasi kerja dapur profesional.

Para peserta turut mengikuti sesi uji kompetensi sebagai bagian dari proses sertifikasi yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan menjamin nilai kesehatan serta gizi MBG di Kota Depok lebih bikin orang tua siswa nggak khawatir.

Melalui kegiatan ini, Pasatama Institute menargetkan lahirnya tenaga dapur bersertifikasi yang siap mendukung kebutuhan industri sekaligus berkontribusi dalam penyediaan makanan bergizi berkualitas bagi masyarakat.

Kualitas Dapur SPPG Dipertaruhkan, Siswa MBG Butuh Chef Bersertifikat

Ribuan siswa penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Jawa Barat membutuhkan jaminan kualitas pangan yang aman, higienis, dan sesuai standar gizi.

Di tengah meningkatnya sejumlah kejadian luar biasa (KLB) yang menjadi alarm serius soal higienitas dan sanitasi makanan, peningkatan profesionalisme petugas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar formalitas.

Komitmen itu tercermin dalam Pelatihan dan Sertifikasi Cook Helper dan Chef de Partie SPPG yang digelar Pasatama Institute di Hotel Savero, Depok, Sabtu (21/2), dengan menghadirkan chef senior Muhammad Affan atau yang akrab disapa Babe Uban sebagai mentor utama.

Dalam pelatihan tersebut, Chef Affan menekankan bahwa dapur program MBG tidak boleh dikelola secara sembarangan. Menurutnya, kepala dapur harus memiliki sertifikasi kompetensi yang jelas, sebagaimana seseorang wajib memiliki surat izin saat mengendarai kendaraan.

“Pelatihan dan sertifikasi kepala dapur SPPG ini sangat penting, karena ibarat mengendarai sebuah kendaraan harus mempunyai surat atau sertifikasi izin,” tegasnya.

Pernyataan itu menjadi relevan mengingat Jawa Barat tercatat sebagai provinsi dengan jumlah sekolah dan penerima manfaat MBG yang sangat besar, sekaligus wilayah dengan temuan kejadian luar biasa terbanyak dalam beberapa bulan terakhir.

Bagi siswa, setiap kesalahan prosedur sanitasi bukan sekadar pelanggaran teknis, tetapi menyangkut kesehatan dan keselamatan mereka, para siswa penerima manfaat MBG.

Tiga Pilar Kelulusan: Sanitasi, Implementasi, dan Kepemimpinan

Chef Affan menjelaskan, peserta sertifikasi dinyatakan kompeten jika memenuhi tiga indikator utama: memahami sanitasi dan higienitas pangan, mampu menerapkannya secara konsisten di lapangan, serta sanggup mengoordinasikan tim produksi makanan bergizi hingga sampai ke tangan siswa dengan standar mutu yang terjaga.

Materi pelatihan tidak hanya berbasis teori, tetapi juga praktik langsung melalui simulasi dapur profesional dan studi kasus.

Peserta dilatih mengenai manajemen produksi, teknik pengolahan sesuai standar Badan Gizi Nasional (BGN) dalam program MBG, hingga pengendalian risiko kontaminasi.

Pendekatan aplikatif ini diharapkan mampu meminimalisir kesalahan prosedur standar pengelolaan gizi, sekaligus memperkecil potensi terjadinya KLB yang merugikan siswa sebagai penerima manfaat utama.

Kepentingan Siswa Harus Jadi Prioritas
Program MBG dirancang sebagai investasi jangka panjang untuk mencetak generasi sehat dan produktif.

Namun, kualitas makanan tidak hanya ditentukan oleh bahan baku, melainkan juga oleh kompetensi sumber daya manusia yang mengolahnya.

Bagi para siswa di Jawa Barat, dapur SPPG yang dikelola tenaga bersertifikat adalah bentuk perlindungan nyata atas hak mereka mendapatkan makanan bergizi yang aman dikonsumsi.

Orang tua pun memiliki alasan lebih kuat untuk percaya bahwa program ini dijalankan dengan standar profesional, bukan sekadar memenuhi target distribusi.

Melalui pelatihan dan sertifikasi ini, Pasatama Institute menargetkan lahirnya tenaga dapur bersertifikasi yang siap mendukung kualitas MBG secara berkelanjutan.

Harapannya, peningkatan kompetensi ini menjadi langkah preventif untuk menekan risiko kesalahan prosedur, sekaligus memperbaiki standar higienitas dan sanitasi dapur sekolah di Jawa Barat.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah porsi yang tersalurkan, tetapi dari seberapa aman dan berkualitas makanan itu ketika disantap oleh anak-anak sekolah setiap harinya. [■]

Reporter: Hery - Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama