Wartawan Bertaruh Nyawa Demi Fokus: Dari Obat Tetes Mata sampai Semprot Wajah - Opini Jurnalis Jalanan
Sidik Warkop: Wartawan Lapangan, Pengamat Sosial & Kesehatan Publik: Sedikit yang tahu, di balik berita tajam dan liputan cepat, ada ritual tak tertulis para wartawan lapangan: menyemprot wajah dengan cairan antiseptik demi mengusir mata perih dan pikiran kosong. Terdengar konyol, tapi bagi mereka yang setiap hari menembus debu dan panas jalanan, ini soal bertahan hidup—bukan sekadar gaya.
Banyak yang berimprovisasi itu kadang berbentuk jas hujan bekas spanduk, makan siang jam empat sore, dan—ini yang jarang dibahas—sebotol cairan antiseptik semprot untuk wajah di samping biasa membawa OTM (Obat Tetes Mata) di saku rompi kerja.
Atau kedengarannya berlebihan? Tidak bagi mereka yang puluhan tahun hidup di jalan.
Tapi di Jalan Raya adalah Ruang Redaksi Paling Kejam bagi Mata
Meskipun saat liputan lapangan, mata wartawan bekerja tanpa jeda apalagi dengan mengendarai motor berjam-jam di bawah terik, menembus debu proyek, asap knalpot, angin kering, lalu berpindah ke layar ponsel dan laptop.
Adanya gejalanya klasik tapi paling sering diremehkan:
- Terasa mata sepet seperti kurang tidur,
- Apalagi mata perih seperti habis nangis ditinggal deadline,
- Pasti mata lelah padahal liputan belum selesai.
Lebih ke Kisah Nyata: Semprot Wajah demi Fokus dan Keselamatan
Ini pengalaman penulis sebagai wartawan yang bawa kendaraan baik mobil namun lebih sering naik motor demi alasan mobilitas, saya mengakui satu kebiasaan lapangan yang mungkin terdengar nekat, bahkan sedikit absurd.
Nyatanya saat mata mulai perih dan kepala terasa “kosong”, saya menyemprotkan cairan antiseptik beralkohol ini ke wajah.
Gangguan iritasi debu yang menerpa dan selama ini saya tetap merasa aman tak ada efek samping, meski butuh kajian ilmiah untuk dijadikan produk yang bebas dijual ke publik.
Tapi penyemprotannya memang bukan ke mata, namun langsung ke wajah.
Entah rasanya seperti apa, namun ini yang benar penulis rasakan?
- Pertama dingin dan segar.
- Agak sedikit perih.
- Tapi setelah itu, pandangan jadi segar.
- Bagai ada tombol restart di kepala.
- Ada nyawa yang sempat tercecer di panas jalanan, seolah ngumpul kembali.
Gaya hidup sehat bagi penulis secara personal yang bukan versi brosur.
Ini mekanisme bertahan hidup wartawan lapangan dan penulis sudah belasan tahun merasakannya.
Terbukti kesehatan mata yang terjaga bukan hanya soal kenyamanan, melainkan soal tanggung jawab—pada diri sendiri, pada pekerjaan, dan pada nyawa orang lain di jalan.
Seperti ketika penulis mengandalkan obat tetes mata, itu biasanya saya lakukan saat sudah sampai di dalam ruangan kerja—di kantor, di rumah, atau di pos liputan yang aman.
Itu memang betul dialami penulis hingga tulisan ini dibuat. Insto Dry Eye sangat efektif untuk menyegarkan mata saat jalan raya di bawah terik panas yang berdebu.
Ada banyak polutan di jalan raya? Padahal itulah fakta yang ada di era serba instan dan kilat ini.
Pokoknya, kemasan cairan antiseptik dalam botol semprot, bagi penulis dirasakan jauh lebih praktis dan instan.
Analisa Investigatif: Kebutuhan yang Belum Dijawab Produk Kesehatan Mata
Pengamatan dari sudut pandang kesehatan publik, kebiasaan ini sebenarnya memberi sinyal penting: ada celah kebutuhan yang belum sepenuhnya terjawab.
Untuk wartawan lapangan, pengendara, kurir, petugas lapangan—mereka butuh:
- Nuansa kesegaran instan,
- Termasuk rasa aman,
- Aman dalam penggunaan,
- Nantinya berefek membersihkan mata dari debu dan polusi,
- Pokoknya mata bisa dibuka lebar-lebar lagi selama di jalan.
Apakah ini membuka ruang ide diversifikasi produk kesehatan mata dan wajah yang lebih kontekstual dengan realitas lapangan.
Karena Diversifikasi Produk Tetes Mata ke Jadi Cairan Semprot Lapangan
Enaknya adalah ketika industri kesehatan mata mulai memikirkan:
- Cairan semprot wajah,
- Unsur efek dingin, menyegarkan,
- Aman untuk area sekitar mata,
- Lebih membantu untuk membersihkan debu dan polutan,
- Ikut mendukung fokus visual tanpa harus meneteskan cairan langsung ke mata.
Inovasi ini bukan menggantikan obat tetes mata—karena fungsinya berbeda—tetapi melengkapi ekosistem perawatan mata.
Namanya juga obat tetes mata, ya tetap jadi andalan saat kondisi aman dan tenang di dalam ruangan.
Sementara bagi penulis cairan antiseptik semprot ke wajah dirasakan aman bisa menjadi first aid versi lapangan.
Tapi bagi awak media, ini bukan gaya hidup. Ini bagian dari alat kerja dan alat bantu utama.
Opini Penulis: SePeLe Itu Nyata, dan Tak Bisa Diremehkan
Apalagi ini kisah nyata dan pengalaman seorang wartawan yang puluhan tahun hidup di jalan. Dengan semua kebiasaan di lapangan yang mungkin ideal secara medis, tapi semuanya lahir dari kebutuhan nyata.
Doa tetap penting: “Semoga Allah menjaga kesehatan mata saya. dan kesehatan saya dan keluarga. Serta semua orang yang berada di sekitar saya baik yang terlihat maupun tidak.”
Aktivitas harian akan lebih kuat jika diiringi doa, inovasi, kesadaran, dan solusi yang sesuai realitas kerja.
Liputan berita boleh keras, jalanan boleh kejam, tapi mata wartawan tidak boleh terus dikorbankan.
Apalagi ini bukan masalah SePeLe—sepet, perih, lelah— semata. Bukan juga cuma soal kenyamanan, tapi soal keselamatan, fokus, dan kualitas informasi yang sampai ke publik.
Hidup ini siapa yang tahu? Dari sebuah kisah semprot wajah ala wartawan lapangan, lahir inovasi kesehatan mata yang benar-benar berpihak pada mereka yang bekerja di bawah matahari, debu, dan deadline.
Oleh marena di jalan raya, mata yang segar bukan gaya—itu soal hidup dan pulang dengan selamat.
Barangkali ke depan, perusahaan obat tetes mata seperti Insto bisa ikut membayangkan kebutuhan darurat para pengendara—baik motor maupun mobil—yang setiap hari bertarung dengan debu, panas, dan polusi.
Atau bukan sekadar soal menyegarkan mata, tapi membantu menjaga fokus, keselamatan, dan kewarasan di jalan raya.
Terlebih karena bagi mereka yang hidup di lapangan, masalah mata SePeLe tidak pernah benar-benar sepele.
Mungkin hal ini bisa menentukan apakah seseorang bisa sampai tujuan dengan selamat, atau justru kehilangan konsentrasi di detik yang tak boleh salah.
Apalagi obat tetes mata seperti Insto Dry Eye adalah sahabat setia mata di dalam mobil atau ruangan, maka mungkin sudah waktunya ada solusi lapangan yang lahir dari empati terhadap realitas jalanan bagi pengendara motor.
Apalagi bagi wartawan seperti penulis, harapannya sederhana: mata tetap jernih, fokus tetap utuh, dan berita bisa sampai ke publik—tanpa harus menukar kesehatan demi satu paragraf laporan.
Sederet paragraf tulisan ini jelas bukan advertorial, namun opini penulis tentang betapa pentingnya obat tetes mata yang direkomendasikan untuk pembaca saat berkendara di jalan raya yang panas terik dan penuh polusi.
Apakah yang membuat mata kita merah itu polusi udara?
Yang seolah bagaikan drone polisi di udara, lalu mengejar kita untuk menilang karena lupa pakai obat tetes Insto Dry Eye ....?
Ah ini sih iklan banget. Artinya andalan penulis jika berada di dalam ruangan tertutup untuk mengatasi mata sepet, mata perih dan mata lelah, tak ada yang lain, kecuali Insto Dry Eye. [■]





Posting Komentar