LKS SMK Jawa Barat Jadi Ajang Pencarian Talenta Muda Rekayasa Rancang Bangun Industri
jabar-online.com | Kamis 11 Juni 2026, 13:05 WIB | NirwanLes/DR
Dari Karawang untuk Indonesia: LKS SMK Jaring Talenta Muda Pengelasan Berstandar Internasional. Ujian 60 Bar untuk Calon Ahli Las Masa Depan, LKS Jabar Cetak SDM Industri Unggul. Bukan Sekadar Mengelas, Siswa SMK Ditantang Bangun Pressure Vessel Berstandar Industri. 17 Wakil Daerah Adu Presisi di Karawang, Hanya Empat Bejana Lolos Uji Tekan 60 Bar. LKS Welding Jabar: Arena Pembuktian Calon Rekayasawan Muda Industri Nasional
— KARAWANG | Kompetisi keahlian tingkat pelajar vokasi kembali menjadi panggung lahirnya calon-calon tenaga profesional masa depan.Melalui Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK tingkat Provinsi Jawa Barat yang digelar di SMKN 1 Karawang, Kamis (11/6/2026), para siswa terbaik dari berbagai daerah diuji tidak hanya dari sisi keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan membaca gambar kerja, memahami standar industri, hingga mengeksekusi pekerjaan berisiko tinggi dengan tingkat presisi yang ketat.
LKS yang merupakan bagian dari program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia di bidang riset, inovasi, dan pengembangan kompetensi vokasi tersebut menjadi wadah pencarian bakat teknik rekayasa rancang bangun di kalangan generasi muda.
Berbeda dari kompetisi keterampilan biasa, para peserta ditantang menyelesaikan sebuah proyek rekayasa berbentuk pressure vessel atau bejana tekan mini yang mengharuskan mereka menguasai berbagai metode dan posisi pengelasan sesuai standar industri.
"Sebelum hari pelaksanaan, peserta telah diberikan lembar detail potongan material dan gambar kerja yang harus dipelajari. Mereka diminta memahami skema rancang bangun pressure vessel sebagai dasar pelaksanaan lomba," ujar instruktur pengelasan, MJ Solihin, ST, usai kegiatan.
Pada hari pelaksanaan, sebanyak 17 peserta yang mewakili 17 kabupaten dan kota di Jawa Barat terlebih dahulu memperoleh waktu dua kali 15 menit untuk melakukan pemeriksaan material, pengecekan mesin las, serta melakukan uji coba pengelasan.
"Kesempatan itu digunakan peserta untuk memastikan kesiapan alat sekaligus melakukan trial welding sebelum masuk ke tahapan utama kompetisi," kata Solihin.
Setelah masa persiapan berakhir, para peserta secara bergantian memasuki kabin
Mereka kemudian mengeksekusi proses penyambungan plat dan pipa yang dirakit menjadi bejana tekan mini sesuai spesifikasi yang telah ditentukan panitia.
Salah seorang juri dari Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) BMTI Bandung, Donny Prasetyo, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa gambar kerja yang diberikan kepada peserta mengacu pada standar internasional yang lazim digunakan dalam industri manufaktur dan konstruksi.
Menurut dia, peserta dituntut menguasai berbagai posisi pengelasan, mulai dari 1G, 2G, 3G hingga 6G, dengan penggunaan proses pengelasan GTAW, GMAW, maupun SMAW yang disesuaikan dengan karakteristik material plat dan pipa yang tersedia.
"Kompetensi yang diuji tidak hanya kemampuan mengelas, tetapi juga pemahaman terhadap prosedur kerja, kualitas penetrasi, akurasi dimensi, dan keselamatan kerja sebagaimana diterapkan di dunia industri," ujar Donny.
Tahap penilaian tidak berhenti pada hasil visual semata. Untuk memastikan kualitas sambungan las yang dihasilkan peserta, panitia juga menerapkan uji hidrostatik, yaitu metode pengujian tekanan yang umum digunakan dalam industri bejana tekan.
Pada tahap ini, setiap bejana diisi penuh dengan air dan diberikan tekanan hingga mencapai 60 bar. Pengujian dilakukan untuk mengetahui kemampuan benda kerja menahan tekanan tinggi tanpa mengalami kebocoran maupun kerusakan struktur.
"Dari 17 peserta yang mengikuti pengujian, hanya empat karya yang lolos tanpa menunjukkan kebocoran. Bahkan tisu yang digunakan sebagai indikator rembesan tetap kering," ungkap Donny.
Berdasarkan hasil penilaian keseluruhan, dewan juri menetapkan tiga peserta terbaik, yakni perwakilan dari SMKN 1 Sukabumi, SMK Karya Nasional Kuningan, dan SMKN 1 Cibinong.
Meski demikian, pelaksanaan LKS bidang Welding di berbagai provinsi masih menyisakan sejumlah catatan evaluasi. Materi kompetisi yang diterapkan di masing-masing daerah diketahui belum sepenuhnya seragam.
Di Kalimantan Selatan misalnya, kompetisi yang digelar di SMKN 5 Banjarmasin berfokus pada pengelasan 3F dan 3G SMAW, sementara di Sumatera Selatan peserta hanya diuji pada posisi 6G SMAW.
Perbedaan tersebut dinilai berpotensi menimbulkan ketimpangan standar kompetensi saat peserta terbaik dari masing-masing daerah bertemu di tingkat nasional.
Pengurus Asosiasi Pengelasan Indonesia (API) Pusat, Eddy Hasanuddin, MT, menilai mekanisme penyelenggaraan LKS bidang pengelasan perlu dievaluasi agar standar kompetensi peserta dari seluruh provinsi dapat lebih setara.
"Mestinya ada penyamaan standar materi lomba di seluruh wilayah sehingga hasil seleksi daerah benar-benar menghasilkan kompetensi yang sama ketika masuk ke tingkat nasional," ujar Eddy saat dihubungi dari Banjarmasin.
Selain itu, ia juga menyoroti pendeknya rentang waktu antara pelaksanaan seleksi tingkat provinsi dan kompetisi nasional yang dinilai belum memberikan ruang cukup bagi peserta untuk melakukan persiapan lanjutan.
Menurut Eddy, peserta yang telah terpilih membutuhkan waktu untuk meningkatkan kemampuan teknis, memperdalam pemahaman standar industri, serta melakukan latihan intensif agar mampu bersaing secara optimal pada tingkat nasional.
Lebih dari sekadar kompetisi, LKS SMK bidang Welding sesungguhnya menjadi cerminan upaya dunia pendidikan vokasi dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul yang siap memasuki sektor industri strategis nasional.
Dari ruang praktik pengelasan di Karawang, harapan itu terus menyala: melahirkan generasi muda yang tidak hanya terampil bekerja, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan industri modern yang semakin menuntut kualitas, keselamatan, dan standar internasional. [■]




