Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

BUMRW Ala QRS: Dari Dana Hibah RW Jadi Mesin Supply Chain MBG Kota Bekasi

iklan banner AlQuran 30 Juz

Ketua KADIN Kota Bekasi Usulkan MOU Strategis dengan Pemkot Bekasi: Bentuk BUMRW Jadi Pemasok Dapur MBG dan Penggerak Ekonomi Kerakyatan

jabar-online.com | Ahad, 24 Mei 2026, 16:11 WIBHer/Why/DR

Siapa bilang lele cuma cocok buat pecel lele pinggir jalan? Di tangan Ketua KADIN Kota Bekasi, Qadar Ruslan Siregar (QRS), ikan lele dan telur ayam justru diproyeksikan menjadi “mesin uang baru” warga RW se-Kota Bekasi. Lewat gagasan BUMRW, QRS ingin program MBG, Koperasi Merah Putih, dan dukungan Pemkot Bekasi disatukan menjadi ekosistem ekonomi kerakyatan modern yang dimulai langsung dari lingkungan warga.

 — KOTA BEKASI | Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Bekasi, Qadar Ruslan Siregar (QRS), kembali melontarkan gagasan unik dan dinilai sangat realistis dalam mendukung tiga program besar pemerintah pusat, yakni Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, dan penguatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).


Dalam wawancara bersama wartawan JabarOL, Jumat (22/5/2026) lalu, Bang QRS mengusulkan adanya kerja sama strategis berbentuk MOU antara KADIN Kota Bekasi dengan Pemerintah Kota Bekasi untuk membangun sistem rantai pasok (supply chain) pangan lokal berbasis RW melalui konsep baru bernama BUMRW (Badan Usaha Milik Rukun Warga).


Menurut QRS, konsep tersebut dapat menjadi model ekonomi kerakyatan modern yang menghubungkan langsung program MBG dengan potensi usaha masyarakat di tingkat paling bawah.


Kalau program MBG ini hanya jadi proyek distribusi makanan, dampaknya pendek. Tapi kalau rantai pasoknya dibangun dari rakyat, dari RW, dari lingkungan sendiri, maka uangnya akan terus berputar di masyarakat Kota Bekasi,” ujar QRS.

Ia menjelaskan, BUMRW nantinya dapat menjadi unit usaha ekonomi produktif tingkat lingkungan yang dikelola secara kolektif dengan pembinaan manajemen, tata kelola usaha, distribusi, hingga pemasaran dari KADIN Kota Bekasi bersama OPD terkait di Pemkot Bekasi.


Peternakan Lele dan Telur Rumahan Jadi Pilot Project

Sebagai tahap awal, QRS mendorong agar setiap RW memiliki unit usaha sederhana namun produktif dan berkelanjutan, seperti:
  • Peternakan lele skala RW
  • Peternakan telur ayam rumahan
  • Urban farming sayuran
  • Distribusi bahan pokok MBG
  • Dapur olahan pangan lokal

Menurutnya, program tersebut sangat cocok dikombinasikan dengan Dana Hibah Rp100 juta per RW yang selama ini diberikan Pemkot Bekasi.

Daripada dana hanya habis untuk kegiatan konsumtif dan seremonial, kenapa tidak sebagian dijadikan modal usaha produktif yang bisa menghasilkan perputaran ekonomi harian untuk warga?” kata QRS.

Simulasi Supply Chain MBG Kota Bekasi

QRS kemudian memaparkan simulasi sederhana yang dinilai sangat potensial.

Per April 2026, terdapat sekitar 251 dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) Program MBG yang sudah beroperasi di Kota Bekasi.

Jika satu dapur MBG rata-rata membutuhkan:
  • 3.000 butir telur per hari
  • 3.000 ekor/potong ikan lele per hari

Maka kebutuhan harian seluruh dapur MBG di Kota Bekasi mencapai:

Kebutuhan Harian Seluruh Dapur MBG
  • 753.000 butir telur per hari
  • 753.000 ekor lele per hari

Karena Kota Bekasi memiliki sekitar 1.300 RW, maka bila dibagi merata:

Potensi Produksi per RW;

Setiap RW hanya perlu menyuplai sekitar:
  • ±579 butir telur per hari
  • ±579 ekor lele per hari

Menurut QRS, angka tersebut justru sangat realistis bila dikelola secara gotong royong melalui BUMRW.

Perputaran Uang Bisa Fantastis

QRS juga memaparkan simulasi ekonomi sederhana dari program tersebut.

Misalnya:

Simulasi Pendapatan Telur

Jika harga suplai telur Rp1.000 per butir:

579 butir × Rp1.000 = Rp579.000 per hari

Dalam 20 hari:

Rp579.000 × 20 = Rp11.580.000 per bulan

Simulasi Pendapatan Lele

Jika harga suplai lele rata-rata Rp8.000 per ekor/porsi:

579 ekor × Rp8.000 = Rp4.632.000 per hari

Dalam 20 hari:

Rp4.632.000 × 20 = Rp92.640.000 per bulan

Total Potensi Omzet per BUMRW

Maka total potensi omzet sederhana setiap BUMRW bisa mencapai:

± Rp104.220.000 per bulan

atau lebih dari:

Rp1.250.640.000,- per tahun

Tentunya angka tersebut masih berupa simulasi kasar sebelum dikurangi biaya operasional, pakan, distribusi, tenaga kerja, dan pengelolaan.

Namun menurut QRS, dari simulasi sederhana itu saja sudah terlihat bahwa Dana Hibah Rp100 juta per RW sebenarnya dapat diputar menjadi modal produktif yang menghasilkan ekonomi berkelanjutan.

Kalau sistem ini berjalan, uang negara tidak berhenti di proposal. Tetapi hidup menjadi usaha rakyat yang nyata,” tegasnya.

KADIN Siap Jadi Pembina dan Pendamping

Dalam konsep yang sedang disiapkan, KADIN Kota Bekasi nantinya tidak hanya menjadi mitra diskusi, tetapi juga siap menjadi pembina teknis dan pendamping bisnis bagi setiap BUMRW.

Mulai dari:
  • pelatihan manajemen usaha,
  • penguatan koperasi,
  • akses pasar,
  • digitalisasi usaha,
  • pengemasan produk,
  • hingga tata kelola supply chain.

QRS bahkan menilai model tersebut dapat menjadi pilot project nasional apabila berhasil dijalankan secara konsisten di Kota Bekasi.
Kalau satu RW bisa hidupkan ekonomi warganya sendiri, bayangkan kalau 1.300 RW bergerak bersama. Ini bukan sekadar program bantuan, tapi mesin ekonomi rakyat,” ujarnya meyakinkan.
Ia optimistis konsep BUMRW dapat menjadi jembatan antara program pemerintah pusat dengan kebutuhan riil masyarakat bawah.
Bagi QRS, inti dari ekonomi kerakyatan bukan hanya teori besar di atas kertas, melainkan bagaimana warga di tingkat RW benar-benar merasakan manfaat ekonomi secara langsung dari program negara.

MBG, Koperasi Merah Putih, dan BUMRW bisa jadi satu ekosistem besar. Dari rakyat, oleh rakyat, dan kembali untuk rakyat,” pungkasnya. [■]

Reporter: Hery / Wahyu / NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner iklan header banner

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
DREWcorp property of JABAR-ONLINE.COM