Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Viral Paket MBG Bau Ketek, Dapur SPPG Pun Heboh: Salah Nasi, Box atau SOP?

iklan banner AlQuran 30 Juz

Keluhan Siswa SMPN 1 Dayeuhkolot Memicu Audit Aroma dari Kompor hingga Armada Distribusi

jabar-online.com | Sabtu, 11 April 2026, 13:08 WIBDikRizal
Nanda Kartika Sari, Direktur Pasatama Institute Bandung Raya

Satu keluhan siswa mengubah makan siang sekolah menjadi laporan investigatif. Aroma yang disebut tak sedap itu kini menyeret perhatian publik pada standar dapur SPPG dan rantai distribusi makanan massal.

 — KOTA BANDUNG | Dapur SPPG Citeureup dan Tantangan Standarisasi
Sorotan terhadap Dapur SPPG Citeureup menjadi momentum evaluasi lebih besar terhadap sistem MBG secara menyeluruh.

Sebelumnya, Dr. Rita Patriasih, SPd., MSi. juga telah menjadi narasumber utama dalam pelatihan sertifikasi HACCP, ISO 22000:2018, dan ISO 45001:2018 yang digelar Pasatama Institute di Tebu Hotel, Jl. RE. Martadinata, Bandung, Jumat (10/4/2026).

Dr. Rita Patriasih, SPd., MSi.

Pelatihan tersebut secara khusus menekankan pentingnya penerapan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP).

Sistem ini mencakup:
  • identifikasi potensi bahaya,
  • penentuan titik kendali kritis,
  • monitoring suhu,
  • tindakan korektif,
  • dokumentasi proses produksi.


Dalam konteks kasus ini, publik berhak mengetahui:
  • Apakah dapur telah menerapkan SOP HACCP secara penuh?
  • Apakah ada log book suhu?
  • Apakah proses cooling tercatat?
  • Apakah dilakukan verifikasi sebelum makanan diberangkatkan?

Di sinilah persoalan viral tidak boleh berhenti sebagai bahan candaan.

Karena yang dipertaruhkan adalah kepercayaan masyarakat terhadap program MBG.


Kritik Warga adalah Bentuk Perlindungan Konsumen
Dr. Rita menegaskan bahwa kritik dari siswa, orang tua, maupun masyarakat adalah bagian dari perlindungan konsumen.

Keluhan tidak boleh dianggap serangan, melainkan umpan balik untuk perbaikan sistem.

Kritik harus kita dengar, harus kita terima, dan solusinya juga harus ada,” tegasnya.

Dalam bahasa publik yang lebih lugas:
jangan sampai program yang niatnya memberi gizi justru viral gara-gara aroma yang lebih dulu “sampai” ke hidung sebelum gizinya sampai ke tubuh.


Catatan Redaksi: Jangan Sepelekan “Aroma”
Kasus viral ini seharusnya menjadi alarm dini bagi seluruh dapur MBG di berbagai daerah.

Sebab sering kali masalah besar dalam pangan massal tidak diawali oleh keracunan, melainkan oleh sinyal kecil seperti perubahan aroma, tekstur dan suhu.

Kalau istilah netizen sudah sampai menyebut “bau ketek”, maka birokrasi tidak cukup menjawab dengan kalimat normatif.


Yang dibutuhkan publik adalah:
  • audit dapur,
  • penelusuran rantai distribusi,
  • transparansi hasil pemeriksaan,
  • langkah korektif yang nyata.

Karena bagi masyarakat, urusan makan anak sekolah bukan sekadar program—ini menyangkut keamanan, kesehatan, dan kepercayaan publik. [■]

Reporter: NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama