Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Dari Dapur Sejarah ke Panggung Dunia: KOWANI Gaspol ke UNESCO!

iklan banner AlQuran 30 Juz

Kolaborasi dengan BRIN dan ANRI, Arsip Perjuangan Perempuan Indonesia Siap “Naik Kelas” Jadi Memori Dunia


Di tengah riuhnya urusan sehari-hari warga yang kadang lebih sibuk mengarsipkan struk belanja daripada sejarah bangsa, Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) justru melangkah jauh: membawa jejak perjuangan perempuan Indonesia ke panggung dunia melalui program UNESCO Memory of the World.

 — DKI JAKARTA | Di tengah rutinitas warga yang masih berkutat dengan macet, harga cabai, dan grup WhatsApp keluarga yang tak pernah sepi, kabar segar datang dari pusat: Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) meluncurkan langkah strategis bertajuk “KOWANI Goes to UNESCO – Memory of the World”.

Sebuah program yang, kalau berhasil, bisa bikin sejarah perempuan Indonesia naik kelas—dari bahan buku pelajaran jadi pengakuan dunia.

Program ini bukan sekadar seremoni penuh spanduk dan foto bersama. KOWANI menggandeng BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) sebagai “otak ilmiah” dan ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia) sebagai “penjaga memori bangsa” untuk memastikan sejarah perempuan Indonesia tidak cuma dikenang, tapi juga diakui secara resmi oleh UNESCO.

Buat masyarakat Indonesia, ini mungkin terdengar seperti urusan “tingkat tinggi”. Tapi dampaknya bisa terasa sampai ke level paling dekat: identitas bangsa yang lebih kuat, bahan pendidikan yang lebih kaya, hingga kebanggaan kolektif yang—kalau boleh jujur—kadang kita butuhkan di sela-sela berita yang isinya bikin dahi berkerut.

Ketua Umum KOWANI, Nannie Hadi Tjahjanto, menegaskan bahwa ini bukan sekadar program biasa. Menurutnya, sejarah perjuangan perempuan Indonesia sejak Kongres Perempoean 22 Desember 1928 adalah bagian penting dari peradaban dunia yang selama ini belum mendapat panggung yang layak.

Dan memang, kalau dipikir-pikir, perempuan Indonesia sudah lama “kerja diam-diam tapi berdampak”—dari pendidikan, sosial, ekonomi, sampai urusan dapur yang kadang lebih kompleks dari rapat kementerian.

Sayangnya, banyak dari kontribusi itu belum terdokumentasi rapi, apalagi diakui secara global.

Lewat kolaborasi ini, KOWANI akan melakukan pengumpulan arsip, kurasi, hingga digitalisasi data sejarah perempuan.

Bahasa sederhananya: cerita-cerita hebat yang selama ini tercecer akan dirapikan, divalidasi, lalu “dipoles” sesuai standar internasional supaya layak masuk panggung dunia.

Tahapannya pun sudah disusun rapi:
  • 2026: Penetapan sebagai Memori Kolektif Bangsa melalui ANRI
  • 2027: Pengajuan ke UNESCO Memory of the World
  • 2028: Target pengakuan dunia, bertepatan dengan 100 tahun KOWANI

Bagi masyarakat, ini juga jadi ajakan terbuka. Bukan cuma pemerintah atau akademisi, tapi juga warga biasa—yang mungkin punya arsip lama, cerita keluarga, atau dokumentasi perjuangan perempuan di lingkungannya—untuk ikut berkontribusi.

Karena pada akhirnya, sejarah bukan cuma milik tokoh besar di buku. Ia juga hidup di rumah-rumah, di cerita nenek, di catatan lama yang hampir dibuang saat bersih-bersih gudang.

Dan kalau semua berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin suatu hari nanti warga Indonesia bisa bilang dengan santai tapi penuh bangga: “Eh, itu sejarah perempuan kita, lho… yang diakui dunia.” [■]

Reporter: Indri - Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama