Iwan: Longsor Iya, Tutup Total Tidak! Hutan Bambu Jadi Harapan Terakhir Tempat Bukber Hemat Warga Bekasi
jabar-online.com | Rabu, 25 Feb 2026, 14:33 WIB | Hery / DR
— KOTA BEKASI | Di tengah harga menu restoran yang bikin dompet ikut puasa sunnah Senin-Kamis, warga Bekasi dan sekitarnya punya satu jurus andalan untuk tetap bisa bukber tanpa drama tagihan: Hutan Bambu.
Belakangan, sempat beredar kabar bahwa kawasan wisata alam Hutan Bambu di wilayah Bekasi Timur ditutup total pasca longsor awal Februari 2026.
Padahal faktanya? Belum ada pernyataan resmi soal penutupan permanen kawasan tersebut.
Iwan sebagai salah satu petugas dari kelompok sadar wisata (Pokdarwis) menegaskan bahwa Hutan Bambu tidak pernah ditutup total.
“Tanah longsor itu bukan berarti kita tutup sementara, buktinya kemarin hari Imlek kita masih buka,” ujarnya.
Artinya, kalau Imlek saja masih bisa buka, masa iya bukber warga Bekasi harus pindah ke kafe yang parkirnya saja bayar?
Sempat beredar kabar kawasan itu ditutup total pasca longsor, namun pengelola memastikan informasi tersebut tidak benar. Meski ada fasilitas terdampak, kawasan tetap bisa dimanfaatkan masyarakat untuk berkumpul dan berbuka puasa dengan suasana alami dan biaya ramah kantong.
— KOTA BEKASI | Di tengah harga menu restoran yang bikin dompet ikut puasa sunnah Senin-Kamis, warga Bekasi dan sekitarnya punya satu jurus andalan untuk tetap bisa bukber tanpa drama tagihan: Hutan Bambu.Belakangan, sempat beredar kabar bahwa kawasan wisata alam Hutan Bambu di wilayah Bekasi Timur ditutup total pasca longsor awal Februari 2026.
Kabar itu langsung bikin grup WhatsApp warga panas. Ada yang sudah cancel rencana bukber, ada juga yang sudah terlanjur booking tempat lain dengan harga “astaghfirullah”.
Padahal faktanya? Belum ada pernyataan resmi soal penutupan permanen kawasan tersebut.
Iwan sebagai salah satu petugas dari kelompok sadar wisata (Pokdarwis) menegaskan bahwa Hutan Bambu tidak pernah ditutup total.
“Tanah longsor itu bukan berarti kita tutup sementara, buktinya kemarin hari Imlek kita masih buka,” ujarnya.
Artinya, kalau Imlek saja masih bisa buka, masa iya bukber warga Bekasi harus pindah ke kafe yang parkirnya saja bayar?
Memang benar, kondisi kawasan belum sepenuhnya pulih. Masih terlihat sisa longsor di beberapa titik, dan dua saung di bantaran kali hilang tersapu longsor.
Dua saung gugur sebagai “syuhada bukber”, tapi kawasan secara umum masih aman untuk masyarakat yang ingin singgah dan berkumpul.
“Untuk kondisinya sekarang masih aman bermasyarakat yang mau singgah dan berkumpul di sini, cuma kemarin kita kehilangan dua saung saja yang di bantaran kali,” tambah Iwan.
Bagi warga Bekasi, Hutan Bambu bukan sekadar tempat duduk lesehan. Ini adalah solusi ekonomi Ramadan. Datang boleh bawa tikar tambahan, pesan takjil dari pedagang lokal, anak-anak bisa lari-lari tanpa takut disuruh beli minuman tiap 30 menit. Udara relatif lebih sejuk dibanding aspal yang siangnya bisa bikin sandal meleleh.
Sayangnya, dampak longsor tetap terasa. Sejumlah pedagang takjil belum kembali membuka kios karena menilai kawasan masih butuh sentuhan perbaikan agar lebih nyaman dan menarik. Ramadan yang biasanya ramai transaksi, kini belum sepenuhnya bergairah.
Warga pun berharap ada langkah konkret dari Disparbud maupun Kecamatan Bekasi Timur untuk merevitalisasi kawasan tersebut.
“Untuk kondisinya sekarang masih aman bermasyarakat yang mau singgah dan berkumpul di sini, cuma kemarin kita kehilangan dua saung saja yang di bantaran kali,” tambah Iwan.
Bagi warga Bekasi, Hutan Bambu bukan sekadar tempat duduk lesehan. Ini adalah solusi ekonomi Ramadan. Datang boleh bawa tikar tambahan, pesan takjil dari pedagang lokal, anak-anak bisa lari-lari tanpa takut disuruh beli minuman tiap 30 menit. Udara relatif lebih sejuk dibanding aspal yang siangnya bisa bikin sandal meleleh.
Sayangnya, dampak longsor tetap terasa. Sejumlah pedagang takjil belum kembali membuka kios karena menilai kawasan masih butuh sentuhan perbaikan agar lebih nyaman dan menarik. Ramadan yang biasanya ramai transaksi, kini belum sepenuhnya bergairah.
Warga pun berharap ada langkah konkret dari Disparbud maupun Kecamatan Bekasi Timur untuk merevitalisasi kawasan tersebut.
Bukan hanya demi estetika, tapi demi denyut ekonomi warga kecil yang menggantungkan harapan pada keramaian pengunjung.
Karena jujur saja, di kota yang ruang terbukanya makin terdesak beton, wisata alam seperti Hutan Bambu itu kebutuhan, bukan kemewahan.
Karena jujur saja, di kota yang ruang terbukanya makin terdesak beton, wisata alam seperti Hutan Bambu itu kebutuhan, bukan kemewahan.
Tempat orang tua bisa silaturahmi, komunitas bisa bukber hemat, dan anak muda bisa nongkrong tanpa harus update story di kafe ber-AC.
Hutan Bambu sudah terbukti masih punya daya tarik. Setiap akhir pekan dan hari libur, tetap ada warga yang datang. Artinya, kepercayaan publik belum longsor.
Dengan penanganan yang lebih serius dan dukungan pemerintah, kawasan ini bisa kembali jadi ruang publik yang aman, hidup, dan menggerakkan ekonomi lokal. Karena bagi warga Bekasi, buka puasa itu bukan soal seberapa mahal tempatnya, tapi seberapa nyaman suasananya.
Hutan Bambu sudah terbukti masih punya daya tarik. Setiap akhir pekan dan hari libur, tetap ada warga yang datang. Artinya, kepercayaan publik belum longsor.
Dengan penanganan yang lebih serius dan dukungan pemerintah, kawasan ini bisa kembali jadi ruang publik yang aman, hidup, dan menggerakkan ekonomi lokal. Karena bagi warga Bekasi, buka puasa itu bukan soal seberapa mahal tempatnya, tapi seberapa nyaman suasananya.
Tags
Bencana Banjir
Dinas Pariwisata
Dinas Pariwisata Budaya
Disparbud
Hutan Bambu
Pariwisata
Pokdar
Pokdarwis
Wisata Alam
