Ratusan Pelayat Serbu Jakapermai, Rumah Mochtar Mohamad Mendadak Jadi Lautan Doa Tahlilan
Komplek elite Jakapermai, Bekasi, Kamis malam (26/2/2026) tak seperti biasanya. Bukan hajatan politik atau temu kader, melainkan lantunan tahlil yang menggema dari kediaman mantan Wali Kota Bekasi H. Mochtar Mohamad. Sedikitnya 100 tamu hadir mendoakan Ghaniya Malika Azga Mohamad, cucu tercinta yang wafat sepekan lalu.
— KOTA BEKASI | Ratusan pelayat memadati kediaman mantan Walikota Bekasi, H. Mochtar Mohamad, di Komplek Perumahan Jakapermai, Kota Bekasi, Kamis malam (26/2/2026). Mereka hadir dalam tahlilan sepekan atas wafatnya cucu tercinta, Ghaniya Malika Azga Mohamad binti Gandhi Dwiki Mohamad.
Sejak ba’da Ashar, lantunan ayat suci Al-Qur’an dan doa tahlil menggema dari halaman hingga ruang utama rumah keluarga besar H. Mochtar Mohamad.
Karangan bunga duka cita berjejer di sepanjang pagar, di antaranya dari sejumlah tokoh politik, organisasi kemasyarakatan hingga sahabat keluarga.
Sedikitnya 100 tamu undangan hadir, duduk bersila, khusyuk memanjatkan doa bagi almarhumah.
Tampak hadir Ketua MUI Kota Bekasi KH Saifuddin Siroj, Ketua FKUB Kota Bekasi H. Abdul Manan, tokoh masyarakat Bekasi Heri Sukomartono, sejumlah pengurus PAC PDI Perjuangan Kota Bekasi, serta para tokoh kepemudaan yang selama ini dikenal dekat dengan keluarga besar Mochtar Mohamad.
Warga sekitar pun turut memenuhi undangan, menunjukkan rasa empati dan solidaritas sosial yang kental.
Suasana haru tak terelakkan ketika doa dipanjatkan bersama, memohon agar almarhumah adinda Ghaniya mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan keikhlasan.
Dalam kesempatan tersebut, H. Mochtar Mohamad menyampaikan terima kasih atas kehadiran para tamu yang telah meluangkan waktu untuk mendoakan cucunya.
“Terimakasih juga buat ente Bang Sidik Rizal, sebagai sahabat dan rekan media mau hadir dan meliput kegiatan tahlilan sepekan wafatnya cucu saya,” ucap Mochtar kepada JabarOL dengan suara sedikit bergetar menahan haru.
Ia mengaku kehadiran para sahabat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga sekitar menjadi penguat tersendiri bagi keluarga dalam menghadapi ujian berat ini.
Tahlilan sepekan tersebut menjadi momentum silaturahmi sekaligus pengingat akan pentingnya kebersamaan dan doa dalam menghadapi musibah.
Di tengah duka yang mendalam, keluarga besar Mochtar Mohamad tetap membuka pintu rumahnya bagi siapa pun yang ingin berbagi doa dan penguatan moral.
Malam itu, Jakapermai bukan sekadar kawasan hunian elit. Ia menjelma menjadi ruang empati, tempat ratusan orang menautkan doa untuk seorang cucu yang telah lebih dulu berpulang. [■]
Komplek elite Jakapermai, Bekasi, Kamis malam (26/2/2026) tak seperti biasanya. Bukan hajatan politik atau temu kader, melainkan lantunan tahlil yang menggema dari kediaman mantan Wali Kota Bekasi H. Mochtar Mohamad. Sedikitnya 100 tamu hadir mendoakan Ghaniya Malika Azga Mohamad, cucu tercinta yang wafat sepekan lalu.
Sejak ba’da Ashar, lantunan ayat suci Al-Qur’an dan doa tahlil menggema dari halaman hingga ruang utama rumah keluarga besar H. Mochtar Mohamad.
Karangan bunga duka cita berjejer di sepanjang pagar, di antaranya dari sejumlah tokoh politik, organisasi kemasyarakatan hingga sahabat keluarga.
Sedikitnya 100 tamu undangan hadir, duduk bersila, khusyuk memanjatkan doa bagi almarhumah.
Tampak hadir Ketua MUI Kota Bekasi KH Saifuddin Siroj, Ketua FKUB Kota Bekasi H. Abdul Manan, tokoh masyarakat Bekasi Heri Sukomartono, sejumlah pengurus PAC PDI Perjuangan Kota Bekasi, serta para tokoh kepemudaan yang selama ini dikenal dekat dengan keluarga besar Mochtar Mohamad.
Warga sekitar pun turut memenuhi undangan, menunjukkan rasa empati dan solidaritas sosial yang kental.
Suasana haru tak terelakkan ketika doa dipanjatkan bersama, memohon agar almarhumah adinda Ghaniya mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan keikhlasan.
Dalam kesempatan tersebut, H. Mochtar Mohamad menyampaikan terima kasih atas kehadiran para tamu yang telah meluangkan waktu untuk mendoakan cucunya.
“Terimakasih juga buat ente Bang Sidik Rizal, sebagai sahabat dan rekan media mau hadir dan meliput kegiatan tahlilan sepekan wafatnya cucu saya,” ucap Mochtar kepada JabarOL dengan suara sedikit bergetar menahan haru.
Ia mengaku kehadiran para sahabat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga sekitar menjadi penguat tersendiri bagi keluarga dalam menghadapi ujian berat ini.
Tahlilan sepekan tersebut menjadi momentum silaturahmi sekaligus pengingat akan pentingnya kebersamaan dan doa dalam menghadapi musibah.
Di tengah duka yang mendalam, keluarga besar Mochtar Mohamad tetap membuka pintu rumahnya bagi siapa pun yang ingin berbagi doa dan penguatan moral.
Malam itu, Jakapermai bukan sekadar kawasan hunian elit. Ia menjelma menjadi ruang empati, tempat ratusan orang menautkan doa untuk seorang cucu yang telah lebih dulu berpulang. [■]



