Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Reses DPRD Kamil Syaikhu, Aspirasi Baru Atau Sudah Ada di Musrenbang?

iklan banner AlQuran 30 Juz

RW 11 Menyampaikan Aspirasi Perbaikan Jalan Raya Kaliabang Yang Memang Jadi Bottle-Neck Keseharian Aktivitas Warga

jabar-online.com | Selasa, 17 Februari 2026, 14:05 WIB| Hery / DR

Reses DPRD Kamil Syaikhu: Aspirasi Warga Mengalir, Realisasi Masih Mengendap. Jalan Kaliabang Jadi “Leher Botol”, Warga: Reses Jangan Cuma Jadi Ajang Mikrofon Keliling

BEKASI UTARA | Agenda reses anggota DPRD Kota Bekasi, Muhammad Kamil Syaikhu, di RW 11 Perwira, Bekasi Utara, Selasa (17/2/2026), kembali menjadi forum tahunan yang sarat aspirasi.

Namun bagi sebagian warga konstituen, kegiatan tersebut terasa seperti “dejavu pembangunan”: usulan sama, keluhan sama, jawaban pun masih bernada serupa—akan didorong, dikaji, dan disinkronkan.

Mayoritas aspirasi yang mencuat masih berkutat pada persoalan klasik wilayah Bekasi Utara: perbaikan jalan lingkungan, normalisasi saluran air, hingga penanganan genangan yang kerap membuat Jalan Raya Kaliabang berubah fungsi dari jalur mobilitas menjadi kolam refleksi massal saat hujan turun.

Warga menyebut ruas tersebut sebagai bottle-neck aktivitas harian. Bukan hanya menyulitkan lalu lintas, tapi juga berdampak pada ekonomi lingkungan, distribusi logistik, hingga keselamatan pengguna jalan.

Kalau hujan deras, macetnya bukan lagi menit, tapi bisa hitungan jam. Jalan rusak, air ngendon, kita juga yang tekor,” celetuk salah satu warga, setengah serius setengah pasrah.

Aspirasi Lama, Forum Baru
Menanggapi keluhan itu, Kamil mengakui bahwa usulan warga RW 11 tidak jauh berbeda dengan wilayah lain di dapil Bekasi Utara.


Seperti di kebanyakan wilayah Bekasi Utara, di sini mengajukan normalisasi saluran air dan perbaikan jalan lingkungan yang rusak akibat genangan,” ujarnya.

Ia juga menyebut sebagian usulan sebenarnya telah masuk dalam skema Musrenbang dan akan terus didorong agar terealisasi.

Pernyataan itu justru memantik sentilan halus warga. Mereka mempertanyakan posisi reses: apakah benar menjadi jalur percepatan, atau sekadar “ruang echo” dari usulan yang sebelumnya sudah diajukan lewat Musrenbang.

Kalau sudah di Musrenbang, terus direseskan lagi, nanti realisasinya lewat jalur mana? Jangan-jangan jalurnya muter dulu baru hilang,” ujar warga lainnya nyaris tak terdengar, tapi pasti disambut tawa jika terdengar keras dan berisik.

Reses: Serap Aspirasi atau Serap Anggaran?
Di luar substansi usulan, warga juga mulai menyoroti efektivitas anggaran reses itu sendiri.

Berdasarkan dokumen penganggaran DPRD Kota Bekasi, kegiatan reses setiap tahun memang dialokasikan dana yang tidak kecil

Anggaran tersebut mencakup kebutuhan sewa tenda, panggung, sound system, konsumsi warga, dokumentasi, hingga belanja publikasi media.

Namun di lapangan, warga menilai porsi belanja lebih terasa pada seremoni ketimbang output kebijakan atau aspirasi yang berujung rencana pokir (pokok pikiran) anggota dewan yang aspiratif dari warga konstituennya, dengan dalih "tenang saja" sudah ada dibahas di musrenbang.

Tenda megah, panggung tinggi, konsumsi sembako ada. Tapi jalan tetap bolong. Berarti yang kenyang acara, bukan pembangunan,” sindir seorang tokoh pemuda yang sayangnya tak mau disebut namanya.

Bahkan awak media lokal yang meliput kegiatan tersebut ikut berseloroh pahit. Honor peliputan yang disebut hanya sekitar Rp50.000 atau lebih saja per kegiatan dinilai jauh dari layak.

"Ini malah gak dapat sama sekali Bang," ujar seorang wartawan yang juga tak mau disebut namanya.

Kadang bukan soal besar kecilnya, tapi soal penghargaan profesi. Masa peliputan berjam-jam dihargai segitu. Ya kecuali kita dibayar cuma dengan 2M… Mohon Maaf," seloroh seorang wartawan yang tak diberi amplop jale sambil tertawa pahit.

"Maksudnya 2M itu cuma Mohon Maaf dan Makasih. Eh itu sih 3M, ya?” ucapnya disambut gelak tawa sesama wartawan lainnya.

Kans Politik Besar, Ekspektasi Lebih Besar
Sebagai salah satu wakil rakyat dengan basis dukungan signifikan di Bekasi Utara, warga menilai Kamil sejatinya memiliki kans politik dan daya dorong yang lebih besar dibanding rekan se-dapilnya.

Harapannya, posisi strategis itu bisa diterjemahkan menjadi keberanian politik untuk mengawal program hingga level eksekusi Pemkot—bukan berhenti di notulen reses.

Kalau cuma menampung aspirasi, RW juga bisa. Bedanya dewan harus bisa bikin itu jadi kebijakan. Nah ini yang masih ditunggu,” ujar pengurus lingkungan.

Antara Sinkronisasi dan Duplikasi
Kamil sendiri menegaskan bahwa sinkronisasi antara aspirasi reses dan perencanaan pembangunan tetap menjadi perhatian agar tidak terjadi duplikasi.

Ia memastikan setiap usulan akan dikaji untuk memperkuat program yang sudah ada.

Namun bagi warga, kalimat “akan dikaji” dan “akan didorong” sudah terlalu sering terdengar—bahkan lebih rutin terdengar daripada jadwal tambal sulam jalan raya yang harus nunggu macet dulu selama setahun.

"Karena jalanan rusak aja, bisa jadi macet yang kita alami sepanjang tahun. Bayangin macet sejam dua jama aja udah bikin kita sebagai warga sekitar dan pengendara pribadi jadi kesal. Apalagi macet setahun." ungkap satu warga bercanda perih, yang juga tak mau diungkap namanya.

Penutup: Mikrofon Sudah Panas, Aspal Kapan?
Reses kembali membuktikan satu hal: aspirasi warga Bekasi Utara tidak pernah kering. Yang masih dicari adalah muara realisasinya.

Sebab bagi warga, ukuran keberhasilan reses bukan pada ramainya kursi undangan, tebalnya proposal, atau megahnya panggung—melainkan pada hal sederhana:
Jalan mulus, air mengalir lancar, dan janji yang tidak lagi berstatus “akan”
.

Atau seperti celetukan warga di akhir forum: “Reses mah tiap tahun ada, yang kita tunggu itu realisasinya… jangan sampai yang rutin cuma foto dan berita online-nya doang.” [■]

Reporter: Hery - Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama