Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

JPO Stasiun Bekasi Dikebut: Warga Diharap Menyeberang Lebih Aman

iklan banner AlQuran 30 Juz

JPO Dikebut, Warga Kota Bekasi: Antara Harapan Selamat Sampai Rumah & Mimpi Tak Lagi Jadi “Frogger” di Jalanan Stasiun

jabar-online.com | Rabu, 4 Feb 2026, 10:35 WIB | Hery / DR

Proyek JPO dan gedung parkir Stasiun Bekasi dipercepat. Di tengah padatnya arus komuter, fasilitas ini diharapkan mengakhiri tradisi menyeberang nekat yang selama ini lebih mengandalkan insting daripada keselamatan.

KOTA BEKASI | Kalau selama ini warga Bekasi yang turun di Stasiun Bekasi merasa tiap menyeberang jalan seperti ikut audisi Squid Game versi Jabodetabek, kabar pembangunan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) ini jelas terdengar seperti angin segar—meski sementara masih angin proyek yang berdebu.


Rabu (4/2), Walikota Bekasi Tri Adhianto turun langsung meninjau progres pembangunan JPO dan gedung parkir di kawasan Stasiun Bekasi.

Bukan sekadar inspeksi formalitas foto pegang helm proyek, tapi—kata beliau—untuk memastikan keselamatan warga yang selama ini berjibaku dengan arus kendaraan dan gelombang manusia setiap kereta berhenti.

Dalam rombongan peninjauan itu ikut serta Kepala Dishub (Dinas Perhubungan) Kota Bekasi Zeno Bachtiar dan jajaran, mulai dari Kabid Dalops, sampai perangkat teknis, Kepala Satpol PP Nesan Sudjana serta Kepala DBMSDA (Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air) Idi Sutanto.

Lengkap. Ibarat meninjau jembatan kecil, tapi personelnya serasa meninjau Tol Trans Jawa—menandakan proyek ini memang dianggap urgen, atau minimal sudah cukup lama dikeluhkan.

Hari ini memastikan bahwa banyaknya keluhan terkait Stasiun Bekasi yang menjadi stasiun sentral Commuter Line Jabodetabek ataupun kereta luar kota,” ujar Tri.

Kalimat itu, kalau diterjemahkan ke bahasa warga, kurang lebih berarti: “Iya, kami dengar kok keluhannya. Yang tiap pagi nyebrang sambil lari zig-zag itu.



Maklum, setiap kereta datang, penumpang turunnya bareng-bareng. Pemandangan yang selama ini lebih mirip flash mob tanpa koreografi—bedanya ini di tengah lalu lintas aktif.

Karena kereta api ini turunnya bareng-bareng jadi harus diantisipasi kepadatannya dengan baik,” tambahnya.

Bagi warga, antisipasi ini bukan sekadar soal kepadatan, tapi juga soal keselamatan dan kewarasan. Selama ini, menyeberang di area stasiun bukan cuma uji nyali, tapi juga uji takdir. Lampu merah kadang kalah cepat dengan langkah kaki yang dikejar waktu absen kantor.

Peninjauan juga menyasar pembangunan gedung parkir di sebelah stasiun.


Harapannya, parkir liar yang selama ini tumbuh subur seperti jamur di musim hujan bisa mulai ditertibkan. Minimal, pengguna KRL tak perlu lagi parkir dengan sistem “titip doa” agar motornya masih ada saat pulang.

Dari sudut pandang kepentingan publik, proyek JPO dan gedung parkir ini jelas bukan sekadar infrastruktur, tapi soal kualitas hidup komuter Bekasi:
  • Lebih aman menyeberang, tanpa harus adu cepat dengan bus dan angkot.
  • Arus kendaraan lebih tertib, tak lagi tersendat penyeberang dadakan.
  • Integrasi transportasi lebih rapi, meski semoga tidak cuma rapi di grand opening.

Walikota berharap fasilitas ini segera rampung agar bisa dimanfaatkan optimal oleh masyarakat pengguna angkutan umum.


Sementara warga berharap sedikit lebih sederhana:
  • Yang penting cepat jadi.
  • Kokoh.
  • Nggak bocor.

Dan—kalau boleh nambah—jangan sampai baru setahun sudah jadi proyek perbaikan lagi.

Sebab bagi komuter Bekasi, JPO itu bukan cuma jembatan penyeberangan. Tapi jembatan antara berangkat kerja dengan selamat… dan pulang masih lengkap tanpa kurang satu pun. [■]

Reporter: Hery / NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama