iklan banner gratis
iklan header
iklan header banner
Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

HPN 2026: Saat Wartawan, AI & Hoaks Duduk Semeja—Siapa Paling Waras?

iklan banner AlQuran 30 Juz

HPN 2026 di Banten: Saat Pers, AI, dan “Banjir Informasi” Duduk Bareng — Ada yang Nyaring, Ada yang Bening

jabar-online.com | Ahad, 8 Februari 2026, 17:21 WIB | NMR / DR

HPN 2026 di Banten tak cuma jadi ajang kumpul insan media, tapi juga “rapat darurat” menghadapi serbuan AI dan hoaks yang makin tak kenal jam kerja. Di tengah banjir informasi, pers diingatkan kembali: tugasnya bukan ikut hanyut, tapi jadi perahu penyelamat logika publik.

BANTEN | Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Provinsi Banten tak sekadar seremoni potong tumpeng dan foto bareng berlatar baliho raksasa.

Lebih dari itu, momentum ini menjelma seperti reuni besar ekosistem informasi: pers, pemerintah, akademisi, sampai teknologi AI (Artificial Intelligence red.: dibaca Akal Imitasi) — semuanya hadir, seolah lagi rapat keluarga membahas masa depan “anak bernama Publik”.

Di tengah dunia yang makin riuh oleh notifikasi, algoritma, dan grup WhatsApp yang kadang lebih cepat dari kantor berita, pers kembali diingatkan: tugasnya bukan cuma menyampaikan kabar, tapi menjaga warasnya nalar masyarakat.

Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Banten, Deden Apriandhi, dalam Konvensi Nasional Media Massa bertema Pers, AI dan Transformasi Digital: Membangun Ekosistem Informasi untuk Kepentingan Publik.

Menurutnya, AI kini sudah mengubah segalanya — dari cara berita diproduksi, disebarkan, sampai dikonsumsi.



Kalau dulu wartawan cukup bawa buku catatan dan pulpen, sekarang harus siap juga bersaing dengan robot yang bisa nulis dalam hitungan detik (walau belum tentu paham rasa sambal di lapangan).

Namun di situlah peran pers jadi makin sakral.

Pers bukan lagi sekadar saluran informasi, tapi simpul strategis ekosistem digital — penjaga kebenaran, pengurai kompleksitas, dan penentu makna.


Bahasa kerennya begitu. Bahasa warung kopinya: pers itu penyaringmana fakta, mana gorengan.

Disiplin verifikasi yang jadi “ilmu wajib” jurnalis disebut sebagai benteng utama menghadapi potensi disinformasi dan manipulasi fakta, apalagi di era AI yang bisa bikin teks, gambar, bahkan video yang tampak meyakinkan… tapi belum tentu kenyataan.

Karena itu, konvensi HPN 2026 disebut sebagai ruang strategis untuk merumuskan ulang peran pers di era digital.

Bukan cuma bertahan, tapi beradaptasi — tanpa kehilangan kompas kepentingan publik.

Kolaborasi pun digaungkan: pers, pemerintah, akademisi, dan industri teknologi diminta duduk bareng. Ibarat orkestra, semua harus main nada yang sama agar literasi media masyarakat tak fals.

Ketika Disrupsi Diibaratkan Banjir

Ketua Dewan Pers, Komarudin Hidayat, punya analogi yang lebih “membumi”.
Ia menyebut disrupsi informasi seperti banjir.

Kalau banjir datang, sawah rusak, rumah berlumpur, warga panik — itu pasti. Tapi bagi yang kreatif, banjir justru melahirkan solusi: kanal, irigasi, mitigasi.

Begitu juga dunia pers.

Di tengah hoaks yang jungkir balik, timeline yang kadang lebih panas dari cuaca, dan masyarakat yang sebagian sudah “addicted” pada informasi toksik — pers dituntut jadi penjernih.

Orang pada akhirnya akan mencari air bersih. Mencari sumber berita terpercaya.
Pers, kata Komarudin, ibarat lembaga penyulingan informasi — menyaring keruhnya data, mengemas ulang, lalu menyajikan air jernih ke publik.

Dan seperti orang yang lama minum air keruh, masyarakat pun diyakini akan sampai pada titik jenuh — lalu kembali mencari yang sehat.


Momentum Konsolidasi, Bukan Sekadar Seremoni

Di ujung forum, harapan pun dirajut.
HPN 2026 di Banten diharapkan melahirkan gagasan strategis, rekomendasi kebijakan, hingga praktik baik pemanfaatan AI di dunia pers.

Lebih besar lagi: meneguhkan pers Indonesia sebagai pilar demokrasi dan kekuatan moral di era digital.

Komarudin mengaku optimistis — bahkan terkesan dengan perhatian pemerintah terhadap masa depan media massa.

Nada optimisme itu terasa seperti penutup acara infotainment: hangat, positif, tapi tetap menyisakan PR panjang.

Karena di era serba digital gadget ketika semua orang bisa jadi “penyiar”, pers profesional tetap dibutuhkan sebagai penjernih siaran.

Dan di tengah banjir informasi, publik tak butuh yang paling cepat — tapi yang paling bisa dipercaya. [■]

Reporter: NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

Chief Editor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama