iklan banner gratis
iklan header
iklan header banner
Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

GMBI Pasang Badan Buat Tirta Patriot: Disorot Boleh, Jangan Asal Nyemprot!

iklan banner AlQuran 30 Juz

Akuisisi Melejit 150 Persen, Pipa Tua Ikut Kerja Lembur — Kritik Diminta Pakai Data, Bukan Emosi Tangki

jabar-online.com | Senin, 9 Februari 2026, 07:24 WIBNMR / DR

Ramainya sorotan ke Perumda Tirta Patriot Kota Bekasi dinilai bukan skandal, tapi efek “naik kelas.” Pengurus GMBI Distrik Kota Bekasi menyebut perhatian publik justru wajar, mengingat lonjakan pelanggan pasca akuisisi PDAM Bhagasasi bikin beban layanan ikut membengkak, sementara infrastruktur lama belum sempat ikut glow up.

KOTA BEKASI | Sorotan publik terhadap kinerja Perumda Tirta Patriot belakangan ini memang tak bisa dihindari. Apalagi setelah perusahaan daerah itu melakukan akuisisi PDAM Bhagasasi pada 2023, skala operasionalnya langsung melonjak drastis.

Ketua LSM GMBI Distrik Kota Bekasi, Abah Zakaria, menilai kondisi ini wajar. Sorotan publik, kata dia, ibarat konsekuensi logis ketika “rumah kontrakan tiba-tiba berubah jadi apartemen.”

Sebelum akuisisi, Perumda Tirta Patriot yang berdiri sejak 2006 hanya melayani sekitar 45 ribu pelanggan, dengan total penyertaan modal selama 17 tahun mencapai Rp250 miliar.

Setelah akuisisi, jumlah pelanggan melonjak menjadi sekitar 110 ribu (belum termasuk cabang Poncol dan Pondok Ungu), atau meningkat sekitar 150 persen.

Lonjakan ini tentu bukan cuma soal angka pelanggan, tapi juga soal beban layanan. Ibarat warung nasi uduk yang mendadak harus melayani katering hajatan sekecamatan — dapur harus lebih siap, kompor harus nambah, dan gas jangan sampai habis di tengah jalan.

Abah Zakaria juga menyoroti faktor infrastruktur lama yang jadi tantangan serius.

Ia menjelaskan bahwa jaringan air di beberapa wilayah Kota Bekasi sudah beroperasi sejak awal 1980-an, khususnya di Cabang Rawa Tembaga.

Artinya, pipa dan sarana pendukungnya sudah masuk kategori uzur — kalau manusia mungkin sudah dapat kursi prioritas di KRL.
Kondisi ini, menurutnya, membutuhkan perhatian dan investasi besar yang juga didukung Pemerintah Kota Bekasi.


Soal polemik Cabang Poncol yang bangunannya disebut lenyap, Abah menegaskan bahwa Perumda Tirta Patriot belum mengetahui detailnya karena unit tersebut memang belum diserahterimakan oleh pihak Bhagasasi hingga saat ini.

Dalam aspek tata kelola, ia memastikan sistem pengawasan tetap berjalan.

Kami mengajak seluruh masyarakat Kota Bekasi khususnya pelanggan Perumda Tirta Patriot untuk bijak menyikapi setiap informasi yang beredar, dan selalu mengacu pada data serta mekanisme yang sudah ada,” pungkasnya.

SidikWarkop Ikut Nimbrung: Kritik Boleh, Tapi Jangan Asal Nyemplung

Menanggapi riuhnya kritik publik, pengamat warga + komika tongkrongan, SidikWarkop, ikut angkat suara. Menurutnya, perhatian ke Tirta Patriot itu tanda sayang, bukan semata serangan.

Di Bekasi tuh unik. Air kadang mampet, tapi komentar warganya ngalir terus 24 jam. Bahkan sebelum keran dibuka, status Facebook sudah netes duluan,” celetuknya.

Namun ia juga memberi dukungan moral ke jajaran direksi, khususnya Dirut, agar tetap tahan banting menghadapi kritik.

Jadi Dirut BUMD air itu berat. Salah dikit disemprot, bener dikit dibilang pencitraan. Makanya saya dukung penuh, sepanjang Dirutnya mau terbuka, nggak antikritik, dan tetap kerja tanpa peduli hujatan. Yang penting fokus benahi layanan.

Menurut Sidik, kritik publik seharusnya dijadikan “vitamin,” bukan “racun.”

Kalau dikritik terus malah baper, ya repot. Air butuh tekanan supaya ngalir, direksi juga butuh tekanan supaya kinerjanya ngacir. Tapi tekanannya jangan bikin pipa pecah juga,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan warga agar adil melihat persoalan.

“Pelanggan nambah 150 persen, jaringan tua, investasi gede — itu bukan kerjaan sulap. Ini maraton, bukan sprint. Jadi sambil nunggu beres, ya kita boleh ngoceh… tapi sambil ngopi, jangan sambil nyinyir doang.”

Antara Harapan dan PR Rumah Besar

Dengan ekspansi pelanggan besar dan tantangan infrastruktur lama, PR Tirta Patriot memang tidak ringan. Investasi jaringan, peremajaan pipa, peningkatan kapasitas produksi, hingga transparansi layanan jadi pekerjaan rumah yang harus dikebut.

Namun di tengah kritik, dukungan publik juga tetap ada — asalkan dibarengi keterbukaan informasi dan perbaikan nyata di lapangan.

Karena bagi warga Bekasi, air bukan sekadar kebutuhan, tapi juga bahan obrolan, bahan status, bahkan kadang bahan stand-up comedy.

Dan seperti kata SidikWarkop:
Selama Tirta Patriot terus mau dengerin warga, terus benahin diri, dan nggak alergi kritik — kita juga siap kok dukung. Soalnya kita semua pengen satu: keran dibuka, yang ngalir air… bukan emosi.” [■]

Reporter: NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

Chief Editor

Jurnalis yang suka standup comedy

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama