Formasi Baru Diisi Kombinasi DPR RI, Kepala Daerah, Gen Z sampai Kiai — Dari Senayan Nyambung ke Pesantren
jabar-online.com | Selasa, 10 Feb 2026, 12:19 WIB | DikRizalPengukuhan DPW PKB Jawa Barat 2026–2031 bukan sekadar ganti pengurus, tapi lebih mirip start awal balapan politik menuju 2029. Dari parlemen pusat, eksekutif daerah, kader dapil, hingga energi Gen Z, semua dikonsolidasikan. Lengkap sudah: yang senior bawa pengalaman, yang muda bawa kecepatan.
— KOTA BANDUNG | Kepengurusan baru DPW PKB Jawa Barat periode 2026–2031 resmi dikukuhkan. Tapi kalau ada yang mengira ini sekadar seremoni ganti papan nama pengurus, tampaknya perlu update kacamata politik.Formasi terbaru PKB Jabar justru dibaca banyak kalangan sebagai sinyal keras: mesin partai mulai dipanaskan dari sekarang buat balapan panjang menuju Pemilu 2029.
Di bawah komando Syaiful Huda — Wakil Ketua Komisi V DPR RI yang sudah kenyang asam-garam politik nasional — arah gerak partai tampak disetir figur yang bukan cuma paham peta, tapi juga hafal jalan tikusnya.
Rekam jejak legislasi, jejaring kebijakan, sampai jam terbang nasional jadi modal penting buat meng-orkestrasi kekuatan PKB di Jawa Barat.
Bukan cuma Huda. Di “ruang mesin” parlemen pusat, ada juga nama Oleh Soleh, H. Sudjatmiko, dan Rina Sa'adah — sama-sama anggota DPR RI aktif.
Komposisi ini bikin PKB Jabar ibarat punya banyak “remote control” ke pusat kekuasaan. Jadi kalau ada urusan daerah yang butuh tombol cepat, setidaknya baterainya sudah siap.
Turun ke level eksekutif, PKB Jabar juga tidak kekurangan amunisi. Tercatat dari dua puluh sembilan pasangan kepala daerah ada tujuh kepala daerah dan wakil kepala daerah aktif kader PKB.
Pengalaman ngurus APBD, menghadapi warga demo, sampai mengurai benang kusut birokrasi jadi bekal lapangan yang tidak bisa dipelajari dari buku teori politik semata.
Belum lagi kekuatan di DPRD Provinsi Jawa Barat yang ikut masuk dalam struktur.
Jalur koordinasi dari pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota dibuat nyaris tanpa sekat. Bahasa sederhananya: kalau ada instruksi politik, tidak perlu pakai “toa rusak” — suaranya bisa langsung nyampe.
Di level bawah, PKB Jabar tetap mengandalkan kader dapil yang sudah akrab dengan denyut konstituen. Mereka bukan tipe yang cuma muncul saat musim baliho.
Banyak yang justru lebih hafal gang sempit, jadwal pengajian, sampai nama ketua RT dibanding peta Google Maps. Militansi akar rumput inilah yang bikin partai tetap hidup, bukan sekadar eksis di spanduk.
Menariknya, kepengurusan kali ini juga serius mengakomodasi Gen Z. Anak-anak muda tidak cuma dijadikan “pemanis feed Instagram partai”, tapi benar-benar dilibatkan dalam pengelolaan isu digital, strategi komunikasi baru, hingga produksi gagasan.
PKB tampaknya sadar, pemilih masa depan bukan cuma butuh janji, tapi juga konten yang relate dan tidak bikin scroll lewat.
Meski begitu, akar tradisional tetap dijaga. Dalam momen pengukuhan, hampir seluruh Ketua PCNU se-Jawa Barat hadir.
Ini jadi penegasan bahwa hubungan PKB dengan kiai dan pesantren bukan sekadar romantisme historis, tapi masih jadi fondasi moral dan ideologis. Modern iya, tapi tidak tercerabut dari sarung dan kitab kuning.
Perpaduan inilah yang bikin komposisi PKB Jabar terasa komplet: struktur modern kuat, basis dapil solid, energi muda hidup, dan legitimasi kultural tetap terjaga.
Ibarat tim bola, lini depan cepat, lini tengah kreatif, lini belakang berpengalaman — plus suporternya militan.
Secara komposisi profesi juga berwarna. Ada politisi senior, aktivis pergerakan, teknokrat berbasis data, profesional lintas bidang — dari dokter, praktisi hukum, budayawan, sampai tokoh masyarakat.
Rumah besar yang mencoba menampung banyak aspirasi, bukan satu warna saja.
Dengan formasi seperti ini, jargon “On The Way 2029” bukan sekadar slogan tempel baliho.
Lebih mirip roadmap kerja politik yang mulai dijalankan dari sekarang:
- konsolidasi struktur,
- penguatan basis,
- regenerasi kader, sampai
- pengamanan jalur kultural.

