Aspirasi Sudah Lama Masuk, Warga Sindir Respons Pemkot Bekasi yang Dinilai Masih Pakai Mode Hemat Gerak
Reses di RW 02 Bekasi Mede berubah jadi forum curhat kolektif. Dari jalan rusak sampai drainase mampet dibedah habis, sementara warga berharap usulan mereka tak lagi berhenti di proposal—melainkan benar-benar mendarat di lapangan.
— KOTA BEKASI | Sabtu petang di RW 02 Bekasi Mede, Kecamatan Bekasi Timur, suasana reses Anggota DPRD Kota Bekasi, Dariyanto, SKom., MPd. terasa sedikit berbeda dari agenda serupa pada umumnya.Forum yang lazimnya formal—duduk rapi, dengar aspirasi, lalu ditutup foto bersama—kali ini berubah menjadi ruang curhat kolektif warga.
Mulai dari jalan rusak, saluran air, hingga “kekecewaan lama” yang menurut warga masih tersimpan rapi di laci perencanaan pembangunan.
Jalan Lingkungan: Tambal Sulam Tak Lagi Cukup
Jalan Lingkungan: Tambal Sulam Tak Lagi Cukup
Sorotan utama warga tertuju pada kondisi pengaspalan jalan lingkungan yang dinilai sudah waktunya naik kelas.
Lubang jalan dan aspal tambal-sulam disebut tak lagi memadai, terlebih mobilitas warga kian padat. Beberapa ruas bahkan diibaratkan warga seperti “peta topografi mini”—naik turun, lengkap dengan cekungan air saat hujan.
Menanggapi hal itu, Dariyanto politisi Golkar ini langsung mencatat usulan pengaspalan sebagai prioritas infrastruktur lingkungan di wilayah tersebut.
Bagi warga, peningkatan kualitas jalan bukan sekadar estetika, tapi menyangkut keselamatan, kenyamanan, dan kelancaran aktivitas harian.
Drainase: Kecil Dimensi, Besar Dampaknya
Tak kalah ramai, persoalan saluran air ikut mengemuka.
Warga meminta normalisasi drainase agar aliran air lebih lancar dan tak lagi memicu genangan rutin saat musim hujan.
Lubang jalan dan aspal tambal-sulam disebut tak lagi memadai, terlebih mobilitas warga kian padat. Beberapa ruas bahkan diibaratkan warga seperti “peta topografi mini”—naik turun, lengkap dengan cekungan air saat hujan.
Menanggapi hal itu, Dariyanto politisi Golkar ini langsung mencatat usulan pengaspalan sebagai prioritas infrastruktur lingkungan di wilayah tersebut.
Bagi warga, peningkatan kualitas jalan bukan sekadar estetika, tapi menyangkut keselamatan, kenyamanan, dan kelancaran aktivitas harian.
Drainase: Kecil Dimensi, Besar Dampaknya
Tak kalah ramai, persoalan saluran air ikut mengemuka.
Warga meminta normalisasi drainase agar aliran air lebih lancar dan tak lagi memicu genangan rutin saat musim hujan.
Penyempitan saluran dan sedimentasi disebut sebagai biang keladi banjir skala lingkungan yang datangnya memang tidak besar—tapi cukup untuk bikin aktivitas warga berhenti.
Dengan kata lain, banjirnya mungkin “kelas ringan”, tapi dampaknya tetap “kelas berat”.
Dengan kata lain, banjirnya mungkin “kelas ringan”, tapi dampaknya tetap “kelas berat”.
Musrenbang: Usulan Sudah, Realisasi Menyusul… Entah Kapan.
Aspirasi disebut sudah disampaikan lengkap—bahkan sejak tahap perencanaan. Namun realisasi pembangunan belum terlihat signifikan.
Kondisi ini memunculkan harapan agar reses kali ini benar-benar menjadi jembatan nyata, bukan sekadar agenda rutin tahunan yang berhenti di notulensi.
Sindiran halus pun mengemuka: usulan warga kadang bergerak cepat di atas kertas, tapi melambat saat masuk jalur eksekusi—seperti proyek yang masih menunggu lampu hijau panjang dari birokrasi Pemerintah Kota Bekasi.
Legislator Mengawal, Warga Menunggu Realisasi
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Dariyanto menegaskan komitmennya untuk mengawal usulan warga agar masuk skala prioritas pembangunan.
Ia menilai reses bukan hanya ruang serap aspirasi, tetapi juga forum evaluasi sekaligus percepatan—agar suara warga tidak berhenti sebagai catatan administratif, melainkan berlanjut menjadi program konkret.
Dalam konteks ini, peran legislatif disebut sebagai penghubung sekaligus “pengingat berkala” bagi eksekutif, agar kebutuhan lingkungan tak tertinggal oleh proyek-proyek berskala besar.
Harapan Sederhana dari Gang Kecil
Reses yang berlangsung hangat tersebut ditutup dengan harapan yang sebenarnya sederhana: jalan mulus, drainase berfungsi, dan pembangunan yang benar-benar terasa hingga level lingkungan.
Bagi warga RW 02, momentum reses ini diharapkan menjadi titik dorong agar gang kecil tak lagi luput dari perhatian besar—dan agar aspirasi yang sudah lama beredar tidak lagi terjebak di putaran administrasi yang jalannya kadang lebih berliku dari jalan yang mereka usulkan untuk diperbaiki. [■]
Reporter: Hery - Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
Yang menarik, warga juga menyinggung hasil Musrenbang tahun sebelumnya yang dinilai belum menyentuh RW 02.
Aspirasi disebut sudah disampaikan lengkap—bahkan sejak tahap perencanaan. Namun realisasi pembangunan belum terlihat signifikan.
Kondisi ini memunculkan harapan agar reses kali ini benar-benar menjadi jembatan nyata, bukan sekadar agenda rutin tahunan yang berhenti di notulensi.
Sindiran halus pun mengemuka: usulan warga kadang bergerak cepat di atas kertas, tapi melambat saat masuk jalur eksekusi—seperti proyek yang masih menunggu lampu hijau panjang dari birokrasi Pemerintah Kota Bekasi.
Legislator Mengawal, Warga Menunggu Realisasi
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Dariyanto menegaskan komitmennya untuk mengawal usulan warga agar masuk skala prioritas pembangunan.
Ia menilai reses bukan hanya ruang serap aspirasi, tetapi juga forum evaluasi sekaligus percepatan—agar suara warga tidak berhenti sebagai catatan administratif, melainkan berlanjut menjadi program konkret.
Dalam konteks ini, peran legislatif disebut sebagai penghubung sekaligus “pengingat berkala” bagi eksekutif, agar kebutuhan lingkungan tak tertinggal oleh proyek-proyek berskala besar.
Harapan Sederhana dari Gang Kecil
Reses yang berlangsung hangat tersebut ditutup dengan harapan yang sebenarnya sederhana: jalan mulus, drainase berfungsi, dan pembangunan yang benar-benar terasa hingga level lingkungan.
Bagi warga RW 02, momentum reses ini diharapkan menjadi titik dorong agar gang kecil tak lagi luput dari perhatian besar—dan agar aspirasi yang sudah lama beredar tidak lagi terjebak di putaran administrasi yang jalannya kadang lebih berliku dari jalan yang mereka usulkan untuk diperbaiki. [■]
Reporter: Hery - Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
