Warga Bekasi Timur Curhat Lingkungan, Legislator Kawal Aspirasi — Eksekusi Pemkot Diharap Tak Ikut Tersendat
Forum reses di Bekasi Jaya Indah mendadak berubah jadi ruang curhat terbuka. Dari gerobak sampah sampai aliran air kiriman, semua dibahas tuntas—menyiratkan satu harapan klasik warga: usulan jangan cuma lancar di forum, tapi juga di lapangan.
— BEKASI TIMUR | Warga Kecamatan Bekasi Timur tampaknya tidak menyia-nyiakan momentum reses Anggota DPRD Kota Bekasi dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Hj. Evy Mafriningsianti, SE., MM. yang digelar di RW 10 Bekasi Jaya Indah, Sabtu (14/2).
Bagi warga, reses bukan sekadar agenda seremonial lima tahunan rasa tahunan, melainkan momen langka ketika keluhan lingkungan bisa disampaikan langsung—tanpa harus antre di grup WhatsApp RW yang kadang lebih ramai debat daripada solusi.
Dari Gerobak Sampah sampai Fasilitas RWDalam forum dialog terbuka itu, warga menyampaikan beragam kebutuhan lingkungan yang sifatnya sangat “membumi”—alias benar-benar dipakai tiap hari.
Aspirasi yang mencuat di antaranya:- Perbaikan infrastruktur lingkungan,
- Penguatan sarana kebersihan,
- Pengadaan gerobak sampah + fasilitas TPS.
- Perlengkapan keamanan lingkungan.
- Dukungan fasilitas kegiatan kemasyarakatan.
- Sarana operasional pengurus RT/RW.
Bagi warga, perangkat wilayah adalah garda terdepan pelayanan lingkungan. Namun sering kali, tanggung jawabnya besar—fasilitasnya minimalis.
Istilahnya, kerja bakti jalan terus, tapi peralatannya kadang masih “versi swadaya”.
Banjir: Masalah Lama, Pembahasannya Selalu BaruTak lengkap rasanya bicara lingkungan di Bekasi Timur tanpa menyebut banjir—topik yang selalu relevan, bahkan tanpa perlu undangan resmi.
Menanggapi hal itu, Evy menegaskan bahwa penanganan banjir tidak bisa dilihat dari satu titik semata.
Menurutnya, persoalan air merupakan sistem lintas wilayah. Infrastruktur seperti Polder Aren Jaya memang tetap beroperasi, namun kapasitasnya bisa terdampak bila kiriman debit dari wilayah lain melampaui batas.
“Wilayah rawan banjir akan dievaluasi menyeluruh. Bicara banjir bukan hanya soal Kali Bekasi saja. Kalau kapasitas di tempat lain meluber, aliran air pasti memenuhi wilayah. Karena itu perlu sinergitas dan pembangunan antarwilayah,” jelasnya.
Bahasa warga sederhananya: kalau hulunya kirim banyak, hilirnya pasti kebagian—meski tidak minta.
Aspirasi Masuk Catatan, Warga Berharap Masuk RealisasiEvy memastikan seluruh aspirasi warga akan dihimpun dan diperjuangkan melalui mekanisme pembahasan di DPRD, serta dikoordinasikan dengan dinas teknis di Kota Bekasi.
Ia juga menekankan bahwa usulan prioritas akan didorong masuk skala pembangunan, baik melalui anggaran berjalan maupun rencana berikutnya.
“Pengajuan prioritas akan kami bantu dorong. Tapi peran masyarakat juga penting dalam prosesnya, sampai keberlanjutan program 2027,” ujarnya.
Pernyataan yang disambut anggukan warga—dengan harapan prosesnya tidak hanya cepat di forum, tapi juga gesit di lapangan.
Reses: Ruang Dialog, Bukan Sekadar FormalitasMelalui kegiatan reses ini, diharapkan terbangun komunikasi dua arah yang lebih kuat antara wakil rakyat dan masyarakat.
Bagi warga Bekasi Timur, forum seperti ini bukan hanya soal menyampaikan keluhan, tetapi memastikan kebutuhan lingkungan tidak kalah prioritas dibanding proyek besar kota.
Sebab bagi mereka, pembangunan ideal itu sederhana: banjir berkurang, lingkungan tertata, dan fasilitas wilayah memadai—sehingga peningkatan kualitas hidup tidak hanya terasa di jalan protokol, tapi juga sampai ke gang permukiman yang selama ini setia menunggu giliran. [■]
Forum reses di Bekasi Jaya Indah mendadak berubah jadi ruang curhat terbuka. Dari gerobak sampah sampai aliran air kiriman, semua dibahas tuntas—menyiratkan satu harapan klasik warga: usulan jangan cuma lancar di forum, tapi juga di lapangan.
Bagi warga, reses bukan sekadar agenda seremonial lima tahunan rasa tahunan, melainkan momen langka ketika keluhan lingkungan bisa disampaikan langsung—tanpa harus antre di grup WhatsApp RW yang kadang lebih ramai debat daripada solusi.
Dari Gerobak Sampah sampai Fasilitas RW
Dalam forum dialog terbuka itu, warga menyampaikan beragam kebutuhan lingkungan yang sifatnya sangat “membumi”—alias benar-benar dipakai tiap hari.
Aspirasi yang mencuat di antaranya:
- Perbaikan infrastruktur lingkungan,
- Penguatan sarana kebersihan,
- Pengadaan gerobak sampah + fasilitas TPS.
- Perlengkapan keamanan lingkungan.
- Dukungan fasilitas kegiatan kemasyarakatan.
- Sarana operasional pengurus RT/RW.
Bagi warga, perangkat wilayah adalah garda terdepan pelayanan lingkungan. Namun sering kali, tanggung jawabnya besar—fasilitasnya minimalis.
Istilahnya, kerja bakti jalan terus, tapi peralatannya kadang masih “versi swadaya”.
Banjir: Masalah Lama, Pembahasannya Selalu Baru
Tak lengkap rasanya bicara lingkungan di Bekasi Timur tanpa menyebut banjir—topik yang selalu relevan, bahkan tanpa perlu undangan resmi.
Menurutnya, persoalan air merupakan sistem lintas wilayah. Infrastruktur seperti Polder Aren Jaya memang tetap beroperasi, namun kapasitasnya bisa terdampak bila kiriman debit dari wilayah lain melampaui batas.
“Wilayah rawan banjir akan dievaluasi menyeluruh. Bicara banjir bukan hanya soal Kali Bekasi saja. Kalau kapasitas di tempat lain meluber, aliran air pasti memenuhi wilayah. Karena itu perlu sinergitas dan pembangunan antarwilayah,” jelasnya.
Bahasa warga sederhananya: kalau hulunya kirim banyak, hilirnya pasti kebagian—meski tidak minta.
Aspirasi Masuk Catatan, Warga Berharap Masuk Realisasi
Evy memastikan seluruh aspirasi warga akan dihimpun dan diperjuangkan melalui mekanisme pembahasan di DPRD, serta dikoordinasikan dengan dinas teknis di Kota Bekasi.
Ia juga menekankan bahwa usulan prioritas akan didorong masuk skala pembangunan, baik melalui anggaran berjalan maupun rencana berikutnya.
“Pengajuan prioritas akan kami bantu dorong. Tapi peran masyarakat juga penting dalam prosesnya, sampai keberlanjutan program 2027,” ujarnya.
Pernyataan yang disambut anggukan warga—dengan harapan prosesnya tidak hanya cepat di forum, tapi juga gesit di lapangan.
Reses: Ruang Dialog, Bukan Sekadar Formalitas
Melalui kegiatan reses ini, diharapkan terbangun komunikasi dua arah yang lebih kuat antara wakil rakyat dan masyarakat.
Bagi warga Bekasi Timur, forum seperti ini bukan hanya soal menyampaikan keluhan, tetapi memastikan kebutuhan lingkungan tidak kalah prioritas dibanding proyek besar kota.
Sebab bagi mereka, pembangunan ideal itu sederhana: banjir berkurang, lingkungan tertata, dan fasilitas wilayah memadai—sehingga peningkatan kualitas hidup tidak hanya terasa di jalan protokol, tapi juga sampai ke gang permukiman yang selama ini setia menunggu giliran. [■]



