Lini Masa Sampah Bekasi: Dari Klaim Terkendali hingga Truk Tenggelam dan Terbalik Beruntun Selama Nataru
Nataru Bersih Versi PPID, Bantargebang dan Jalan Ahmad Yani Punya Cerita Lain. Saat Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi mengumumkan keberhasilan mengendalikan sampah Natal dan Tahun Baru, tiga truk justru tenggelam di lautan lindi Bantargebang dan satu lagi terbalik di Jalan Ahmad Yani. Sampah mungkin terkendali di atas kertas, tapi di lapangan justru nyaris mengendalikan manusia.
25 Desember 2025:
Natal Bersih, Laporan Rapi
Perayaan Natal 2025 di Kota Bekasi berjalan relatif tertib. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi melaporkan keberhasilan menangani sekitar 25 ton sampah dari rumah-rumah ibadah gereja yang tersebar di berbagai wilayah.
DLH mengklaim kesiapsiagaan petugas, pengaturan ritase armada, dan koordinasi lintas UPTD berjalan optimal. Di atas kertas, semuanya tampak bersih—bahkan nyaris wangi laporan tahunan.
31 Desember 2025:
Bantargebang Longsor, Truk Tenggelam
Namun, siang hari menjelang tutup tahun, realitas berbeda muncul dari Zona 4 TPST Bantargebang. Tiga unit truk sampah terperosok ke kubangan air lindi sedalam sekitar lima meter akibat longsor sampah, Selasa (31/12/2025) pukul 13.30 WIB.
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bekasi Raya langsung bereaksi keras. Menurut mereka, ini bukan kecelakaan, melainkan kejahatan lingkungan yang dibiarkan berulang.
Ketua PWI Bekasi Raya, Ade Muksin, SH menyebut kondisi TPST Bantargebang sudah lama dipaksa bekerja melebihi batas. Zona mati diaktifkan kembali, overkapasitas dibiarkan, dan risiko keselamatan menjadi taruhan rutin.
“Kalau longsor sudah sering terjadi dan tetap dibiarkan, itu bukan lalai. Itu kesengajaan dengan kesadaran risiko,” tegas Ade.
Ironisnya, hingga peristiwa itu mencuat, pengelola TPST dan UPST Lingkungan Hidup DKI Jakarta memilih diam, seolah berharap truk yang tenggelam bisa bicara sendiri.
1 Januari 2026:
Tahun Baru, Truk Terbalik
Belum kering lumpur lindi Bantargebang, pagi Tahun Baru 2026 justru dibuka dengan kecelakaan truk sampah DLH Kota Bekasi di Jalan Ahmad Yani, Bekasi Timur, sekitar pukul 09.21 WIB.
Sebuah truk pengangkut sampah terbalik, menyebabkan kemacetan panjang, tumpahan sampah, polusi udara, dan sopir mengalami luka serius hingga dilarikan ke IGD rumah sakit.
Insiden ini langsung memicu sorotan tajam LSM. Ketua Umum Forkorindo, Tohom TPS, mempertanyakan kelayakan armada, mengingat anggaran DLH Kota Bekasi tahun 2025 mencapai lebih dari Rp101 miliar untuk 1.142 paket kegiatan.
“Dengan anggaran sebesar itu, seharusnya armada prima. Faktanya, truk terbalik dan tetap dipaksakan beroperasi,” ujarnya.
Beberapa pos anggaran yang disorot antara lain:
- Pemeliharaan dump truck Rp200 juta
- Pemeliharaan light truck Rp200 juta
- Pemeliharaan road sweeper Rp900 juta
- Pengadaan bak kontainer Rp3,18 miliar
LSM KAMPAK-RI Jawa Barat bahkan mendesak audit menyeluruh oleh Inspektorat, BPK, hingga aparat penegak hukum.
2 Januari 2026:
DLH Klaim Nataru Terkendali
Sehari setelah kecelakaan itu, DLH Kota Bekasi merilis pernyataan resmi: pengendalian sampah selama Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 dinilai berhasil dan terkendali.
DLH mencatat:
- Volume sampah ke TPA berkisar 800–1.200 ton per hari
- Sampah Tahun Baru 1 Januari 2026 tercatat 30 ton
- 71 unit armada dikerahkan
- 456 petugas disiagakan 24 jam
Epilog: Sampah Terkendali, Tapi Siapa yang Nyaris Jadi Korban?
Jika dirangkai secara kronologis, publik Bekasi dihadapkan pada dua narasi yang berjalan paralel:
Narasi laporan: terkendali, efektif, tren positif.
Narasi lapangan: longsor, kecelakaan, armada tak layak, risiko nyawa manusia.
Sampah mungkin berhasil diangkut.
Namun pertanyaannya kini bergeser:
apakah sistemnya yang bersih, atau hanya laporannya yang rapi?
Karena ketika truk sudah tenggelam dan terbalik, satire pun terasa pahit:
di Kota Bekasi, sampah bisa diklaim terkendali—asal jangan sopirnya yang ikut jadi statistik berikutnya. [■]






Posting Komentar