Dari Panggung Nasyid ke Dapur Donat: Dian, Seniman yang “Naik Kelas” Bersama Komunitas UMKM Depok
jabar-online.com | Jumat, 17 April 2026, 06:57 WIB | Her/DikRizal
— DEPOK | Suasana Pesona Square pada Kamis sore itu terasa berbeda. Selain diwarnai hangatnya momen Halal Bihalal, aroma manis donat yang baru matang menguar dari salah satu tenant yang cukup mencuri perhatian.
Di tengah hangatnya Halal Bihalal di Pesona Square, satu tenant sukses mencuri perhatian—bukan karena diskon besar, tapi karena donatnya bikin susah move on. Sosok di baliknya? Bu Dian, mantan penyanyi nasyid namun tetap aktif ini ternyata kini serius menekuni bisnis bakery rumahan.
— DEPOK | Suasana Pesona Square pada Kamis sore itu terasa berbeda. Selain diwarnai hangatnya momen Halal Bihalal, aroma manis donat yang baru matang menguar dari salah satu tenant yang cukup mencuri perhatian.Di balik etalase sederhana itu, berdiri sosok yang tak asing di dunia seni religi: Dian, penyanyi nasyid yang kini menjelma menjadi pelaku UMKM sukses di bidang donat dan bakery rumahan.
Dengan balutan gaya komunikasi yang santai namun penuh semangat, Dian tidak sekadar berjualan.
Ia membawa cerita—tentang perjalanan beralih dari panggung ke dapur produksi, dari mikrofon ke mixer adonan.
“Awalnya hanya coba-coba untuk tambahan penghasilan. Tapi setelah bergabung dengan komunitas UMKM di Depok, saya mulai paham arah bisnis yang benar,” tuturnya sambil melayani pembeli yang terus berdatangan.
Kehadirannya sebagai tenant di acara ini menjadi bagian dari geliat ekonomi lokal yang semakin terasa.
Produk donat buatannya mendapat respons positif dari pengunjung—tidak hanya karena rasanya, tetapi juga karena kisah di baliknya. Sebuah kombinasi yang kerap menjadi kunci dalam membangun brand UMKM yang kuat.
Acara ini sendiri bukan sekadar ajang silaturahmi. Di balik suasana hangat Halal Bihalal, terselip agenda strategis: pemberdayaan pelaku usaha.
Komunitas penggerak UMKM di Depok menunjukkan perannya sebagai “rumah kedua” bagi para pengusaha kecil, khususnya dalam hal pendampingan dan advokasi legalitas usaha.
Dalam sesi talkshow, sejumlah pelaku usaha yang telah menekuni bisnis hampir satu dekade berbagi pengalaman.
Mereka mengupas tantangan klasik—dari modal terbatas hingga pemasaran digital—serta strategi bertahan dan berkembang di tengah dinamika pasar.
Bagi Dian, komunitas bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang belajar yang konkret.
“Banyak pelaku usaha baru bingung harus mulai dari mana, termasuk soal legalitas. Di sinilah komunitas berperan penting,” ujarnya.
Lebih dari itu, ia mengaku mendapatkan dorongan mental yang signifikan. Dari yang awalnya ragu, kini ia semakin percaya diri mengembangkan usahanya.
Kolaborasi, menurutnya, menjadi kunci agar UMKM tidak berjalan sendiri-sendiri.
Ke depan, optimisme itu akan terus dirawat. Program lanjutan berupa pemberdayaan ekonomi dijadwalkan berlangsung pada 5–9 Mei mendatang di Kota Depok dengan nama Lebaran Kota Depok.
Agenda tersebut mencakup pendampingan usaha, penguatan materi pelatihan, hingga aktivitas ekonomi rutin yang dirancang untuk menjaga konsistensi pertumbuhan UMKM.
Di tengah hiruk pikuk acara, Dian tetap setia di balik meja dagangnya—sesekali tersenyum, sesekali berbincang dengan pelanggan.
Sebuah potret sederhana, namun sarat makna: bahwa UMKM bukan hanya soal bisnis, tetapi juga tentang perjalanan, keberanian, dan komunitas yang saling menguatkan.
Tags
BGN
Dapur MBG
Depok
Kota Depok
Kuliner
MBG
Organisasi
Organisasi APJI
Pemkot Depok
Pengusaha
UMKM
Wanita Pengusaha
