Maulid Akbar di Pondokgede: Lautan Selawat, Silaturahmi Ulama, dan Harapan Jamaah untuk Bekasi yang Berkah
jabar-online.com | Sabtu, 3 Oktober 2026, 21:05 WIB | NMR/DR
— PONDOKGEDE | Lantunan selawat, doa, dan pesan keteladanan Rasulullah Shalallahu Alayhi Wassallam mewarnai peringatan Maulid Akbar Nabi Muhammad Shalallahu Alayhi Wassallam di Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an wal Hadits, Jatiwaringin, Pondokgede, Kota Bekasi, Sabtu (3/10/2026).
Kalau Maulid Nabi hanya ramai oleh selawat, tetapi sepi dari keteladanan, rasanya ada yang kurang. Itulah pesan penting di balik peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondokgede, Kota Bekasi, Sabtu (3/10/2026). Kehadiran Wakil Walikota Bekasi Abdul Harris Bobihoe di tengah ulama dan jamaah menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa mencintai Rasulullah bukan sekadar urusan seremoni, melainkan juga soal akhlak dan tindakan nyata.
— PONDOKGEDE | Lantunan selawat, doa, dan pesan keteladanan Rasulullah Shalallahu Alayhi Wassallam mewarnai peringatan Maulid Akbar Nabi Muhammad Shalallahu Alayhi Wassallam di Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an wal Hadits, Jatiwaringin, Pondokgede, Kota Bekasi, Sabtu (3/10/2026).Bagi masyarakat muslim Pondokgede, khususnya jamaah majelis taklim dan lingkungan pesantren, pertemuan keagamaan ini bukan sekadar agenda tahunan. Maulid menjadi kesempatan berharga untuk mempererat tali silaturahmi, menimba ilmu dari para ulama, sekaligus menyegarkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW di tengah dinamika kehidupan masyarakat perkotaan.
Sejak pagi, kegiatan yang terbuka untuk masyarakat umum itu menghadirkan sejumlah tokoh agama, pengasuh pesantren, habaib, mubaligh, pejabat pemerintah, serta unsur masyarakat. Mereka berkumpul dalam satu majelis yang mempertemukan beragam latar belakang dalam suasana religius dan penuh keakraban.
Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina, Drs. KH. Abu Bakar Rakhzi, MA., menjadi tuan rumah bagi sejumlah tokoh nasional dan daerah yang hadir. Di antaranya Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA., Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Gus Kautsar, Dra. Hj. Badriyah Fayumi, Lc., MA., serta Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Qur’an, Dr. KH. Yusuf Mansur.
Hadir pula Habib Nabiel Al Musawa, Hj. Jazilah Annahdliyah atau Ning Jazil, Ustadz H. Salman Amrillah, sedianya Walikota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono akan hadir, tapi hanya Wakil Walikota Bekasi Abdul Harris Bobihoe. Tampak pula hadir, Ketua FKUB Kota Bekasi, H. Abdul Manan dan petinggi Dewan Majelis Syuro PKS, Ustadz H. Ahmad Syaikhu.
Kehadiran para tokoh tersebut memberi warna tersendiri bagi majelis yang mempertemukan kalangan ulama, pemerintah, dan jamaah. Namun, di tengah banyaknya tokoh yang hadir, esensi utama kegiatan tetap berada pada semangat bersama menghidupkan ajaran Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Wakil Walikota Bekasi Abdul Harris Bobihoe mengungkapkan rasa syukur dapat mengikuti peringatan Maulid sekaligus bersilaturahmi dengan para ulama dan masyarakat.
Menurutnya, kecintaan kepada Rasulullah SAW semestinya tidak berhenti pada lantunan selawat dan peringatan hari kelahiran beliau, tetapi juga tercermin dalam perilaku umat.
"Alhamdulillah, kita bersyukur bisa sama-sama hadir pada acara Maulid ini. Mudah-mudahan ini bagian dari kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW dan mengantarkan kita mendapatkan syafaat dari Baginda Rasulullah SAW," ujarnya.
Ia juga mengajak umat Islam meneladani akhlak Rasulullah, baik dalam kehidupan pribadi, rumah tangga, maupun dalam bermasyarakat dan bernegara.
Harris berharap nilai-nilai luhur tersebut dapat membentuk masyarakat yang berakhlak baik dan menjadi bagian dari ikhtiar bersama mewujudkan Kota Bekasi yang nyaman, sejahtera, serta diliputi keberkahan.
"Mudah-mudahan dengan itu, insyaallah, akhlak kita menjadi akhlak yang indah sebagaimana akhlak Baginda Nabi Muhammad SAW. Semoga ini membawa keberkahan untuk Kota Bekasi," katanya.
Dari Majelis Maulid Menuju Penguatan Ukhuwah
Di antara para tamu yang hadir, terdapat Kombes Pol Moh. Dofir, S.Ag., S.H., M.H., pengurus Badan Penanggulangan Terorisme dan Ekstremisme (BPTE) MUI Jawa Timur.
KBP Moh. Dofir, S.Ag., S.H., M.H., (BPTE MUI Jawa Timur) dan Dr. H. Abdul Harris Bobihoe (Wawali Bekasi), Sabtu, 3/10/2026
Kehadirannya memperluas dimensi pertemuan keagamaan tersebut. Selain menjadi ruang silaturahmi, majelis juga membuka kesempatan bagi tokoh agama, pesantren, dan unsur keamanan untuk memperkuat komunikasi dalam menjaga kehidupan masyarakat yang damai.
Dalam suasana akrab, Moh. Dofir terlihat berbaur dan berdialog dengan sejumlah ulama serta tokoh agama. Interaksi semacam ini memperlihatkan pentingnya pendekatan sosial dan keagamaan dalam membangun ketahanan masyarakat dari berbagai pengaruh ekstremisme.
Pesantren dan majelis taklim memiliki posisi strategis dalam upaya tersebut. Bukan hanya sebagai tempat belajar agama, keduanya juga menjadi ruang pembentukan karakter, penanaman nilai toleransi, penguatan persaudaraan, dan pendidikan moral bagi generasi muda.
Bagi jamaah majelis di Pondokgede, nilai-nilai tersebut memiliki arti yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di tengah masyarakat yang semakin majemuk dan tantangan sosial yang terus berkembang, pengajian dan majelis selawat dapat menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguat solidaritas sosial.
Di sinilah peringatan Maulid menemukan relevansinya. Kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW bukan semata-mata ekspresi spiritual, melainkan juga dorongan untuk membangun hubungan sosial yang lebih baik, saling menghormati, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
Harapan Jamaah: Keberkahan yang Terasa dalam Kehidupan
Bagi masyarakat muslim Pondokgede, keberkahan yang diharapkan dari peringatan Maulid tentu tidak hanya diukur dari meriahnya acara atau banyaknya tokoh yang hadir.
Lebih jauh, keberkahan itu diharapkan tumbuh melalui semakin kuatnya hubungan antara ulama dan umat, berkembangnya kegiatan keagamaan yang berkualitas, serta hadirnya perhatian nyata terhadap kebutuhan masyarakat.
Majelis taklim, pesantren, dan komunitas keagamaan di tingkat lingkungan merupakan bagian penting dari kehidupan warga. Mereka tidak hanya menyelenggarakan pengajian, tetapi juga berpotensi menjadi pusat pendidikan keluarga, pembinaan generasi muda, dan penggerak kegiatan sosial.
Karena itu, kehadiran pemerintah dalam kegiatan keagamaan seperti ini juga dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk membangun komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat.
Harapan agar Kota Bekasi menjadi kota yang nyaman dan sejahtera sebagaimana disampaikan Wakil Wali Kota akan semakin bermakna apabila berjalan beriringan dengan perhatian terhadap kehidupan keagamaan, pendidikan umat, dan kebutuhan sosial warga.
Peringatan Maulid Akbar di Pesantren Mahasina akhirnya menghadirkan pesan yang lebih luas daripada sekadar mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ada semangat untuk merawat persatuan, memperkuat hubungan antargenerasi, dan menjadikan ajaran Rasulullah sebagai pedoman dalam kehidupan bersama.
Bagi jamaah majelis dan masyarakat muslim Pondokgede, ukuran keberhasilan sebuah Maulid bukan hanya seberapa merdu selawat dilantunkan atau seberapa banyak tokoh yang duduk di panggung kehormatan. Yang jauh lebih penting ialah sejauh mana kecintaan kepada Rasulullah mampu melahirkan akhlak yang lebih baik, kepedulian sosial yang semakin kuat, dan kehidupan umat yang semakin bermartabat.
Sebab, keberkahan Maulid yang sesungguhnya tidak semestinya berakhir ketika majelis dibubarkan. Ia justru mulai diuji saat setiap jamaah kembali ke rumah, lingkungan, tempat kerja, dan kehidupan bermasyarakat. [■]






