iklan banner
iklan header
iklan header banner
Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Sertifikasi SPPG Jadi Momok? Arsyam: Bukan Salah Standarnya, Tapi Realitanya

iklan banner AlQuran 30 Juz

Perdebatan Program MBG Berskala Besar Tak Bisa Lepas Dari Tuntutan Standar Ketat  Ini Solusi Mudahnya

jabar-online.com | Senin, 13 April 2026, 22:30 WIB | Heri

 —  JAKARTA | Perdebatan soal potensi risiko keamanan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menegaskan satu realitas: program berskala besar memang tidak bisa lepas dari tuntutan standar yang ketat.

Namun, di balik kekhawatiran tentang keracunan, sertifikasi, hingga prinsip zero tolerance, muncul sudut pandang yang lebih aplikatif dari lapangan.

Arsyam Dwi Samto, Ketua Assesor Kompetensi dan Sertifikasi sekaligus Direktur Utama Pasatama Institute, melihat bahwa inti persoalan bukan pada benar atau tidaknya kekhawatiran tersebut.

Menurutnya, yang jauh lebih krusial adalah bagaimana solusi dihadirkan secara sederhana, cepat, dan bisa dijalankan oleh pelaku dapur tanpa beban berlebih.

Saya sepakat bahwa keamanan pangan adalah fondasi. Tapi kalau fondasi itu kita bangun dengan cara yang terlalu rumit, mahal, dan lama, maka pelaku di lapangan justru akan kesulitan mengejarnya,” ujar Coach Arsyam.

Menjembatani Standar dan Realita Lapangan
Dalam opini yang berkembang, keamanan pangan ditempatkan sebagai order qualifiersyarat mutlak yang tidak bisa ditawar. Coach Arsyam tidak membantah hal tersebut.

Namun, ia mengingatkan bahwa pendekatan yang terlalu kaku justru berpotensi menciptakan jurang antara standar ideal dan kondisi nyata dapur SPPG.

Ia menekankan pentingnya menghadirkan “jalur naik kelas” yang realistis.

Bukan sekadar menetapkan standar tinggi, tetapi juga menyediakan tahapan yang bisa diikuti secara bertahap oleh pelaku di lapangan.

Yang dibutuhkan bukan hanya standar tinggi, tapi tangga yang realistis untuk mencapainya,” katanya.

Pendekatan yang ia dorong meliputi:
  • pelatihan dasar pengolahan makanan (food handling)
  • uji kompetensi sederhana
  • hingga sertifikasi sistem seperti HACCP dan ISO

Dengan pola ini, sertifikasi tidak lagi menjadi momok, melainkan proses belajar yang bertingkat dan terarah.

Zero Tolerance Perlu Diimbangi Zero Barrier
Prinsip zero tolerance terhadap risiko keracunan tetap dianggap relevan. Namun, Coach Arsyam menambahkan satu prinsip penting lainnya: zero barrier.

Kalau kita ingin zero tolerance terhadap risiko, maka kita juga harus zero barrier terhadap akses pelatihan dan sertifikasi,” tegasnya.

Ia menyoroti bahwa kendala utama di lapangan sering kali bukan soal niat, melainkan hambatan teknis seperti:
  • biaya sertifikasi yang dirasa tinggi
  • keterbatasan akses pelatihan,
  • waktu yang tidak fleksibel,
  • minimnya pendampingan

Akibatnya, standar yang seharusnya menjadi kebutuhan justru terasa seperti tekanan.

Menghidupkan Sertifikasi, Bukan Sekadar Formalitas
Menjawab kekhawatiran bahwa sertifikasi hanya akan menjadi dokumen administratif, Coach Arsyam menegaskan bahwa nilai utama sertifikasi terletak pada perubahan perilaku kerja.

Sertifikasi yang efektif, menurutnya, harus:
  • berbasis praktik, bukan teori semata
  • mudah dipahami oleh pekerja dapur
  • bisa langsung diterapkan saat itu juga
  • disertai pemantauan berkelanjutan.

Kalau sertifikasi hanya jadi kertas, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi kalau sertifikasi mengubah cara orang bekerja di dapur, itu baru berdampak,” ujarnya.

Skala Besar Butuh Sistem yang Lentur
Dengan cakupan puluhan juta penerima manfaat, MBG menjadi salah satu program pangan terbesar.

Karena itu, pendekatan yang seragam dan kaku dinilai tidak relevan.

Menurut Coach Arsyam, sistem yang dibutuhkan justru harus:
  • adaptif terhadap kondisi daerah
  • fleksibel mengikuti kapasitas dapur
  • diterapkan secara bertahap
  • berbasis pendampingan, bukan sekadar inspeksi.

Ia bahkan menyindir secara halus, jika semua dapur dipaksa memenuhi standar internasional dalam waktu singkat, yang terjadi bukan percepatan—melainkan kepanikan bersama.

Solusi Akseleratif dari Pasatama Institute
Sebagai langkah konkret, Pasatama Institute mengembangkan model percepatan kompetensi yang lebih membumi, antara lain:
  • pelatihan cepat (fast track)
  • uji kompetensi berbasis praktik
  • sertifikasi bertahap
  • pendampingan dapur SPPG
  • simulasi HACCP sederhana

Pendekatan ini dirancang agar pelaku dapur merasa didampingi, bukan ditekan oleh standar yang tinggi.

Peringatan soal risiko MBG memang penting sebagai alarm kewaspadaan. Namun, seperti disampaikan Coach Arsyam, peringatan tanpa solusi hanya akan berhenti sebagai wacana.

Yang dibutuhkan bukan sekadar gambaran ideal, tetapi jalur nyata yang bisa dilalui.

Karena pada akhirnya, keberhasilan MBG bukan ditentukan oleh seberapa tinggi standar ditetapkan, melainkan seberapa luas standar itu benar-benar bisa dicapai di lapangan. [■]

Reporter: Hery / Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama