iklan banner gratis
iklan header banner iklan header iklan header banner
Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Demo Jadi Bentrokan Maut: Panser Brimob Panik Menerjang Makan Korban

Ketika Polisi Panik Ketakutan Di Tengah Amuk Demonstran, Pendemo Berjaket Ojol Tewas Dilindas Panser Brimob


 — JAKARTA | Senayan sore itu mendadak mirip panggung pesta rakyat. Bedanya, panggungnya jalan tol, dan MC-nya gas air mata. Acaranya tragedi demokrasi. 

Ribuan orang yang awalnya datang untuk unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR, pulang dengan mata merah, dada sesak, dan cerita pahit yang bisa dijual ke cucu-cucu kelak.


Polisi mengira gas air mata cukup untuk membuat massa bubar. Nyatanya, yang bubar justru pandangan dan pernapasan.


Massa bukannya pulang, malah membalas dengan kembang api dan petasan, membuat Senayan seperti pesta pergantian tahun yang datang lima bulan terlalu cepat.

Kembang api meletup di langit, disambut sorak-sorai pengunjuk rasa, sementara aparat di bawahnya sibuk bernafas di balik masker dan tameng.

Jalan Gatot Subroto macet total; tol dalam kota ditutup. Warga yang terjebak di tengah suasana itu cuma bisa mengelus dada sambil menghitung isi dompet: ongkos ojek online naik dua kali lipat.

Drama makin lengkap ketika sebuah rantis (kendaraan taktis) panser Brimob masuk ke kerumunan. Alih-alih jadi simbol ketegasan, kendaraan baja itu berubah jadi mesin salah arah.


Seorang pendemo berjaket hijau ojol tertabrak, lalu—entah karena panik atau karena lupa pelajaran lalu lintas—panser itu malah menambah gas, bukan rem. Massa pun murka.


Korban yang diketahui bernama MUA (30) akhirnya dilarikan dengan motor ke rumah sakit. Sayang, nyawanya tak tertolong.

Dari sinilah kericuhan berubah menjadi amarah. Panser yang tadinya gagah berubah jadi sasaran kemarahan.

Polisi di dalamnya tampak lebih ketakutan ketimbang massa yang berhadapan langsung dengan gas air mata.


Hingga malam, suara ledakan kecil dari petasan masih terdengar. Senayan seperti tidak tidur, hanya batuk-batuk dalam kabut putih sisa gas.

Aparat menyebut pengamanan dilakukan bertahap. Bertahap, ya, tapi entah tahap yang mana sampai ada nyawa melayang.


Unjuk rasa yang katanya damai akhirnya berakhir seperti ini: pesta asap, kembang api, dan satu korban jiwa.

Ironis, ketika rakyat hanya ingin suaranya didengar, yang terdengar justru letusan petasan, gas air mata, dan deru mesin panser yang salah alamat.

Namun saat berita ini sudah ditayangkan, kini Markas Komando Brimob Kwitang kini dikepung sekelompok pengendara OJOL berseragam jaket hijau akrilik.

Mereka tentunya menuntut keadilan agar pengendara panser anti huru-hara untuk segera dimintai pertanggungjawaban.

Sampai berita ingin ditayangkan, JabarOL tinggal publik menunggu penjelasan pihak humas POLRI, besok Jumat (29/8/2025). [■]


Reporter: A Tidung Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL


Iklan Paralax
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers

1 تعليقات

  1. Kita proses sesuai jalur Hukum
    Kapolri tdk cukup minta maaf

    ردحذف

إرسال تعليق

أحدث أقدم
banner iklan JabarOL square